BUKITTINGGI, METRO— Masyarakat Kelurahan Puhun Pintu Kabun, Kota Bukittinggi, menggelar Festival Anak Nagari Pintu Kabun Baralek Gadang bertajuk “Lamo Tak Basuo, Kini Kambali Barameh”, Senin (24/8).
Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menampilkan sekaligus melestarikan seni, budaya, dan kearifan lokal Minangkabau.
Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat sekaligus penyokong budaya lokal, Asril, mengatakan penguatan budaya merupakan bagian penting dalam pengembangan pariwisata Kota Bukittinggi.
“Yang dimaksud pariwisata itu pilar utamanya adalah hospitality of our heritage, artinya bagaimana budayanya, bagaimana responsifnya masyarakat terhadap wisatawan yang ada,” kata Asril.
Menurutnya, seni dan budaya yang masih orisinal perlu terus ditonjolkan, digali, dan dipelihara agar tetap hidup serta dikenal oleh generasi berikutnya.
Dalam festival tersebut, sebanyak 20 sanggar dari wilayah Bukittinggi-Agam ambil bagian. Kegiatan serupa sebelumnya telah dilaksanakan di empat lokasi dan Puhun Pintu Kabun menjadi salah satu lokasi penyelenggaraannya.
“Ya, hari ini kita akan menampilkan 20 sanggar se-Bukittinggi-Agam. Kegiatan ini kita sudah adakan di empat lokasi. Alhamdulillah pada hari ini di Kelurahan Puhun Pintu Kabun,” ujarnya.
Asril berharap kegiatan seni dan budaya tersebut dapat terus dikembangkan dan dibuat lebih semarak, khususnya untuk mengangkat kekayaan budaya Bukittinggi-Agam yang dalam konteks sejarah dikenal sebagai Agam Tuo.
Selain menjadi bagian dari pengembangan pariwisata, pelestarian seni budaya dinilai memiliki keterkaitan erat dengan pendidikan adat dan nilai keagamaan bagi generasi muda.
Menurut Asril, pengenalan seni dan budaya kepada generasi muda dapat menjadi pintu untuk mengenalkan adat, syariat, hingga nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran sesuai falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’Basandi Kitabullah.
“Ketika seni budaya ini kita ajarkan kepada generasi kita, maka generasi kita akan kenal dengan adat. Ketika dia kenal dengan adat, maka dia akan kenal dengan syariat. Ketika dia kenal dengan syariat, maka dia akan kenal dengan kitabullah,” katanya.
Ia menyebut semangat tersebut menjadi dasar gerakan yang dibangun melalui kegiatan seni budaya, yakni mendorong lahirnya generasi yang mengenal dan memahami nilai-nilai adat dan agama.
Festival Anak Nagari Pintu Kabun Baralek Gadang dikemas dalam sejumlah bentuk kegiatan. Pada Vocational Art and Culture Space, masyarakat disuguhkan pertunjukan tari, musik, serta berbagai kearifan lokal dari sejumlah wilayah Minangkabau, khususnya Kota Bukittinggi.
Kegiatan juga menghadirkan Cultural Heritage, berupa pameran dan peragaan warisan budaya Minangkabau, baik dalam bentuk kesenian, kebudayaan maupun kearifan lokal yang berkembang di tengah masyarakat.
Selain itu, Culinary Festival menyajikan beragam makanan dan minuman khas Minangkabau, terutama kuliner yang berkembang di Kota Bukittinggi. Festival turut dilengkapi sejumlah Competition yang berkaitan dengan konsep seni, budaya, dan kearifan lokal.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, festival diharapkan tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga ruang regenerasi budaya sekaligus memperkuat identitas nagari di tengah perkembangan pariwisata Kota Bukittinggi. (pry)






