AGAM/BUKITTINGGI

Diduga Tak Sesuai Spek, Forum Peduli Canduang Soroti Site Mix Sabodam

×

Diduga Tak Sesuai Spek, Forum Peduli Canduang Soroti Site Mix Sabodam

Sebarkan artikel ini
DISOROT— Pembangunan bangunan pengendali lahar dan sedimen Gunung Marapi atau Sabodam di aliran Sungai Batang Jabua, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, mendapat sorotan dari Forum Peduli Canduang Koto Laweh.

AGAM, METROPembangunan bangunan pengendali lahar dan sedimen Gunung Marapi atau Sabodam di aliran Sungai Batang Jabua, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, mendapat sorotan dari Forum Peduli Canduang Koto Laweh.

Forum tersebut mempertanyakan pelaksanaan pengecoran yang disebut mengguna­kan sistem pencampuran beton di lokasi atau site mix. Mereka menduga metode tersebut berbeda dengan spesifikasi yang tercantum dalam Rencana Ang­garan Biaya (RAB) proyek.

Sekretaris Forum Peduli Canduang Koto Laweh, Budi Anda, mengatakan pihaknya menemukan adanya perbedaan antara dokumen perencanaan yang mereka peroleh dengan kondisi pelaksanaan di lapangan.

Menurut Budi, dalam RAB yang mereka temukan, pekerjaan pengecoran direncanakan menggunakan beton ready mix dengan mutu FC 20 dan FC 15. Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh dari pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V dan kontraktor, pengecoran di lapangan dilakukan dengan metode site mix.

“Ini menjadi pertanyaan bagi kami, kenapa yang sudah tertulis di RAB dan analisis pekerjaan tersebut dikerjakan dengan ready mix, kemudian diganti dengan site mix,” ujar Budi Anda didampingi Ketua Forum Peduli Canduang Koto Laweh, M. Ali Sabri di Sekretariat BPC, Sabtu (8/8).

Budi mengatakan, pihak forum telah menyampaikan se­jumlah temuan tersebut kepada BWS Sumatera V. Meski demikian, pihaknya menegaskan akan tetap melakukan pemantauan terhadap pekerjaan hingga proyek selesai.

Ia menilai pembangunan Sabodam memiliki arti penting bagi masyarakat di kawasan Canduang dan sekitarnya, terutama sebagai upaya mengendalikan material vulkanik Gunung Marapi apabila terjadi aliran lahar atau galodo.

“Kami mengapresiasi pemerintah yang telah mengalokasikan anggaran untuk pembangunan Sabodam ini. Proyek ini sangat penting untuk menahan sedimen Gunung Marapi jika terjadi galodo seperti yang pernah terjadi sebelumnya,” katanya.

Menurutnya, pengawasan yang dilakukan forum bukan bertujuan menghambat pembangunan. Sebaliknya, pengawasan diperlukan untuk memastikan proyek yang menggunakan anggaran besar tersebut dikerjakan sesuai perencanaan dan memiliki kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga  Pemkab Agam Dorong Nagari Gelar Kegiatan Wisata Sepanjang 2025

“Kami berharap mutu pro­yek ini betul-betul sesuai dengan yang telah direncanakan. Kalau pekerjaan dikerjakan asal-asalan dan tidak sesuai RAB, tentu akan berdampak terhadap masyarakat sekitar, terutama jika terjadi bencana galodo,” ujarnya.

Budi menambahkan, pihaknya telah mengonfirmasi penggunaan metode site mix kepada kontraktor pada 4 Agustus lalu. Saat itu, kontraktor disebut menjelaskan bahwa kendaraan pengangkut beton ready mix tidak dapat mencapai lokasi pengecoran karena kondisi jalan yang relatif sempit.

Atas kondisi tersebut, Forum Pe­duli Canduang Koto Laweh me­­minta BWS Sumatera V mem­­perketat pengawasan terhadap pelaksanaan proyek. Forum juga menyatakan akan terus memantau pekerjaan sampai pembangunan Sabodam rampung.

