AGAM, METRO—Pemulihan sarana pendidikan yang terdampak bencana hidrometeorologi di Kabupaten Agam terus berjalan. Dari 49 satuan pendidikan yang mengalami dampak bencana pada akhir 2025, dua sekolah kini telah menyelesaikan seluruh pekerjaan revitalisasi.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam, Andri, mengatakan progres pembangunan dua sekolah tersebut telah mencapai 100 persen.
“Bobot pekerjaan dua unit sekolah ini sudah 100 persen atau selesai dibangun,” kata Andri, Selasa.
Dua sekolah yang telah rampung direvitalisasi tersebut yakni SDN 19 Koto Tinggi, Kecamatan Tanjung Raya, dengan anggaran Rp67,24 juta dan SDN 19 Pasir Tinggi, Kecamatan Ampek Nagari, yang mendapat alokasi Rp284,92 juta.
“Dua sekolah ini dibangun dengan program revitalisasi dan dananya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026,” katanya.
Andri menjelaskan, secara keseluruhan terdapat 49 sekolah di Kabupaten Agam yang terdampak bencana. Untuk penanganannya, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp29,61 miliar.
Dana tersebut bersumber dari dua skema, yakni program bantuan pemerintah untuk revitalisasi sekolah terdampak bencana dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebesar Rp25,04 miliar serta dana Transfer ke Daerah (TKD) senilai Rp4,57 miliar.
Dari anggaran revitalisasi Kemendikdasmen sebesar Rp25,04 miliar, sebanyak 35 sekolah mendapatkan bantuan perbaikan. Rinciannya terdiri dari 11 Taman Kanak-kanak (TK) dengan total anggaran Rp6,78 miliar, 15 Sekolah Dasar (SD) sebesar Rp8,15 miliar dan lima Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan alokasi Rp10,10 miliar.
Sementara itu, dana TKD sebesar Rp4,57 miliar dialokasikan untuk penanganan 11 satuan pendidikan. Anggaran tersebut mencakup tiga TK, empat SD dan empat SMP.
Untuk jenjang TK, total anggaran mencapai Rp1,63 miliar. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan TK Cahaya Mecca di Kecamatan Tanjung Mutiara sebesar Rp775,20 juta, TK Aisyiyah Kecamatan Tanjung Raya Rp343,96 juta dan TK Al Hidayah Kecamatan Palupuh Rp518,51 juta.
Pada jenjang SD, anggaran sebesar Rp3,43 miliar digunakan untuk sejumlah pekerjaan. Di antaranya pembangunan toilet, kantor dan ruang kelas baru (RKB) SDN 09 Bancah, Kecamatan Tanjung Raya, dengan anggaran Rp2,38 miliar.
Selain itu, terdapat pembangunan DAM SDN 10 Angge Palimbatan Kecamatan Palupuh, pembangunan DAM SDN 07 Sigiran Kecamatan Malalak senilai Rp113,17 juta serta pembangunan toilet SDN 01 Campago Kecamatan Malalak sebesar Rp130 juta.
Untuk jenjang SMP, dana yang dialokasikan mencapai Rp982,12 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan DAM SMPN 2 Tanjung Raya sebesar Rp375 juta, DAM SMPN 4 Tanjung Raya Rp370 juta, DAM SMPN 4 Palupuh Rp186 juta serta pembangunan pagar SMPN 1 Ampek Nagari senilai Rp51,12 juta.
“Masing-masing sekolah dengan alokasi dana terkecil Rp51,12 juta dan terbesar Rp2,38 miliar,” katanya.
Andri mengatakan, dari 35 sekolah yang mendapatkan dana revitalisasi Kemendikdasmen, pekerjaan saat ini masih berlangsung. Tingkat progresnya bervariasi, mulai dari 40 hingga 95 persen.
Sedangkan pekerjaan yang dibiayai melalui dana TKD masih berada pada tahap penyusunan dokumen perencanaan. Setelah tahapan tersebut selesai, pekerjaan fisik akan segera dimulai.
“Dalam waktu dekat pekerjaan bakal dimulai dan berharap selesai sesuai dengan kontrak kerja,” katanya.
Program revitalisasi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah pusat memulihkan fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan akibat bencana. Perbaikan sarana dan prasarana sekolah dinilai penting agar proses belajar mengajar dapat kembali berlangsung dalam kondisi yang aman dan nyaman.
Menurut Andri, revitalisasi tidak sebatas mengembalikan kondisi bangunan seperti sebelum mengalami kerusakan. Program tersebut juga diarahkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih layak sehingga dapat mendukung proses pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan.
“Revitalisasi ini tidak hanya memperbaiki bangunan yang rusak, tetapi juga menjadi upaya menghadirkan lingkungan belajar yang lebih aman dan mendukung peningkatan mutu pendidikan,” katanya.
Pemkab Agam terus mengawal proses rehabilitasi seluruh sekolah yang memperoleh bantuan. Dengan dukungan pemerintah pusat serta percepatan pekerjaan di lapangan, seluruh fasilitas pendidikan yang terdampak diharapkan dapat segera kembali dimanfaatkan secara optimal oleh siswa dan tenaga pendidik.
Pemulihan tersebut diharapkan tidak hanya mempercepat kembalinya aktivitas belajar mengajar, tetapi juga memastikan peserta didik di wilayah terdampak bencana tetap memperoleh hak atas pendidikan dalam lingkungan yang aman dan layak. (pry)






