MAX VERSTAPPEN akhirnya memastikan masa depannya di Formula 1. Pembalap asal Belanda itu memperpanjang kontraknya bersama Red Bull hingga akhir musim 2030. Keputusan tersebut sekaligus mengakhiri spekulasi mengenai kemungkinan Verstappen pindah tim atau bahkan meninggalkan ajang Formula 1.
Menariknya, keputusan untuk bertahan ternyata tidak datang dengan mudah. Verstappen mengaku sempat lebih dekat dengan opsi pensiun dibandingkan pindah ke tim lain.
Pernyataan itu disampaikan Verstappen dalam konferensi pers menjelang Grand Prix Belanda di Zandvoort. Ia menjelaskan bahwa perubahan regulasi mesin Formula 1 pada musim 2026 sempat membuatnya mempertanyakan masa depan. “Saya lebih dekat untuk pensiun daripada pindah tim,” ujar Verstappen.
Regulasi mesin baru memang menjadi salah satu sumber persoalan bagi Verstappen. Pembalap empat kali juara dunia tersebut merasa karakter mesin hybrid generasi terbaru membuat pengalaman mengemudi menjadi kurang menyenangkan.
Salah satu masalah yang paling dirasakan adalah pengelolaan energi. Pembalap harus terus melakukan pemulihan energi untuk mengisi baterai, sementara tenaga listrik juga harus digunakan secara strategis sepanjang balapan.
Situasi tersebut bahkan membuat mobil kehilangan tenaga dalam jumlah besar di trek lurus ketika baterai mulai kehabisan energi. Bagi Verstappen, kondisi itu mengurangi kesenangan dalam mengemudikan mobil Formula 1.
Setelah GP Jepang, Verstappen sempat secara terbuka mempertanyakan apakah dirinya masih menikmati olahraga tersebut. Ia bahkan membandingkan kehidupan sebagai pembalap dengan kesempatan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga dan teman.
Namun, situasi perlahan berubah. Formula 1 dan FIA mulai melakukan sejumlah penyesuaian terhadap regulasi mesin untuk mengurangi persoalan tersebut.
Mulai 2028, porsi tenaga dari mesin pembakaran internal akan ditingkatkan menjadi sekitar 60 persen, sementara tenaga listrik berada di kisaran 40 persen. Perubahan itu diharapkan membuat karakter mobil lebih sesuai dengan keinginan para pembalap.
Verstappen mengaku dirinya juga mulai beradaptasi dengan kondisi baru tersebut. Setelah melakukan pembicaraan dengan pihak Formula 1 dan FIA, ia melihat ada perkembangan positif.
“Saya mencintai balapan. Saya pikir kami perlahan bergerak menuju sesuatu yang semakin baik,” kata Verstappen.
Selain regulasi yang berlaku saat ini, pembahasan mengenai mesin generasi berikutnya juga ikut memengaruhi keputusan Verstappen. Ada kemungkinan mesin V8 kembali digunakan mulai 2031, meski bentuk akhirnya masih dalam pembahasan.
Setelah persoalan regulasi mulai menemui titik terang, Verstappen kemudian harus memilih antara bertahan di Red Bull atau mencari tantangan baru.
Mercedes disebut menjadi salah satu tim yang tertarik mendapatkan jasanya. McLaren juga sempat melakukan pembicaraan. Namun, Verstappen akhirnya memilih tetap bersama Red Bull.
Hubungan yang sudah terjalin lama menjadi salah satu alasan utama. Verstappen juga merasa Red Bull memberikan kebebasan untuk menjalani aktivitas balap di luar Formula 1, termasuk tampil di Nürburgring 24 Hours.
Faktor tersebut membuat Verstappen merasa nyaman berada di Red Bull. Ia juga memiliki hubungan terbuka dengan principal tim, Laurent Mekies.
Meski performa Red Bull belum maksimal pada musim 2026 dan Verstappen belum meraih kemenangan hingga menjelang GP Belanda, kepercayaan terhadap tim rupanya tetap kuat.
Kontrak baru tersebut kabarnya tetap memberikan Verstappen sejumlah kendali terhadap masa depannya, termasuk kemungkinan meninggalkan tim jika target performa yang disepakati tidak tercapai.
Namun, untuk saat ini, Verstappen memilih bertahan. “Saya selalu mengatakan bahwa target saya adalah mengakhiri karier di tim ini. Kami semakin dekat dengan tujuan tersebut,” ujar Verstappen.
Dengan kontrak hingga 2030, Verstappen kini memiliki kesempatan untuk melanjutkan era panjangnya bersama Red Bull sekaligus mengejar gelar juara dunia berikutnya. (jpg)






