JAKARTA, METRO – 13 hari jelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, sektor pariwisata kembali membawa kabar menggembirakan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kepercayaan investor terhadap pariwisata Indonesia justru terus menguat.
Buktinya, merujuk data BPS: realisasi investasi sektor pariwisata pada Semester I 2026 telah mencapai Rp39,68 triliun, atau tumbuh 16,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kalau ditarik ke belakang, tren pertumbuhannya terlihat semakin jelas. Pada 2024, investasi pariwisata tercatat sebesar Rp35,32 triliun. Setahun kemudian, angkanya melonjak menjadi Rp53,92 triliun, atau naik 52,66 persen. Kini, memasuki paruh pertama 2026, laju pertumbuhan itu masih terus berlanjut.
Lalu, apa yang membuat investasi pariwisata terus bertumbuh?
Salah satu jawabannya adalah strategi yang dijalankan Kementerian Pariwisata di bawah kepemimpinan Menteri Widiyanti Putri Wardhana dalam membangun iklim investasi yang lebih terbuka, jelas, dan kompetitif.
Salah satu terobosan penting adalah peluncuran ‘Tourism Doing Business’, yang menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di kawasan Asia-Pasifik yang memiliki pedoman investasi pariwisata secara komprehensif.
Panduan berbasis riset ini menjadi semacam “peta jalan” bagi investor karena memuat berbagai informasi penting, mulai dari kondisi ekonomi global dan nasional, tren investasi termasuk ‘green investment’ dan ekosistem startup, regulasi, perpajakan, hingga peluang investasi di berbagai destinasi unggulan di Indonesia.
Kehadiran pedoman tersebut memberikan kepastian bagi calon investor sekaligus memperkuat daya saing Indonesia dalam memperebutkan investasi pariwisata di tengah persaingan global.
Strategi itu juga diperkuat melalui promosi investasi ke pasar internasional. Sepanjang 2025, Kementerian Pariwisata berpartisipasi dalam 19 kegiatan manajemen investasi global, termasuk menggelar Wonderful Indonesia Tourism Investment Meeting di Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Forum tersebut menjadi ruang pertemuan antara calon investor dengan berbagai peluang investasi pariwisata di Indonesia.
Tak hanya membidik investor luar negeri, Kementerian Pariwisata juga memperkuat pelaku usaha dalam negeri melalui program Wonderful Indonesia Scale Up Hub (WISH). Melalui program ini, UMKM pariwisata mendapatkan pendampingan berupa mentoring, pitching, hingga ‘business matching’ agar lebih siap menarik investasi dan memperluas jejaring usaha.
Melihat tren dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan investasi pariwisata tampaknya bukan sekadar lonjakan sesaat. Angka yang terus meningkat menunjukkan bahwa semakin banyak investor yang melihat Indonesia sebagai destinasi investasi yang menjanjikan.
Bukan hanya karena kekayaan destinasi wisatanya, tetapi juga karena ekosistem investasi yang semakin tertata, transparan, dan memberikan kepastian bagi dunia usaha.
Di sisi lain, tren positif investasi berjalan beriringan dengan kinerja kunjungan wisatawan yang tetap tumbuh. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, capaian tersebut menunjukkan ketahanan sektor pariwisata Indonesia kembali teruji.
“Rilis Berita Resmi Statistik BPS per 3 Agustus 2026 menegaskan bahwa di tengah badai geopolitik global dan disrupsi rute penerbangan di kawasan Timur Tengah yang menahan laju pasar Eropa dan Amerika, pariwisata Indonesia tidak sekadar bertahan, tetapi tetap mampu tumbuh,” ujarnya, Selasa, (4/8/2026)
Menurut Widiyanti, sepanjang Semester I 2026 Indonesia berhasil mencatat 7,45 juta kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat 5,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan itu, kata dia, ditopang oleh strategi reorientasi pemasaran dengan memperkuat pasar short-haul dan medium-haul di kawasan ASEAN, Asia, dan Oseania.
Strategi tersebut berhasil menjaga stabilitas kunjungan wisatawan, dengan Malaysia, Australia, Singapura, Tiongkok, Timor Leste, dan India menjadi enam pasar utama yang menyumbang 60,77 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Tak hanya itu, pergerakan wisatawan nusantara juga menjadi penopang penting. Berbagai stimulus, seperti program diskon angkutan, momentum libur sekolah, dan meningkatnya konsumsi masyarakat, mendorong terciptanya 630,41 juta perjalanan wisatawan nusantara pada Semester I 2026, atau naik 2,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah bukti bahwa ekosistem pariwisata Indonesia berada dalam kondisi yang sehat, adaptif, dan solid,” kata Widiyanti.
Ia menambahkan, capaian Semester I 2026 menjadi modal positif menjelang peringatan HUT ke-81 RI. Menurutnya, hasil tersebut merupakan buah dari kolaborasi Kementerian Pariwisata bersama seluruh pemangku kepentingan dalam membangun sektor pariwisata yang semakin berdaya saing sekaligus mampu memberikan manfaat ekonomi hingga ke daerah. **






