AGAM, METRO— Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) Republik Indonesia melatih sebanyak 50 pelaku usaha yang terdampak bencana hidrometeorologi melanda Kabupaten Agam, Sumatera Barat dalam mempromosikan produk usaha mikro kecil dan menengah melalui media sosial.
Direktur Periklanan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Andy Ruswar di Lubuk Basung, Kamis, mengatakan ke 50 peserta merupakan utusan beberapa kecamatan di Agam dan kegiatan diadakan di Hotel Maninjau Indah selama dua hari dimulai 27-28 Agustus 2026.
“Peserta dilatih dalam pembuatan konten, fotografi, videografi, dan storytelling produk,” katanya.
Ia mengatakan peserta diajarkan produksi iklan kreatif, strategi periklanan efektif, dan pemanfaatan platform digital untuk menembus pasar nasional.
Untuk itu, ia berharap para peserta pelatihan agar mengikuti materi dengan sungguh-sungguh, sehingga bisa paham dan menjadi kontributor dalam mempromosikan produk.
“Ikuti pelatihan dengan baik dan masing-masing peserta bakal mempresentasikan ilmu yang di dapat. Kita juga melakukan pendampingan secara dalam jaringan bagi peserta, sehingga mereka paham nantinya,” katanya.
Ia mengakui pelatihan itu merupakan rangkaian skill up lab merupakan program pemulihan dan peningkatan kapasitas ekonomi kreatif pascabencana yang diinisiasi oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Program ini membantu pelaku UMKM dan ekonomi kreatif yang terdampak bencana di wilayah seperti Sumbar dan Aceh agar kembali produktif.
Khusus di Sumbar, skill up lab diadakan di Kabupaten Solok, Padang Pariaman dan Agam. Agam merupakan daerah terkahir, karena Solok dan Padang Pariaman sudah terlaksana.
“Pelatihan ini merupakan kegiatan gerak maju membangun usaha dan peluang baru kreativitas. Kemenekraf
akan menambah ekonomi baru yang dimulai dari daerah,” katanya.
Sementara Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Agam Syatria mengucapkan terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada Kemenekraf yang telah mengadakan pelatihan tersebut.
“Pemilihan lokasi sangat tepat, karena November 2025 sampai awal 2026, daerah terkepung bencana. 13 dari 16 kecamatan di Agam dalam kondisi sulit dan secara bertahap telah dilakukan pembenahan infrastruktur,” katanya.
Ia menambahkan materi yang diberikan kepada 50 peserta sangat tepat, karena memang perlu kembali menceritakan ke publik bahwasanya Agam sudah normal dan tumbuh berkembang.
Dengan kondisi itu, peserta diminta untuk mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh, agar ilmu yang diberikan narasumber bisa diserap dengan baik, sehingga target dari pelatihan bakal tercapai nantinya.
“Pelatihan inputnya bagus, namun tergantung pada peserta untuk mengikutinya,” katanya. (jpg)






