AGAM/BUKITTINGGI

Tak Sekadar Bangun Infrastruktur, Agam Fokus Pulihkan Kelompok Rentan Pascabencana

×

Tak Sekadar Bangun Infrastruktur, Agam Fokus Pulihkan Kelompok Rentan Pascabencana

Sebarkan artikel ini
AUDIENSI— Audiensi Pemkab Agam bersama Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kemen PPPA, Irjen Pol (Purn) Desy Andriani bersama Yayasan Pulih, di Rumah Dinas Bupati Agam, Senin (10/8).

AGAM, METROUpaya pemulihan pascabencana di Kabupaten Agam terus diperluas. Pemerintah daerah tidak hanya berfokus memperbaiki infrastruktur yang rusak, tetapi juga memberi perhatian pada perlindungan perempuan, anak, penyandang disabilitas serta kelompok masyarakat rentan lainnya.

Komitmen tersebut di­bahas dalam audiensi Pe­me­­rintah Kabupaten Agam­ dengan Deputi Bi­dang Perlindungan Hak Perempuan Kementerian Pemberda­yaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Irjen Pol (Purn) Desy Andriani, bersama Yayasan Pulih. Pertemuan berlangsung di Rumah Dinas Bupati Agam, Senin (10/8).

Bupati Agam, Benni Warlis, mengatakan daerahnya masih berada dalam fase pemulihan setelah bencana. Sejumlah sarana infrastruktur yang terdampak, termasuk jalan dan jembatan, mulai diperbaiki, namun masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan.

Menurutnya, pembangunan hunian tetap (huntap), persoalan lahan hingga pemulihan layanan pen­di­dikan melalui program Se­­­kolah Rakyat masih men­­­jadi bagian dari pekerjaan pemerintah daerah.

“Sekarang kita berada dalam masa pemulihan. Ada masyarakat yang ma­sih berada di huntara, ada yang sudah menerima DTH dan ada pula yang masih berada di kawasan terdampak bencana,” ujar Benni Warlis.

Ia menegaskan, proses pemulihan tidak dapat ha­nya diukur dari seberapa cepat infrastruktur kembali berdiri. Kondisi sosial ma­sya­rakat, pemulihan psi­kologis korban, serta kebutuhan kelompok rentan juga harus menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana.

Atas dasar itu, Pemkab Agam menyambut positif dukungan Kemen PPPA dan Yayasan Pulih yang ikut mendorong pemulihan masyarakat terdampak. Kolaborasi lintas lembaga dinilai dapat memperkuat penanganan agar tidak hanya menyasar kebutuhan fisik, tetapi juga persoalan sosial dan perlindungan masyarakat.

Benni juga menilai ke­ari­­fan lokal yang hidup di tengah masyarakat Agam da­pat menjadi kekuatan dalam proses pemulihan. Salah satu nilai yang dapat dikembangkan adalah konsep “Bangkik dari Surau”, yang menempatkan surau tidak sekadar sebagai tempat beribadah, melainkan juga sebagai pusat pendidikan, pembentukan karakter dan interaksi sosial masyarakat.

Baca Juga  Wabup Tampung Aspirasi Jamaah Masjid Shabar Simarasok

“Dengan bencana ini, kami sangat mendukung upaya pemulihan yang dilakukan bersama, dengan melibatkan tiga tali sapilin, yaitu niniak mamak, alim ulama dan cadiak pandai, serta bundo kanduang sebagai ibu bagi ma­sya­ra­kat,” jelasnya.

Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur tersebut diperlukan untuk memperkuat ketahanan sosial masyarakat. Dengan kola­bo­rasi tersebut, proses pemulihan diharapkan dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan dan tidak meninggalkan kelompok yang berada dalam kondisi rentan.

Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kemen PPPA, Irjen Pol (Purn) Desy Andriani, mengapresiasi Pemkab Agam yang membuka ruang dialog mengenai langkah pemulihan pascabencana. Ia menilai setiap bencana harus menjadi bahan evaluasi sekaligus momentum untuk membangun sistem perlindungan masyarakat yang lebih kuat.

Kemen PPPA, kata De­sy, ikut mengambil bagian dalam percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, khu­susnya dari sisi sosial. Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi dan keterlibatan sejumlah kementerian serta lembaga terkait.

“Dilihat dari timeline, September sampai akhir Desember harus tuntas dalam konteks PPRT,” ujar­nya.

Untuk memperkuat pe­lak­sanaan di lapangan, Kemen PPPA juga menggandeng sejumlah mitra pembangunan. Salah satunya Yayasan Pulih yang memiliki pengalaman da­lam pen­dampingan dan pe­mulihan masyarakat ter­dam­pak bencana.

Desy berharap dukungan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dapat memperlancar program tersebut. Dengan demikian, manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, te­­rutama perempuan, anak,­ penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya.

Direktur Eksekutif Yayasan Pulih, Livia Istania DF Iskandar, mengatakan lembaganya turut berkomitmen mendukung pen­ce­gahan serta penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pendampingan tersebut dilakukan baik ketika terjadi ben­­cana, pascakonflik mau­­pun dalam situasi normal.

Baca Juga  Bupati Agam Perkenalkan SPM, Danrem 032/WBR Berikan Respon Positif

“Pencegahan dan penanganan kekerasan terha­dap perempuan dan anak menjadi salah satu hal yang kami diskusikan, karena kekerasan dapat terjadi dalam konteks bencana maupun pascabencana,” jelasnya.

Saat ini, Yayasan Pulih menjalankan kegiatan di tiga wilayah, yakni Kabupaten Agam, Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Pelaksanaan program tersebut didukung tenaga pendamping yang bekerja langsung di lapangan.

Sebelumnya, Yayasan Pulih juga telah menjalankan program pemulihan psikososial selama kurang lebih enam bulan bagi korban banjir dan longsor di Tapanuli Selatan. Pengalaman tersebut menjadi ba­gian dari dukungan yang kini turut diarahkan ke Kabupaten Agam.

Bupati Agam menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Kemen PPPA dan Yayasan Pulih yang menjadikan Kabupaten Agam sebagai salah satu wilayah pelaksanaan program pemulihan. Menurutnya, kerja sama tersebut dapat menjadi tambahan kekuatan bagi pemerintah daerah dalam menghadapi berbagai persoalan pascabencana.

Ia berharap kolaborasi lintas pihak mampu mempercepat pemulihan ma­sya­­ra­kat secara menyeluruh. Pemulihan tersebut mencakup pembangunan fisik, kondisi sosial dan psikologis masyarakat, hingga penguatan perlindungan bagi kelompok rentan.

Audiensi tersebut se­kaligus mempertegas arah kebijakan Pemkab Agam untuk membangun sistem perlindungan perempuan dan anak yang lebih kuat, termasuk ketika ma­sya­rakat menghadapi situasi darurat maupun masa pe­mulihan pascabencana.

Melalui sinergi pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, mitra pembangunan serta unsur ma­syarakat, pemulihan di Ka­bupaten Agam diharapkan berlangsung secara inklusif. Tidak hanya memulihkan apa yang rusak akibat bencana, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan aman, terlindungi dan memiliki ketahanan yang lebih baik. (pry)