PESSEL/KEP. MENTAWAIMETRO NASIONAL

Mentawai Fast Kandas, Saatnya Jalur Udara ke Mentawai Dioptimalkan

×

Mentawai Fast Kandas, Saatnya Jalur Udara ke Mentawai Dioptimalkan

Sebarkan artikel ini
Mentawai Fast Kandas, Saatnya Jalur Udara ke Mentawai Dioptimalkan

PADANG, METRO – Satu kapal cepat kandas, ratusan orang harus menunggu dievakuasi. Dalam hitungan jam, perjalanan dari dan menuju Kepulauan Mentawai ikut terganggu.

Peristiwa Mentawai Fast yang kandas di perairan Padang, Jumat (14/8/2026), mungkin berakhir setelah seluruh penumpang berhasil dievakuasi. Namun, kejadian itu menyisakan pertanyaan. Bagaimana memastikan Mentawai tetap terhubung ketika laut sedang tidak bersahabat?

Pertanyaan ini penting karena Mentawai bukan sekadar wilayah kepulauan yang bergantung pada transportasi laut. Di balik lautnya yang luas, tersimpan salah satu kekuatan pariwisata Sumatera Barat yang sudah dikenal hingga mancanegara.

Sekretaris Jenderal Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI), Tipi Jabrik, mengungkapkan sekitar 50 persen wisatawan mancanegara yang datang ke Sumatera Barat menjadikan Mentawai sebagai tujuan utama, terutama untuk menikmati pengalaman berselancar di ombak kelas dunia.

Pernyataan tersebut memperlihatkan posisi Mentawai yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Bagi sebagian wisatawan mancanegara, khususnya peselancar, Mentawai bukan sekadar destinasi tambahan setelah berkunjung ke Padang. Mentawai adalah tujuan utama.

Karena itu, persoalan akses menjadi semakin penting. Wisatawan datang dengan jadwal perjalanan yang telah disusun. Operator wisata menyiapkan perjalanan, penginapan menunggu tamu, sementara masyarakat lokal menggantungkan sebagian aktivitas ekonominya pada pergerakan orang dari dan menuju Mentawai. Ketika transportasi laut terganggu, seluruh rantai tersebut bisa ikut terdampak.

Pegiat Pariwisata, Nofrins Napilus, mengatakan gangguan terhadap satu kapal saja dapat memengaruhi ritme aktivitas masyarakat yang bepergian dari dan menuju Mentawai.

Baca Juga  Demi IKN, Jokowi Akan Keluarkan 4 Perpres dan 2 PP

“Kami ikut prihatin dengan kandasnya kapal Mentawai Fast. Sekarang kandas satu kapal seperti ini, menjadikan ritme kerja orang ke dan dari Mentawai terganggu. Laut susah ditebak cuacanya. Makanya kalau pesawat ada setiap hari itu akan sangat membantu sekali,” ujarnya, Sabtu, (15/8/2026).

Menurut Nofrins, Mentawai memiliki potensi raksasa yang masih tidur. Potensi tersebut tidak cukup hanya dipromosikan, tetapi juga membutuhkan infrastruktur dan konektivitas yang mampu mengimbanginya.

Menariknya, pemerintah sebenarnya sudah memiliki modal untuk membangun jalur alternatif tersebut. Bandara Mentawai di Rokot Sipora Selatan memiliki runway sepanjang 1.500 meter dengan lebar 30 meter dan dirancang dapat melayani pesawat sekelas ATR 72.

Artinya, pintu udara menuju Mentawai sebenarnya sudah tersedia. Pekerjaan berikutnya adalah bagaimana menjadikan pintu tersebut lebih aktif dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus sektor pariwisata.

Penerbangan tidak harus menggantikan kapal cepat. Justru keduanya dapat berjalan berdampingan. Kapal menjadi jalur utama, sementara pesawat menjadi jalur kedua.

Saat laut aman, kapal tetap menjadi pilihan. Namun ketika gelombang tinggi atau kondisi lain membuat pelayaran terganggu, penerbangan dapat menjadi alternatif agar Mentawai tidak ikut terputus.

Karena itu, gagasan meningkatkan frekuensi penerbangan, bahkan menuju layanan setiap hari, layak dikaji pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan maskapai.

Baca Juga  Mulai 1 Agustus 2022, Pengiriman Pekerja Migran Indonesia ke Malaysia Dimulai Lagi

Tidak harus langsung dalam skala besar. Peningkatan frekuensi dapat dilakukan secara bertahap dengan melihat kebutuhan masyarakat, potensi wisatawan, tingkat keterisian pesawat, serta keberlanjutan rute.

Yang paling penting adalah kepastian akses. Bagi pariwisata, kepastian akses bukan persoalan kecil. Peselancar yang datang dari berbagai negara telah mengalokasikan waktu dan biaya untuk menikmati ombak Mentawai. Ketika akses laut terganggu dan tidak tersedia pilihan lain yang memadai, perjalanan mereka bisa ikut berubah.

Dampaknya pun tidak berhenti pada wisatawan. Ada penginapan, operator surfing, pemandu, restoran, transportasi lokal dan UMKM yang ikut bergerak ketika wisatawan datang.

Karena itu, insiden Mentawai Fast semestinya menjadi momentum bagi pemangku kebijakan untuk kembali melihat konektivitas udara Mentawai sebagai bagian dari strategi pariwisata sekaligus ketahanan transportasi daerah kepulauan.

Bandaranya sudah ada. Potensi wisatanya sudah mendunia. Pasarnya juga ada. Tinggal bagaimana konektivitas udara itu dihidupkan secara lebih optimal.

Sebab, Mentawai tidak hanya membutuhkan destinasi yang menarik. Mentawai membutuhkan lebih dari satu pilihan untuk sampai ke sana. Ketika laut bersahabat, kapal membawa masyarakat dan wisatawan menuju Mentawai.

Ketika laut tidak bersahabat, pesawat seharusnya tetap membuat Mentawai terhubung. Dan mungkin, dari sebuah kapal yang kandas, ada pelajaran yang lebih besar. Dan jangan biarkan akses menuju “potensi raksasa” Mentawai ikut terhenti hanya karena laut sedang bergelora. **