PEMERINTAH Kabupaten Agam terus memperkuat berbagai sektor untuk mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat setelah bencana hidrometeorologi. Upaya tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.
Sekretaris Jenderal KKP RI, Dr. Ir. Andy Artha Donny Oktopura, bersama jajaran, hadir langsung di Kabupaten Agam, Sabtu (1/8). Kedatangannya disambut Bupati Agam Ir. H. Benni Warlis, M.M.
Dalam kunjungan tersebut, KKP memberikan s)ejumlah dukungan untuk membantu masyarakat kembali menjalankan aktivitas produksi. Bantuan itu antara lain satu unit ekskavator untuk rehabilitasi kawasan kolam budidaya, dukungan benih ikan dan pakan, 60 unit alat penangkapan ikan bagi nelayan, jaring, cool box, peralatan pendukung, serta sarana pengolahan hasil perikanan.
Sebanyak 94 hektare kolam budidaya yang mengalami kerusakan ringan ditargetkan dapat kembali beroperasi secara penuh hingga September 2026.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Agam, Heri Prasetyo Wibowo, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kolaborasi pemerintah daerah dengan pemerintah pusat untuk mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat terdampak bencana.
“Bantuan ini menjadi bagian dari kolaborasi Pemerintah Kabupaten Agam dan pemerintah pusat untuk memastikan pemulihan tidak hanya memperbaiki kerusakan, tetapi juga mengembalikan produktivitas, mata pencaharian dan roda ekonomi masyarakat,” ungkap Heri.
Tak hanya sektor perikanan, Pemkab Agam juga menggenjot pemulihan sektor pertanian melalui pembangunan 21 unit saluran irigasi tersier di sejumlah daerah yang terdampak bencana hidrometeorologi.
Heri menjelaskan, pembangunan jaringan irigasi tersebut ditujukan untuk mengembalikan fungsi lahan pertanian sekaligus meningkatkan indeks pertanaman di wilayah terdampak.
“Langkah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memulihkan areal pertanian terdampak, sekaligus mendorong peningkatan indeks pertanaman di wilayah setempat,” ungkap Heri.
Menurutnya, pembangunan 21 unit irigasi tersebut menggunakan dana APBN melalui Kementerian Pertanian dengan total anggaran sekitar Rp2,1 miliar. Setiap unit memperoleh alokasi sekitar Rp100 juta dan pelaksanaannya diserahkan kepada kelompok tani melalui mekanisme swakelola.
“Melalui sistem swakelola, masyarakat dapat berpartisipasi secara langsung. Cara ini tidak hanya mempercepat pembangunan infrastruktur pertanian, tetapi juga menjangkau daerah yang tingkat kerusakannya tergolong ringan,” katanya.
Program tersebut menyasar kelompok tani di Kecamatan Tanjung Raya, Malalak, Palembayan, dan Lubuk Basung. Pembangunan dilaksanakan dalam tiga tahap, masing-masing pada 9 Maret–9 Mei, 27 April–27 Juni, serta 13 Mei–13 Juli 2026.
Sebelum pembangunan dimulai, pemerintah melakukan proses pengajuan usulan dan verifikasi lapangan. Prioritas diberikan kepada wilayah yang mengalami kerusakan jaringan irigasi akibat bencana.
“Kondisi tersebut sebelumnya menyebabkan produktivitas pertanian masyarakat setempat mengalami hambatan karena akses pengelolaan lahan menjadi terganggu,” jelas Heri.
Dengan perbaikan jaringan irigasi, pemerintah berharap akses pengelolaan lahan kembali normal, kegiatan pertanian dapat berlangsung secara berkelanjutan, dan produktivitas petani terdampak bencana segera pulih.
Selain memperbaiki infrastruktur pertanian, Pemkab Agam juga memberikan dukungan berupa benih padi. Sebanyak 1,95 ton benih disalurkan untuk membantu petani menggarap 78 hektare lahan yang terdampak bencana hidrometeorologi.
Heri mengatakan, bantuan tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah mempercepat pemulihan sektor pertanian setelah bencana yang melanda sejumlah wilayah.
“Benih padi telah disalurkan pada 21 Juli 2026 dan ini tanpa biaya. Saat ini, bantuan menyasar ke sejumlah titik terdampak seperti Kecamatan Tanjung Raya dan Palembayan,” ungkap Kepala Distan Agam.
Bantuan benih diberikan kepada tujuh kelompok tani yang telah terdata dalam Sistem Informasi Penyuluhan Pertanian (Simluhtan). Kelompok penerima tersebar di Kecamatan Tanjung Raya dan Palembayan.
“Masing-masing kecamatan penerima manfaat bantuan yaitu Tanjung Raya dengan 4 kelompok sekitar 950 kg untuk 38 hektar lahan, sedangkan Palembayan dengan 3 kelompok sekitar 1 ton untuk luas lahan 40 hektar,” terangnya.
Bantuan benih tersebut bersumber dari TKD APBD Kabupaten Agam dengan nilai sekitar Rp46,8 juta. Bantuan disalurkan dalam bentuk benih padi kepada kelompok tani penerima.
“Dengan tersalurkannya bantuan ini diharapkan agar petani dapat memanfaatkannya untuk kegiatan budidaya, sehingga produksi padi terjaga dan petani yang terdampak dapat kembali berproduksi,” ujarnya.
Selain menyediakan sarana produksi, pemerintah daerah juga berkomitmen memberikan pendampingan kepada kelompok tani penerima melalui tenaga penyuluh pertanian yang berada di lapangan.
Sementara itu, Analis Fungsional Ketahanan Pangan Distan Agam, Miswarni, mengatakan pemerintah juga menyiapkan bantuan pupuk bagi tujuh kelompok tani penerima bantuan benih.
Pupuk yang diusulkan terdiri dari NPK dan Urea. Total terdapat 468 karung yang masuk dalam usulan bantuan, dengan rincian 312 karung pupuk NPK dan 156 karung pupuk Urea.
“Pupuk yang diusulkan terdiri atas dua jenis, yakni NPK dan Urea. Secara keseluruhan terdapat 468 karung pupuk yang masuk dalam usulan bantuan dengan rincian, 312 karung merupakan pupuk NPK dan 156 karung berupa pupuk Urea,” terangnya.
Miswarni menyebutkan, bantuan pupuk tersebut ditargetkan mulai disalurkan sekitar September 2026. Saat ini, proses pengadaan masih dalam tahap pengusulan, dengan kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai Rp445 juta.
“Dukungan berupa benih dan pupuk tersebut diharapkan dapat membantu petani terdampak bencana dalam memulihkan kegiatan usaha tani secara bertahap,” ulasnya. (***)






