BERITA UTAMA

Perkuat Pengawasan RAPBN 2027, DPR Tekankan Belanja Negara Harus Ciptakan Perubahan

×

Perkuat Pengawasan RAPBN 2027, DPR Tekankan Belanja Negara Harus Ciptakan Perubahan

Sebarkan artikel ini
KONFERENSI PERS— Konferensi Pers RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027.

JAKARTA, METROAnggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti, mendo­rong penerapan pendekatan transformation governance dalam pengawalan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Menurutnya, pengawasan anggaran tidak seharusnya hanya berfokus pada tingkat penyerapan dana atau penyelesaian proyek. Lebih dari itu, se­tiap belanja negara harus mampu menciptakan perubahan struktural dan memperkuat kapasitas nasional.

Azis menilai RAPBN 2027 memuat agenda transformasi yang cukup besar, mulai dari sektor kesehatan dan pendidikan hingga energi, hilirisasi, industrialisasi, ekonomi kerakyatan, serta penguatan kapasitas investasi nasio­nal.

“Pertanyaannya bukan hanya berapa besar negara membelanjakan uang, tetapi seberapa pro­duktif negara mengubah belanja tersebut menjadi kapasitas baru,” kata Azis kepada wartawan, Minggu (23/8).

Dalam RAPBN 2027, pemerintah memproyeksikan pendapatan negara mencapai Rp 3.426 triliun, sementara belanja negara direncanakan sebesar Rp 4.097,2 triliun. Adapun pembiayaan diperkirakan sekitar Rp 671,2 triliun de­ngan defisit anggaran sebesar 2,40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Baca Juga  Penetapan Jokowi, Prabowo belum Pasti Hadir

Dengan postur fiskal yang ekspansif tersebut, Azis menilai diperlukan perubahan cara pandang dalam melakukan pengawasan. Ia mengusulkan agar proses pengawasan dilakukan secara berjenjang, mulai dari input, output, outcome, perubahan struktur, hingga terbentuknya kapasitas nasional. “Selama ini kita sering berhenti pada berapa anggarannya, berapa yang ter­serap dan apakah proyek selesai. Untuk transformasi, itu baru permulaan,” ujarnya.

Selain memperkuat pengawasan, Azis menilai pemerintah perlu membangun manajemen ekspektasi publik terkait agenda transformasi. Ia menjelaskan bahwa sejumlah program seperti pembangunan manusia, reformasi sektor komoditas, dan industrialisasi membutuhkan waktu sebelum dampaknya dapat dirasakan secara luas. Karena itu, pemerintah perlu menyampaikan tujuan kebijakan, tahapan pelaksanaan, risiko, serta indikator keberhasilannya secara terbuka.

“Ini bukan soal propaganda. Justru masyarakat perlu mendapat penjelasan yang jujur tentang mengapa sebuah kebijakan dijalankan, bagaimana hubungannya dengan kebijakan lain, serta kapan hasilnya dapat diharapkan,” jelas Azis.

Baca Juga  Pemilik 22 Paket Ganja di Pasbar Ditangkap Malam

Azis menegaskan, RAPBN 2027 berpotensi menjadi instrumen penting untuk mendorong transformasi nasional apabila berbagai agenda pemerintah dapat terhubung hingga tahap implementasi.

Ia mengingatkan, ga­gasan besar dapat kehilangan dampaknya apabila diterjemahkan menjadi proyek-proyek yang berjalan secara terpisah dan hanya dinilai berdasarkan capaian masing-masing.

“Transformasi sering gagal bukan karena kekurangan gagasan, tetapi karena gagasan besar terpecah menjadi proyek-proyek kecil, dikerjakan dan diukur sendiri-sendiri, lalu kehilangan hubungan dengan tujuan awalnya,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Azis, pengawalan RAPBN 2027 harus diarahkan bukan sekadar untuk memastikan anggaran terserap, tetapi memastikan belanja negara menghasilkan perubahan yang berkelanjutan. “Yang sedang kita kawal bukan hanya anggaran negara. Yang sedang kita kawal adalah kemampuan negara mengubah dirinya sendiri,” pungkasnya. (jpg)