AGAM, METRO— Pemerintah Kabupaten Agam terus mempercepat pemulihan sektor pertanian setelah wilayah tersebut terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir 2025. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membangun 21 unit jaringan irigasi tersier di sejumlah kawasan pertanian terdampak.
Program tersebut mendapat dukungan anggaran dari APBN melalui Kementerian Pertanian dengan total nilai sekitar Rp2,1 miliar. Pembangunan irigasi diharapkan dapat mengembalikan fungsi lahan pertanian sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Agam, Heri Prasetyo Wibowo, mengatakan pemerintah daerah terus menjalankan berbagai program pemulihan agar lahan pertanian yang terdampak bencana dapat kembali dimanfaatkan secara optimal.
“kita saat ini menghadirkan program pemulihan usai pasca Bencana yang melanda Kabupaten Agam di akhir tahun 2025 yang lalu, berbagai terobosan terus kita maksimalkan agar lahan pertanian di 16 Kecamatan ini bisa Kembali beroperasi lagi,” katanya.
Menurut Heri, pembangunan 21 jaringan irigasi tersier menjadi salah satu langkah penting dalam mengembalikan produktivitas pertanian di Kabupaten Agam. Infrastruktur tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperbaiki saluran air yang rusak, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan indeks pertanaman.
Ia menyebut pembangunan irigasi menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk menghidupkan kembali areal pertanian yang terdampak bencana sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan di daerah.
Sebanyak 21 unit irigasi tersebut masing-masing mendapat alokasi anggaran sekitar Rp100 juta. Dana tersebut disalurkan langsung kepada kelompok tani untuk digunakan dalam pembangunan melalui mekanisme swakelola.
“Melalui sistem swakelola, masyarakat dapat berpartisipasi secara langsung. Cara ini tidak hanya mempercepat pembangunan infrastruktur pertanian, tetapi juga menjangkau daerah yang tingkat kerusakannya tergolong ringan,” katanya.
Program pembangunan irigasi tersier tersebut menyasar sejumlah wilayah terdampak bencana, yakni Kecamatan Tanjung Raya, Malalak, Palembayan dan Lubuk Basung.
Pelaksanaan pembangunan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama berlangsung 9 Maret hingga 9 Mei 2026, tahap kedua 27 April hingga 27 Juni 2026, sedangkan tahap ketiga dilaksanakan pada 13 Mei hingga 13 Juli 2026.
Sebelum pembangunan dimulai, pemerintah melakukan proses pengusulan dan verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi jaringan irigasi yang membutuhkan penanganan. Wilayah yang mengalami kerusakan akibat bencana menjadi prioritas penerima program.
Heri menjelaskan, kerusakan jaringan irigasi sebelumnya turut menghambat aktivitas petani. Gangguan terhadap saluran air membuat pengelolaan lahan tidak berjalan optimal dan berdampak pada produktivitas pertanian masyarakat.
“Kondisi tersebut sebelumnya menyebabkan produktivitas pertanian masyarakat setempat mengalami hambatan karena akses pengelolaan lahan menjadi terganggu,” katanya.
Dengan kembali berfungsinya jaringan irigasi, Pemkab Agam berharap petani dapat mengelola lahan secara lebih optimal. Ketersediaan air yang memadai juga diharapkan mendukung peningkatan indeks pertanaman serta menjaga keberlangsungan produksi pertanian.
Pembangunan infrastruktur irigasi ini menjadi bagian dari rangkaian pemulihan pascabencana di Kabupaten Agam. Pemerintah daerah berharap perbaikan sarana pertanian tersebut tidak hanya mempercepat pemulihan lahan, tetapi juga membantu menggerakkan kembali perekonomian masyarakat terdampak. (pry)






