AGAM — Bagi Siska, gempa yang terjadi pada 2025 bukan sekadar peristiwa yang pernah mengguncang tanah di tempat tinggalnya.
Peristiwa itu juga mengguncang dirinya.
Saat gempa terjadi, kepanikan menjadi sesuatu yang sulit dihindari. Seperti warga lainnya, Siska harus menghadapi situasi yang datang secara tiba-tiba. Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian, keselamatan diri dan keluarga menjadi hal pertama yang dipikirkan.
Namun, dari pengalaman itulah, perlahan muncul sebuah kesadaran.
Bencana tidak bisa selalu diprediksi kapan datangnya. Tetapi masyarakat dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Pengalaman sebagai seseorang yang pernah merasakan langsung situasi bencana akhirnya mendorong Siska untuk mengambil langkah berbeda. Ia tidak ingin hanya menjadi orang yang menunggu pertolongan ketika bencana datang.
Kini, Siska memilih untuk menjadi bagian dari mereka yang bergerak.
Ia menjadi relawan siaga bencana di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dari seorang warga yang pernah diliputi rasa takut saat menghadapi gempa, Siska kini ikut membangun kesiapsiagaan masyarakat di lingkungannya.
“Dulu, ketika gempa terjadi, kami tentu panik. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa ketika bencana datang, kita harus tahu apa yang harus dilakukan. Karena itu sekarang saya ingin belajar dan ikut membantu masyarakat agar lebih siap,” ujar Siska.
Perjalanan Siska menjadi relawan sejalan dengan semangat yang dibangun melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Desa Siaga Bencana PLN 2026.
Melalui program bertajuk “Srikandi Siaga Bencana: Penguatan Peran Perempuan sebagai Penggerak Ketangguhan Desa”, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Tengah atau PLN UIP Sumbagteng mendorong penguatan kapasitas masyarakat, khususnya perempuan, agar memiliki peran yang semakin aktif dalam membangun budaya sadar bencana.
Bagi Siska, dukungan tersebut bukan sekadar tentang perlengkapan kebencanaan.
Tas siaga, megafon, tenda pleton, tandu lipat, cangkul, dan berbagai perlengkapan pendukung lainnya memang menjadi sarana penting ketika kondisi darurat terjadi. Namun, lebih dari itu, program ini juga menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan harus dimulai dari manusia yang siap untuk bergerak.
Perempuan, dalam hal ini, memiliki peran yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
Di dalam keluarga, perempuan sering kali menjadi orang yang memastikan anggota keluarganya dalam keadaan aman. Di lingkungan sosial, perempuan juga dapat menjadi penyampai informasi, pengingat, sekaligus penggerak bagi masyarakat di sekitarnya.
Inilah yang ingin diperkuat melalui program Srikandi Siaga Bencana.
PLN UIP Sumbagteng membuka ruang yang lebih besar agar perempuan tidak hanya dipandang sebagai kelompok yang terdampak ketika bencana terjadi, tetapi juga sebagai bagian penting dari sistem kesiapsiagaan masyarakat. Semangat tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs Tujuan 5 tentang Kesetaraan Gender, melalui peningkatan peran dan kapasitas perempuan dalam menghadapi risiko bencana.
Asisten Manager Komunikasi dan TJSL PLN UIP Sumbagteng, Muhammad Jamil, mengatakan perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun ketangguhan masyarakat.
“Kami ingin perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga memiliki kapasitas dan peran aktif dalam kesiapsiagaan bencana. Ketika perempuan memiliki pengetahuan dan kesiapan yang baik, dampaknya dapat dirasakan hingga ke keluarga dan lingkungan masyarakat,” ujarnya.
Bagi Siska, menjadi relawan bukan berarti rasa takut itu telah hilang sepenuhnya.
Ia pernah merasakan sendiri bagaimana situasi dapat berubah dalam hitungan detik.
Namun kini, pengalaman tersebut justru menjadi alasan baginya untuk tidak tinggal diam.
Ketakutan yang dulu ia rasakan perlahan berubah menjadi keberanian untuk belajar. Pengalaman menghadapi gempa menjadi pengingat bahwa masyarakat harus saling menjaga. Dan dari sana, tumbuh keinginan untuk menjadi bagian dari mereka yang siap membantu ketika keadaan darurat terjadi.
Siska adalah satu dari perempuan-perempuan di Nagari Salareh Aia yang menunjukkan bahwa ketangguhan tidak selalu lahir dari seseorang yang tidak pernah mengalami ketakutan.
Justru terkadang, ketangguhan lahir dari mereka yang pernah merasakan ketakutan, lalu memilih untuk bangkit dan memastikan orang lain tidak harus menghadapi situasi tersebut sendirian.
Dari gempa yang pernah mengguncang kehidupannya pada 2025, Siska menemukan alasan untuk bergerak.
Hari ini, ia tidak hanya bersiaga untuk dirinya sendiri. Ia bersiaga untuk keluarga. Untuk tetangga. Untuk masyarakat. Dan untuk Nagari Salareh Aia yang ingin ia lihat semakin siap dan tangguh menghadapi berbagai kemungkinan bencana.
Karena bagi Siska, pengalaman pahit tidak harus berhenti sebagai kenangan.
Pengalaman itu bisa menjadi pelajaran.
Pelajaran bisa menjadi kesiapan.
Dan kesiapan, pada akhirnya, dapat menjadi kekuatan.
Dulu, Siska adalah warga yang ikut merasakan kepanikan ketika gempa datang.
Kini, ia menjadi salah satu perempuan yang memilih untuk berdiri, bergerak, dan membantu masyarakat menghadapi kemungkinan bencana.
Dari rasa takut, lahir keberanian.
Dari pengalaman, tumbuh kesiapsiagaan.
Dan dari Nagari Salareh Aia, Siska membuktikan bahwa perempuan juga dapat menjadi penggerak ketangguhan desa.(*)






