BERITA UTAMA

Duka Petani Korban Bencana di Limapuluh Kota, Panen Padi Seminggu lagi Tinggal Mimpi

×

Duka Petani Korban Bencana di Limapuluh Kota, Panen Padi Seminggu lagi Tinggal Mimpi

Sebarkan artikel ini
BENCANA— Anggota DPRD Lima Puluh Kota Fajar Rillah Vesky bersama petani yang gagal panen padi akibat bencana banjir.

LIMAPULUH KOTA, METROBencana hidrometrologi yang terjadi di Kabupaten Limapuluh Kota,  dalam beberapa hari terakhir, tidak hanya memunculkan lubang besar mirip sinkhole dan berakibat fatal terhadap sejumlah infrastruktur umum. Tapi juga merusak puluhan hektare areal pertanian. Bahkan merusak tanaman padi yang siap untuk dipanen.

Di antara kawasan pertanian yang rusak akibat bencana ini, berada di Jorong Sawahlaweh dan Jorong Sialang, Nagari Tungkar, serta Jorong Lokuang dan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari.  Se­lain rusak karena longsor dan tanah terban, kawasan pertanian ini juga diren­dam banjir bandang dan luapan air sungai Batang Sandir.

Petani di Nagari Tung­kar, Efa dan Yusni Ancok, sangat berharap bantuan dari pemerintah. Sebab, sawah garapan mereka, diketahui rusak akibat dilanda banjir bandang dan direndam luapan air Sungai Batang Sandir, Kamis pagi (14/5). Padahal, sa­wah yang ditanami padi itu, sudah diap untuk dipanen.

Baca Juga  Golkar-PSI Bangun Koalisi, Usung Kaesang di Pilgub Jakarta, Ridwan Kamil di Pilgub Jabar

“Awak ka manyabik sapokan lai. Tapi, ba”a lai. Tibo banjir. Abih sadonyo (Saya mau panen seminggu lagi. Tapi mau bagaimana lagi. Datang banjir. Ha­bis semuanya,” kata Efa berlinang air mata, saat melihat sawahnya yang terendam banjir, Jumat siang (15/5).

Hal yang sama juga dirasakan petani lainnya, Yusni Ancok. “Rencana, saya Sabtu besok mau menyabit padi (panen). Tapi, sudah duluan air yang memanen. Banyak kerugiannya. Pupuk saja habis empat karung. Belum lagj, upah membajak sawah,” kata Yusni Ancok.

Menurut tokoh ma­sya­rakat setempat, Fakhrizal atau Pak Ce, sawah yang gagal panen di Jorong Sa­wahlaweh, Nagari Tungkar ini,  akibat meluapnya Sungai Batang Sandir.

“Luapan air sungai ini memang dasyat. Bahkan, dangau di tengah sawah, hanyut dibuatnya. Pipa Pamsimas juga putus,” kata Fakhrizal, sambil me­nunjukkan lokasi yang diceritakannya.

Anggota DPRD Lima­puluh Kota, M Fajar Rillah Vesky yang meninjau ke lokasi kejadian, meminta pemda setempat segera menetapkan status tanggap darurat. Karena bencana alam yang terjadi, selain meluas di berbagai kecamatan, juga menganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat. Se­kaligus membutuhkan tindakan segera dan memadai.

Baca Juga  Kawanan Garong Mengamuk di Planet Fitnes Padang

“Pemkab Limapuluh Ko­ta harus segera menetapkan status tanggap da­rurat, untuk melegalisasi pengunaan Biaya Tak Terduga (BTT) sebesar Rp2,5 miliar yang terdapat dalam pos belanja APBD 2026. Sekaligus untuk memobilisasi bantuan dari berbagai pihak, seperti BNPB, Pemprov Sumbar dan BWS Su­matera V,” kata M. Fajar Rillah Vesky.

Terkait dengan areal per­tanian masyarakat yang rusak akibat bencana, Fajar sudah berkomunikasi dengan Bupati Limapuluh Kota Safni Sikumbang dan Kadistanhorbun Witra Porsepwandi.

Menurut Witra, petugas penyuluh lapangan di Situjuah Limo Nagari, sudah meninjau areal pertanian dan irigasi yang rusak akibat bencana alam, untuk mendata potensi kerugian dan mengambil langkah penangangan selanjutnya. (uus)