JAKARTA, METRO–Pemerintah memastikan stok beras nasional mencapai rekor dalam sejarah Indonesia, yakni mencapai 5,37 juta ton. Kondisi ketersediaan stok ini diprediksi aman saat menghadapi musim kemarau.
“Serapan beras Januari hingga 18 Mei mencapai 2,8 juta ton dan stok nasional mencapai 5,37 juta ton. Ini merupakan stok tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia,” kata Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono saat Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/5).
Pria yang akrab disapa Mas Dar itu menilai capaian tersebut menunjukkan ketahanan pangan Indonesia semakin kuat di tengah tantangan global, mulai dari perubahan iklim hingga konflik internasional yang memengaruhi pasokan pangan dunia.
Menurutnya, pemerintah terus memperkuat kemandirian pangan melalui penyerapan gabah, perlindungan petani, dan penguatan cadangan beras pemerintah.
“Indonesia terus memperkuat kemandirian pangan nasional agar kebutuhan masyarakat tetap terjamin dalam kondisi apa pun,” ujarnya.
Sudaryono yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu menjelaskan, produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,69 juta ton. Jumlah tersebut naik 4,07 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan tahun 2024.
Ia menyebut peningkatan produksi tersebut tidak lepas dari arahan Presiden, dukungan DPR RI, serta kerja keras para petani di seluruh Indonesia.
“Produksi beras tahun 2025 mencapai 34,69 juta ton atau naik 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” jelas Sudaryono.
Meski stok beras meningkat, pemerintah tetap mewaspadai ancaman musim kemarau panjang pada 2026.
Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau mulai terjadi sejak April di wilayah Nusa Tenggara dan diperkirakan meluas ke berbagai daerah lain dengan puncak kemarau pada Agustus.
Untuk mengantisipasi dampaknya terhadap produksi pangan, pemerintah memperkuat cadangan beras nasional agar pasokan dan harga tetap stabil.
Pemerintah juga telah menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah Beras Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah Tahun 2026–2029.
Melalui kebijakan tersebut, Perum Bulog ditargetkan menyerap gabah setara 4 juta ton beras dengan harga pembelian gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram di tingkat petani.
Di sisi lain, perlindungan terhadap petani terus diperkuat melalui kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Saat ini, rata-rata harga gabah di tingkat petani mencapai Rp6.815 per kilogram atau sekitar 4,85 persen di atas HPP yang ditetapkan pemerintah.
Kementerian Pertanian, lanjut Sudaryono, sangat optimistis target serapan beras dapat tercapai karena potensi panen nasional masih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Pada Mei 2026, potensi panen diperkirakan mencapai 929 ribu hektare atau setara 2,75 juta ton beras. Sedangkan Juni diperkirakan mencapai 841 ribu hektare atau setara 2,47 juta ton beras. (jpg)





