SAWAHLUNTO, METRO–Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meneliti dan menetapkan 18 situs geologi di Kota Sawahlunto sebagai calon warisan geologi atau geoheritage yang akan memperkuat pengembangan Geopark Sawahlunto bertajuk “The Windows of Ombilin Basin”. Langkah ini bagian penting dalam pengembangan wisata edukasi, konservasi geologi, hingga penguatan ekonomi masyarakat berbasis geopark di Sumatera Barat.
Ini sebagai upaya mempersiapkan masyarakat menjaga kekayaan geologi sekaligus menyambut kunjungan edukatif di masa mendatang, Pemerintah Kota Sawahlunto menggelar sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) pada Rabu (13/5). Kegiatan itu dihadiri para camat, kepala desa dan lurah lokasi geosite, organisasi perangkat daerah terkait, penggiat geopark, hingga mahasiswa Teknik Geologi dari Universitas Islam Riau.
Diskusi dipandu Asisten I Wali Kota Sawahlunto, Irzam K, dengan menghadirkan Ketua Umum Badan Pengelola Geopark Sawahlunto Rovanly Abdams, Ketua Harian Geopark Efdi, serta Ketua Program Studi Teknik Geologi UIR Budi Prayitno. Rovanly Abdams menjelaskan bahwa geopark tidak hanya berbicara tentang kekayaan geologi, tetapi juga mencakup warisan hayati dan budaya yang harus dijaga bersama. “Geopark mencakup geoheritage, bioheritage, dan cultural heritage. Seluruh stakeholder harus bersama-sama menjaga dan mengembangkan warisan alam ini agar memberi dampak ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Efdi mengungkapkan bahwa saat ini Geopark Sawahlunto telah memiliki empat geosite bernilai internasional. Situs tersebut meliputi fosil Foraminifera zaman Permian, fosil ikan air tawar Paleosen Tengah-Eosen, fosil jejak burung zaman Oligosen, serta batubara antrasit berusia jutaan tahun. “Saat ini Geopark Sawahlunto telah memiliki empat geosite bernilai internasional, yakni geosite fosil Foraminifera zaman Permian (259,51 – 251,902 juta tahun lalu), fosil ikan air tawar zaman Paleosen Tengah-Eosen (61,66 – 33,9 juta tahun lalu), fosil jejak burung zaman Oligosen (33,9 – 23,04 juta tahun lalu), serta batubara antrasit zaman Oligosen (33,9 – 23,04 juta tahun lalu),” ujar Efdi.
Dijelaskan, Geopark Sawahlunto juga memiliki dua geosite bernilai nasional, yakni fosil kerang dan siput zaman Trias (251,902 – 201,4 juta tahun lalu) serta ketidakselarasan sedimentasi antara batuan berumur Oligosen-Miosen (33,9 – 15,98 juta tahun lalu) yang langsung berada di atas batuan berumur Trias (251,902 – 201,4 juta tahun lalu). “Keunikan geologi ini menjadi kekayaan ilmiah yang sangat penting dan berpotensi besar mendukung pengembangan wisata edukasi, penelitian, hingga konservasi geologi di Sawahlunto,” tambahnya.
Ketua Prodi Teknik Geologi UIR, Budi Prayitno, menyebut karakteristik geologi Sawahlunto memiliki nilai ilmiah berskala global sehingga menarik perhatian banyak perguruan tinggi yang fokus pada ilmu kebumian dan pertambangan. “Geologi Sawahlunto memiliki daya tarik global. Kami akan terus membawa mahasiswa untuk praktik lapangan dan penelitian selama masyarakat tetap menjaga warisan geologi ini dan terbuka menerima kunjungan edukasi,” katanya.
Sementara itu, Asisten I Wali Kota Sawahlunto, Irzam K menyampaikan bahwa Geopark Sawahlunto saat ini telah menjadi laboratorium lapangan bagi sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Negeri Padang, Universitas Islam Riau, Universitas Jambi, hingga kampus dari Malaysia, Petronas University.
Dalam diskusi tersebut, Kepala Desa Rantih juga mempertanyakan langkah meningkatkan status geosite dari skala lokal menjadi internasional. Menanggapi hal itu, Budi Prayitno menegaskan bahwa penelitian intensif dan publikasi ilmiah di jurnal internasional menjadi kunci utama untuk meningkatkan nilai suatu situs geologi.
Pengembangan Geopark Sawahlunto diharapkan tidak hanya memperkuat sektor pariwisata dan pendidikan, tetapi juga membuka peluang investasi, penelitian internasional, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis konservasi alam dan warisan budaya. (pin)





