PADANG, METRO–Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Fauzi Bahar, melakukan kunjungan ke salah satu universitas Islam di China pada Kamis (14/5). Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian agenda resmi ke sejumlah kota besar di negara tersebut.
Kepada wartawan, Jumat (15/5), Fauzi Bahar mengungkapkan bahwa pemerintah China menunjukkan perhatian besar terhadap generasi muda, termasuk dalam hal pendidikan dan pemahaman keagamaan.
Ia menilai semangat menuntut ilmu yang ditanamkan kepada anak muda di China sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk terus belajar tanpa batas.
“Menurut Islam, semua orang haruslah terus menuntut ilmu, dan seperti kita ketahui pepatah yang sangat populer adalah ‘Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Fauzi Bahar juga memaparkan kondisi umat Muslim di China. Ia menyebut jumlah Muslim di negara tersebut mencapai sekitar 25,9 juta jiwa atau kurang dari dua persen dari total populasi.
Mayoritas Muslim di China berasal dari kelompok etnis minoritas, terutama suku Hui dan Uighur. Konsentrasi terbesar berada di wilayah barat laut seperti Xinjiang dan Ningxia.
Ia menambahkan, fasilitas bagi umat Muslim di China cukup memadai. Masjid dapat ditemukan di berbagai kota besar seperti Shanghai dan Chengdu, sementara kebutuhan makanan halal juga relatif mudah dipenuhi, terutama di lingkungan kampus.
Dalam perjalanan tersebut, Fauzi Bahar bersama rombongan juga mengunjungi Danau Kanas yang berada di Prefektur Altay, Xinjiang. Danau ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di China dengan panorama alam yang menakjubkan.
Danau Kanas terletak di wilayah utara Xinjiang, dekat perbatasan Mongolia, Kazakhstan, dan Rusia. Kawasan ini dikelilingi pegunungan bersalju dan hutan lebat, sehingga kerap dijuluki sebagai “Swiss-nya Asia”.
“Kami bersama rombongan ke Danau Kanas dengan salju yang masih terbentang di atas ketinggian sekitar 3.700 meter di atas permukaan laut. Peradabannya mirip seperti Turki, dengan suasana makan malam yang bernuansa keislaman,” ungkapnya.
Kunjungan ini diharapkan dapat memperkuat wawasan serta mempererat hubungan budaya dan keilmuan, khususnya bagi masyarakat Minangkabau dalam melihat perkembangan Islam di berbagai belahan dunia. (rom)





