MENTAWAI, METRO – Mentawai membutuhkan pusat pertumbuhan ekonomi baru di sektor pariwisata bahari. Teluk Katurai (Katurei) dinilai ideal menjadi lokasi yang tidak sekadar dermaga tempat kapal datang dan pergi, melainkan sebuah pusat wisata bahari terpadu yang bisa menghubungkan Mentawai dengan Padang, Padang Pariaman hingga Bandara Internasional Minangkabau (BIM).
Pemerhati Mentawai sekaligus aktivis lingkungan Zukri Saad melihat Teluk Katurai (Katurei) di Kecamatan Siberut Barat Daya punya peluang strategis untuk mengambil peran tersebut. Teluk sepanjang sekitar enam kilometer itu dinilai dapat dikembangkan menjadi pusat pelabuhan pariwisata bahari sekaligus simpul logistik, transportasi dan ekonomi baru Mentawai.
Bayangannya cukup sederhana. Wisatawan yang tiba melalui BIM tidak perlu memutar panjang untuk masuk ke Mentawai. Dari Dermaga Muaro Anai disamping kawasan BIM perjalanan menuju Teluk Katurai diperkirakan dapat ditempuh sekitar 1,5 jam dengan kapal cepat 200 PK atau sekitar tiga jam menggunakan kapal cepat biasa.
Dari Katurai, perjalanan wisata kemudian bisa menyebar ke berbagai pulau dan destinasi. Di saat yang sama, kawasan ini dapat menjadi pusat suplai kebutuhan resort dan akomodasi, pusat pelatihan SDM wisata bahari, layanan kesehatan dan keselamatan, hingga ruang tumbuh bagi pelaku usaha pariwisata lokal.
“Apabila Teluk Katurai sudah dikemas, wisatawan mancanegara yang datang melalui BIM bisa langsung menuju Dermaga Muaro Anai kemudian dalam waktu singkat mencapai Pelabuhan Teluk Katurai. Ini akan menghemat waktu sekaligus memaksimalkan sumber pendapatan daerah,” kata Zukri, Rabu, (19/8/2026).
Menurut dia, gagasan tersebut membutuhkan kolaborasi lintas wilayah. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Pemko Padang dan Pemkab Padang Pariaman dapat bersama-sama membangun konektivitas transportasi dari Muaro Anai menuju Teluk Katurai.
Dengan begitu, arus wisatawan tidak berhenti sebagai perjalanan dari satu titik ke titik lain. Pergerakannya bisa membentuk rantai ekonomi baru, mulai dari transportasi, logistik, penginapan, pemandu wisata, kuliner hingga berbagai jasa pariwisata.
Teluk Katurai juga diproyeksikan menjadi pusat suplai logistik untuk kebutuhan resort dan akomodasi di Mentawai. Makanan, minuman, sayuran dan berbagai kebutuhan lainnya dapat dikonsolidasikan dari kawasan tersebut sebelum didistribusikan ke pulau-pulau tujuan wisata.
Tak berhenti di sana, Zukri membayangkan Katurai memiliki pusat pelatihan sumber daya manusia wisata bahari, fasilitas kesehatan, hyperbaric chamber, serta kantor perwakilan bersama bagi agen perjalanan dan pelaku akomodasi.
Pemerintah daerah juga dapat menyiapkan transportasi antar-pulau dari kawasan tersebut. Wisatawan yang tiba di Katurai bisa melanjutkan perjalanan untuk menikmati wisata bahari, budaya maupun kekayaan alam Mentawai.
Surfing Tetap Menjadi Episentrum
Di antara berbagai potensi itu, surfing tetap menjadi salah satu kekuatan utama wisata bahari Mentawai. Namun, menurut Zukri, potensi tersebut bisa dikembangkan bersama aktivitas lain seperti memancing, snorkeling dan wisata alam.
Dalam skema itu, Dermaga Muaro Anai menjadi salah satu pintu masuk wisata bahari Mentawai. Dari sana, wisatawan diarahkan menuju Teluk Katurai sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi.
“Setiap kapal dari berbagai resort wisata akan menjemput tamunya ke Teluk Katurai, sehingga kebocoran PAD bisa diminimalisir. Demikian juga kapal wisata boleh parkir di Katurai, tak perlu memadati pelahan Muara sepanjang jeda kehadiran wisatawan” ujarnya.
Zukri mengatakan, dirinya pernah melakukan survei selama 40 hari pada 1995 untuk mencari titik-titik surfing di Mentawai. Dari perjalanan tersebut, ditemukan sekitar 40-an titik surfing, sekitar 5 diantaranya berkembang menjadi kelas dunia, diantaranya ombak e-bay di selatan Siberut, ombak macarony yang bergolak di kawasan Pagai Utara, ombak membentur karang dalam yang indah di Katiet – dekat Sioban dan beberapa titik di kawasan Tatainopo Pagai Selatan, serta banyak lokasi lainnya yang tersebar hampir di seluruh Kepulauan Mentawai.
Tetapi Mentawai tidak hanya punya laut dan gelombang. Ada budaya Sikerei serta kehidupan zaman batu di dalam Taman Nasional Siberut, hutan alam yang masih menyimpan kekayaan hayati, serta berbagai flora dan fauna endemik yang tidak ditemukan di belahan dunia lainnya.
Empat primata endemik Mentawai menjadi salah satu kekayaan tersebut, yakni Bilou (Hylobates klossii), Simakobu (Simias concolor), Bokkoi (Macaca pagensis) dan Joja (Presbytis potenziani).
Bilou dikenal sebagai siamang kerdil dengan rambut hitam pekat dan suara khas. Simakobu memiliki ekor pendek menyerupai ekor babi. Sementara bokkoi merupakan jenis beruk Mentawai dan joja dikenal sebagai lutung Mentawai.
“Empat jenis primata endemik ini bisa menjadi daya tarik wisatawan seperti buaya besar di Pulau Komodo – Nusa Tenggara Timur,” kata Zukri.
Namun, semakin besar potensi wisata yang hendak dikembangkan, semakin besar pula tanggung jawab menjaga alamnya.
Karena itu, Zukri menekankan agar pengembangan Teluk Katurai tidak dilakukan dengan pendekatan pembangunan semata. Daya dukung dan daya lenting lingkungan harus menjadi pertimbangan sejak awal agar kawasan tersebut berkembang sebagai destinasi wisata berkelanjutan.
Ia juga menilai posisi Teluk Katurai yang berada di dalam teluk dapat menjadi salah satu aspek yang dikaji dalam perencanaan infrastruktur dan mitigasi kebencanaan, termasuk terkait ancaman megathrust. Menurutnya, hal tersebut tetap membutuhkan kajian teknis dan kebencanaan yang mendalam.
Pada akhirnya, gagasan tentang Teluk Katurai bukan hanya soal membangun pelabuhan. Yang dibayangkan adalah sebuah pusat pertumbuhan ekonomi baru. Tempat wisatawan masuk, logistik bergerak, usaha tumbuh, tenaga kerja lokal mendapat ruang dan perjalanan wisata menyebar ke berbagai penjuru Mentawai.
Jika dirancang dengan konektivitas yang tepat dan tetap berpijak pada kelestarian lingkungan, Teluk Katurai bisa menjadi lebih dari sekadar titik di peta. Ia bisa menjadi pintu baru bagi Mentawai untuk mengubah kekayaan alam dan budaya menjadi manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakatnya. (Jef)