“Kami menuntut pihak BWS Sumatera V betul-betul mengawasi pekerjaan sesuai RAB yang telah direncanakan. Kami akan terus mengawasi proyek ini sampai selesai,” tegasnya.

Sementara itu, Konsultan Pelaksana proyek, Legiono, membantah dugaan bahwa pekerjaan pengecoran dilakukan dengan metode yang tidak memenuhi spesifikasi. Ia menjelaskan, metode pencampuran beton dapat menggunakan ready mix maupun batching plant lapangan atau yang mereka sebut batching plong.

“Kalau menggunakan batching plant, kita membeli beton ready mix dari pihak luar. Sedangkan batching plong, beton kita olah sendiri dan dibawa ke lokasi pengecoran menggu­na­kan truk mixer berukuran tujuh meter kubik,” jelas Legiono didampingi Kontraktor Pelaksana Subur Berkah KSO, Indra Affandi, Senin (10/8/2026).

Legiono memastikan beton yang digunakan tetap memenuhi mutu FC 15 dan FC 20 sesuai kebutuhan konstruksi. Pengujian dilakukan secara berkala untuk memastikan kualitas beton yang dihasilkan sesuai standar.

Menurutnya, setiap satu truk beton akan diambil satu sampel menggunakan cetakan silinder. Sampel tersebut kemudian diuji pada dua laboratorium untuk memastikan kualitas beton.

“Sampel silinder ini kita tes di dua laboratorium. Satu di laboratorium kita sendiri dan satu lagi kita bawa ke laboratorium UPTD untuk menentukan kualitas beton yang kita hasilkan,” ujarnya.

Baca Juga  Beri Dukungan Moril, Ketua LKKS Kabupaten Agam Jenguk Anak Menderita Lupus

Ia menambahkan, proses pengujian dilakukan dengan melibatkan kontraktor dan konsultan pengawas. Material yang digunakan dalam pembuatan beton antara lain pasir, split, dan semen yang diperoleh dari pemasok.

“Kita tidak menggunakan material setempat karena belum berizin. Kita menggunakan material dari supplier. Untuk memakai material setempat harus kita urus izinnya terlebih dahulu,” katanya.

Legiono menegaskan penggunaan sistem batching plong tidak berarti terjadi pengurangan kualitas beton. Menurutnya, setiap material yang digunakan tetap melalui pengawasan, sementara konsultan pengawas juga terlibat dalam memastikan mutu pekerjaan.

“Untuk mutu, walaupun ka­mi menggunakan batching plong, kami tidak mengurangi kua­litas. Material seperti pasir, split, dan semen sangat kami perhatikan. Konsultan pengawas juga berkomitmen menjaga mutu pekerjaan,” tegasnya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, terlihat sejumlah material konstruksi berupa semen, pasir, dan split yang ditumpuk di area proyek. Selain itu, terdapat satu unit truk mixer dengan kapasitas sekitar tujuh meter kubik serta satu unit ekskavator.

Tumpukan material tersebut berada sekitar 100 meter dari titik pengecoran. Akses menuju lokasi proyek juga terlihat dapat dilalui truk molen roda 10.

Bangunan Sabodam yang tengah dikerjakan tersebut dirancang memiliki tiga tingkat. Struktur Sabodam pertama memiliki lebar sekitar 20 meter, se­dangkan bagian paling ba­wah memiliki lebar sekitar 14 me­ter dengan ketinggian ba­ngu­­nan mencapai sekitar 12 me­ter.

Pembangunan Sabodam di Nagari Canduang Koto Laweh merupakan bagian dari proyek pe­ngendalian lahar dan sedimen dengan nilai sekitar Rp249,8 miliar. Proyek tersebut mencakup sejumlah lokasi di wilayah Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar.

Dengan adanya sorotan masyarakat dan klarifikasi dari pihak pelaksana, kualitas pekerjaan Sabodam menjadi perha­tian penting. Terlebih bangu­nan tersebut diharapkan mampu menjalankan fungsi perlin­du­ngan terhadap masya­ra­kat dari ancaman aliran lahar dan sedimen Gunung Marapi. (pry)