PADANG, METRO– Best Planter Indonesia (BPI) menggelar pelatihan peningkatan sumber daya manusia (SDM) perkebunan di Sumatera Barat. Sebanyak 119 pekebun sawit dari Kabupaten Pasaman Barat, Dharmasraya dan Agam mengikuti pelatihan dari BPI ini.
Pelatihan Gelombang 6 tersebut mencakup dua modul, yakni Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik yang berlangsung 10–13 Agustus 2026 serta Panen dan Pasca Panen pada 10–14 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Tahun 2026 yang didanai sepenuhnya Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dengan dukungan teknis Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).

Pembukaan pelatihan berlangsung di Ballroom Hotel Axana, Kota Padang. Kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat kapasitas pekebun, terutama dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi pengelolaan kebun serta kualitas hasil panen kelapa sawit.
Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Kementerian Pertanian yang diwakili Dr. M. Apuk Ismane, S.P., M.Si., menegaskan bahwa peningkatan sektor perkebunan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dan sarana prasarana. Menurutnya, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor kunci dalam mendorong kemajuan perkebunan.
“Teknologi dapat dibeli, sarana dan prasarana dapat dibuat, tetapi kuncinya ada pada pengembangan sumber daya manusia,” ujarnya.

Ia mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk membangun sinergi dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki, memperkuat kemitraan antara petani, pemerintah, swasta dan perbankan, serta menciptakan model bisnis perkebunan yang mandiri.
Selain itu, transformasi digital dinilai perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan tata kelola perkebunan. Pemerintah juga mendorong lahirnya lebih banyak petani muda yang modern dan mampu mengelola usaha perkebunan secara profesional.
Direktur Utama BPI yang diwakili Direktur Operasional BPI, Friyandito, S.P., M.M., mengatakan pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik berlangsung selama empat hari, sedangkan pelatihan panen dan pascapanen dilaksanakan selama lima hari.
Menurutnya, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teori, tetapi juga diarahkan agar mampu membuat dan memonitor perkembangan pupuk organik yang dapat diterapkan dalam pengelolaan kebun.
Sementara itu, pelatihan panen dan pascapanen diarahkan untuk memaksimalkan buah sawit yang dapat dipanen sekaligus menjaga kualitas tandan buah segar (TBS). Dengan demikian, hasil panen diharapkan dapat mencapai tonase maksimal dan memberikan harga jual yang optimal.
“Jangan ragu untuk bertanya. Narasumber berasal dari kalangan praktisi yang siap berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada peserta,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Dharmasraya yang diwakili Kabid Perkebunan Ipentri, S.H., mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah kegiatan berakhir, tetapi diterapkan dan dibagikan kepada pekebun lainnya.
“Kami berharap peserta dapat menyerap manfaat pelatihan sebesar-besarnya dan setelah kembali ke daerah dapat menjadi mentor bagi petani lainnya di Dharmasraya,” ujarnya.
Apresiasi serupa disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Agam, Heri Prasetyo Wibowo, S.P. Ia menggambarkan pekebun sawit sebagai pihak yang memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan usaha perkebunannya sendiri.
“Bapak dan ibu pekebun sawit sejatinya adalah seorang direktur yang memegang keputusan dalam pengelolaan kebunnya. Jadi, CEO yang menyamar,” katanya.
Menurutnya, pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik menjadi relevan di tengah kondisi harga pupuk yang masih menjadi tantangan bagi pekebun. Pemenuhan unsur hara yang tepat diharapkan mampu mendukung pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produksi buah sawit.
Begitu pula dengan pengetahuan panen dan pascapanen. Pekebun perlu memahami standar kualitas TBS agar buah yang dihasilkan memenuhi ketentuan dan memiliki nilai jual maksimal.
“Bagaimana memanen buah sawit sesuai standar kualitas bisa didapatkan ilmu dan praktiknya dalam pelatihan ini, sehingga harga jual TBS di tingkat pekebun bisa maksimal sesuai ketetapan harga dari Dinas Perkebunan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Pasaman Barat, Afrizal, S.P., M.Si., menyebut daerahnya mendapatkan satu kelas pelatihan panen dan satu kelas pelatihan pupuk.
Menurutnya, pertemuan pekebun dari tiga kabupaten dalam satu kegiatan juga menjadi kesempatan untuk memperkuat silaturahmi sekaligus bertukar pengalaman dalam mengelola perkebunan sawit.
Ia mengingatkan peserta agar mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan serius, menjaga sikap selama kegiatan maupun kunjungan lapangan serta menjaga kesehatan.
“Pelatihan ini bukan hanya untuk menambah ilmu, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi dan berbagi pengalaman. Terima kasih kepada BPDP yang telah mendanai dan memfasilitasi pelatihan ini,” katanya.
Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat, Ir. Afniwirman, menilai peningkatan kualitas SDM pekebun menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas perkebunan sawit rakyat.
Ia menjelaskan, luas kebun sawit swadaya di Sumatera Barat lebih besar dibandingkan kebun milik perusahaan swasta maupun negara. Namun, dari sisi produksi, produktivitas kebun swadaya masih relatif rendah.
Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, kata dia, adalah kualitas SDM pekebun. Karena itu, peningkatan kapasitas melalui pelatihan dinilai penting agar pengelolaan kebun menjadi lebih baik dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan pekebun.
Afniwirman juga menyoroti persoalan kualitas TBS saat buah diterima di pabrik kelapa sawit. Kualitas panen menjadi salah satu faktor penting yang menentukan harga yang diterima pekebun.
Selain peningkatan kualitas SDM, ia mendorong pekebun sawit swadaya memperkuat kemitraan dengan perusahaan, termasuk pekebun yang telah mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Kemitraan diharapkan dapat memberikan kepastian pasar sekaligus membuka peluang bagi pekebun memperoleh harga TBS sesuai ketetapan pemerintah daerah.
Ia menambahkan, pemerintah provinsi dan kabupaten perlu terus bersinergi sesuai kewenangan masing-masing, termasuk dalam pengembangan perkebunan dan investasi. Pemerintah, katanya, berkomitmen mendukung pekebun agar dapat membangun kemitraan yang sehat dengan perusahaan dan memperoleh harga TBS sesuai ketentuan hasil penetapan harga di tingkat provinsi.
Pelatihan yang diikuti 119 peserta dari Pasaman Barat, Dharmasraya dan Agam tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan peserta. Lebih jauh, kegiatan itu ditargetkan mampu mendorong perubahan praktik pengelolaan kebun, meningkatkan produktivitas dan kualitas TBS, serta memperkuat kesejahteraan pekebun sawit rakyat di Sumatera Barat. (*)






