JAKARTA, METRO– Setiap wisatawan yang datang ke sebuah destinasi sejatinya tidak hanya membeli tiket perjalanan atau menyewa kamar hotel. Kehadirannya menghidupkan rantai ekonomi yang panjang. Mulai dari pedagang makanan kecil di sudut destinasi, pelaku UMKM, pemilik homestay, pemandu wisata, sopir transportasi, nelayan penyedia hasil laut, pekerja seni, hingga para pelaku industri kreatif. Inilah yang membuat sektor pariwisata dinilai sebagai industri dengan dampak ekonomi paling merata.
Pegiat Pariwisata Indonesia, Nofrins Napilus, menyebut pariwisata sebagai industri yang paling demokratis karena manfaat ekonominya mengalir hampir ke seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya dinikmati perusahaan besar. Keterlibatan yang mendapat manfaat secara luas, baik secara horizontal maupun vertikal.
“Industri pariwisata adalah industri yang paling demokratis. Dampak ekonominya tidak hanya dinikmati korporasi, tetapi hampir semua lini memperoleh bagiannya secara proporsional. Mulai dari penjaja makanan kecil, UMKM, homestay, penginapan, hotel, resort, pemandu wisata, pengelola objek wisata, transportasi darat, laut, udara, percetakan, biro iklan, media, kreator konten, biro perjalanan, hingga regulator, semuanya ikut bergerak,” ujar Nofrins, Jumat, 10 Juli 2026.
Baginya, meningkatnya industri pariwisata dipastikan akan juga ikut meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi daerah dan Indonesia.
Pandangan tersebut mendapat penguatan dari capaian terbaru sektor pariwisata nasional. Kementerian Pariwisata RI mencatat berbagai indikator menunjukkan tren yang terus membaik, sekaligus menegaskan pariwisata sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, strategi penguatan promosi, peningkatan konektivitas, serta pembangunan ekosistem pariwisata berhasil menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi dan dinamika geopolitik global.
“Capaian ini menjadi indikator bahwa pariwisata Indonesia memiliki daya tahan sekaligus tetap menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang penting,” kata Widiyanti.
Hingga Mei 2026, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 6,07 juta kunjungan, tumbuh 7,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara perjalanan wisatawan nusantara menembus 523,22 juta perjalanan, memperlihatkan bahwa pasar domestik tetap menjadi tulang punggung industri pariwisata nasional.
Bergairahnya sektor tersebut juga tercermin dari meningkatnya tingkat okupansi hotel berbintang menjadi 50,76 persen, sekaligus menjadi indikator meningkatnya aktivitas ekonomi di berbagai destinasi wisata.
Efek berganda pariwisata semakin terlihat melalui penyelenggaraan Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Sebanyak 23 event yang telah dievaluasi mampu menarik 1,34 juta pengunjung, menciptakan transaksi ekonomi langsung sebesar Rp90,53 miliar, melibatkan 10,61 ribu UMKM, 23,59 ribu pekerja seni, serta membuka lapangan kerja bagi sekitar 20,27 ribu orang.
Di tingkat internasional, promosi pariwisata Indonesia di Tiongkok, Korea Selatan, India, dan Malaysia sepanjang Mei–Juni 2026 juga menghasilkan potensi 36.807 perjalanan wisatawan, potensi transaksi Rp7,27 miliar, dan potensi devisa sekitar Rp559,48 miliar.
Bagi Nofrins, capaian tersebut menjadi bukti bahwa investasi di sektor pariwisata bukan sekadar mengejar peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, melainkan memperbesar perputaran ekonomi masyarakat.
“Semakin banyak wisatawan datang, semakin banyak pula masyarakat yang merasakan manfaatnya. Tidak ada sektor lain yang efek berantainya sedemikian luas. Inilah yang membuat pariwisata layak disebut sebagai industri paling demokratis,” katanya.
Karena itu, imbuhnya, penguatan promosi, konektivitas, penyelenggaraan event, serta pembangunan ekosistem pariwisata dinilai harus terus menjadi prioritas. Bukan hanya untuk mengejar target kunjungan wisatawan, tetapi juga memastikan setiap pertumbuhan sektor pariwisata benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan masyarakat, tumbuhnya UMKM, terbukanya lapangan kerja, dan bergeraknya ekonomi daerah dari akar rumput hingga pelaku usaha besar. **








