METRO NASIONAL

Teknologi Arsitektur Minang Membawa Anak Menteri Widiyanti dari Harvard ke Sumbar

×

Teknologi Arsitektur Minang Membawa Anak Menteri Widiyanti dari Harvard ke Sumbar

Sebarkan artikel ini
Menpar Widiyanti dan kedua putrinya ke Istano Basa Pagaruyung

TANAH DATAR, METRO – Rumah gadang membawa Katrina Alysha Wardhana pulang ke sebuah ruang yang selama ini mungkin lebih banyak ia kenal melalui buku dan kajian arsitektur. Kali ini, ia datang langsung ke Sumatera Barat (Sumbar) menyusuri bangunan tradisional Minangkabau yang tengah menjadi bagian dari kajian tesis S2-nya di Harvard University.

Katrina merupakan putri bungsu Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana. Ia sedang menempuh program Master of Architecture di Harvard University dan memilih arsitektur tradisional Minangkabau sebagai bagian dari kajian akademiknya.

Kesempatan itu pula yang membuat Widiyanti mengajak kedua putrinya, Katyana Azlia Wardhana dan Katrina, menghabiskan dua hari satu malam di Ranah Minang. Bukan untuk agenda resmi kementerian, melainkan menemani sang anak melihat langsung objek yang sedang didalaminya.

Istano Basa Pagaruyung di Kabupaten Tanah Datar menjadi tujuan pertama. Di sana, Katrina melihat lebih dekat kemegahan rumah adat Minangkabau sekaligus mempelajari karakter bangunannya, termasuk teknologi rumah tradisional Minangkabau yang berkaitan dengan kondisi gempa.

“Kemarin ke Istana Pagaruyung. Anak saya kuliah arsitek di Harvard, ingin bikin skripsi tentang bangunan tradisional. Maka ingin belajar, saya ajak ke Istana Pagaruyung, Bukittinggi dan Desa Koto Gadang,” kata Widiyanti, Sabtu, (22/8/2026).

Baca Juga  Komentar Anam soal Bripka Ricky Rizal Berbalik Arah, Ferdy Sambo Siap-Siap Saja

Bagi Katrina, melihat langsung bangunan tradisional tentu memberi pengalaman berbeda dibanding mempelajarinya dari literatur. Detail bentuk, struktur dan ruang yang selama ini menjadi bagian dari kajian arsitektur kini berada di hadapannya.

Namun perjalanan itu tidak berhenti pada rumah gadang. Bersama sang ibu, Katrina melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi. Jam Gadang menjadi salah satu tempat yang mereka kunjungi, bahkan mereka berkesempatan melihat lebih dekat bagian bangunan tersebut.

Dari Bukittinggi, perjalanan berlanjut ke Koto Gadang, Agam. Di nagari yang dikenal dengan tradisi sulamannya itu, mereka bertemu Ketua Kelompok Sadar Wisata dan masyarakat setempat.

Di Amai Setia, Katrina duduk bersama para pengrajin. Ia mencoba menyulam selendang, merasakan langsung ketelitian yang dibutuhkan untuk menghasilkan karya sulaman khas Koto Gadang.

Pengalaman itu memberi warna lain pada perjalanan akademiknya. Jika rumah gadang mempertemukannya dengan arsitektur, sulaman memperlihatkan bahwa warisan budaya Minangkabau juga hidup melalui keterampilan tangan dan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.

Koto Gadang juga memperkenalkan sisi lain Minangkabau. Katrina dan ibunya mengetahui lebih jauh sejarah nagari tersebut yang telah melahirkan banyak tokoh penting dalam perjalanan Indonesia.

Mepar mengatakan perjalanan bersama anaknya itu pun bukan sekadar menemani sebuah penelitian. Ia sendiri terlihat menikmati setiap bagian perjalanan.

Baca Juga  Wajah Bahagia Ria Ricis dan Teuku Ryan, Gelar Pengajian 4 Bulan Kehamilan

Mengenakan pakaian adat Minangkabau di Istano Basa Pagaruyung dan mencoba menyulam bersama pengrajin menjadi pengalaman yang membekas bagi sang Menteri.

Menpar: Perempuan Dihormati di Minang

Ada satu hal yang secara khusus menarik perhatiannya yaitu, budaya matrilineal Minangkabau. “Bagi saya, hal yang paling menarik adalah matrilineal culture-nya, di mana seorang perempuan sangat berpengaruh dalam keluarga dan dihormati,” ujarnya.

Di titik ini, perjalanan ibu dan anak tersebut seperti menemukan dua cerita yang berbeda, tetapi bertemu pada satu tempat. Katrina datang dengan ketertarikan akademik. Ia ingin memahami arsitektur tradisional Minangkabau lebih dekat untuk memperkaya kajiannya di Harvard.

Sementara Widiyanti menemukan pengalaman personal tentang budaya yang menurutnya memiliki kekayaan nilai, termasuk cara masyarakat Minangkabau menempatkan perempuan dalam keluarga.

Dua hari satu malam memang singkat. Tetapi perjalanan itu membawa mereka melewati lebih dari sekadar destinasi. Istano Basa Pagaruyung, Jam Gadang dan Koto Gadang menjadi ruang untuk melihat arsitektur, sejarah, kerajinan dan kehidupan masyarakat Minangkabau secara langsung.

Perjalanan menemani sang buah hati Widiyanti justru menjadi kesempatan untuk kembali menikmati sekaligus mengagumi kekayaan budaya Minangkabau dari jarak yang lebih dekat. (Jef)