BERITA UTAMA

Meski Tidak Bisa Melihat, Qori Sumbar Daffa Hadaya Bertanding Lawan Peserta Normal Cabang 20 Juz MTQ Nasional

×

Meski Tidak Bisa Melihat, Qori Sumbar Daffa Hadaya Bertanding Lawan Peserta Normal Cabang 20 Juz MTQ Nasional

Sebarkan artikel ini

SEMARANG, METRO– Meski dengan keterbatasan tidak bisa melihat sejak lahir (cacat netra), tidak membuat nyali Daffa Hadaya (14) ciut ikut berkompetisi pada MTQ ke-XXXI Nasional di Semarang.

Tidak tanggung-tanggung, Daffa bukannya ikut berkompetisi pada kelompok cacat netra (canet), tetapi berani bersaing dengan peserta dari daerah lain yang kondisi fisiknya normal, pada hafalan Al Quran cabang 20 juz.

Daffa adalah Qori asal Sumbar yang lulus seleksi karena juara 1 MTQ Tingkat Provinsi Sumbar yang digelar di Bukittinggi tahun lalu.

Anak kedua dari pasangan Kepala MTSN 3 Lawang Mandailing Tanah Datar Mulyandri dan Harnayesi Guru Bahasa Inggris ini bukanlah kafilah kaleng-kaleng. Sejumlah prestasi berhasil diraihnya sejak duduk di bangku SD

Di antaranya, berhasil meraih juara 3 cabang 1 juz tingkat SD pada MTQ Tingkat Kabupaten Tanah Datar di Batipuah tahun 2017 silam.

Daffa juga berhasil meraih tiga kali juara 1 pada lomba non resmi tilawah. Selanjutnya juga meraih juara 2 cabang 15 juz pada ajang Madrasah Fest 2023 tingkat nasional.

Prestasi lainnya, Daffa juga meraih juara 2 cabang 20 juz pada MTQ Tingkat Provinsi Sumbar di Solok Selatan tahun 2023.

Bahkan, untuk cabang 20 juz ini, Daffa telah mengikuti enam kali perlombaan tingkat provinsi dan nasional.

Baca Juga  Rasio Belanja Pegawai Capai 59 Persen, Bupati Annisa Bongkar Kondisi Darurat APBD 2027

Prestasi paling membanggakan, Daffa berhasil meraih juara 1 cabang 10 juz pada perlombaan tingkat ASEAN tahun 2025 lalu yang diadakan oleh Yayasan Syekh Ali Jaber.

Untuk MTQ Nasional ini sebenarnya bukan pertama kali diikutinya. Daffa sebelumnya juga pernah ikut MTQ Nasional cabang 20 juz di Kalimantan Timur (Kaltim). Namun, Daffa kurang beruntung menjadi juara.

“Pengalaman ikut MTQ Nasional di Kaltim jadi pengalaman berharga untuk persiapan saat ini,” ungkap Daffa, di sela latihannya, Sabtu (12/9) di Semarang.

Daffa mengaku siap tampil maksimal pada MTQ Nasional di Semarang saat ini. Bahkan persiapan latihannya sudah dilakukan jauh-jauh hari sejak bulan Mei 2026. Termasuk juga mengikuti Training Center (TC) yang digelar Pemprov Sumbar.

“Banyak ilmu yang didapat melalui TC. Beban mental memang berat, tapi motivasi saya ikut kompetisi. Kompetitif tidak sekadar berlomba tapi ingin buktikan kita kemampuan saya,” ungkap siswa kelas 1 MAN 2 Tanah Datar itu.

Lantas bagaimana Alumni MTsN 6 ini bisa hafal Al Quran hingga 30 juzz? Daffa mengaku, belajarnya awalnya otodidak. Ia mengenal pertama kali ayat Al Quran Ketika mendengar dari pengeras suara masjid sejak umur lima tahun.

Lantunan ayat-ayat wahyu Allah ini begitu lekat di hatinya. Makin lama makin tinggi minatnya untuk menghafal ayat-ayat suci Al Quran.

Baca Juga  Tiga Perampok Sadis Asal Solok Dibekuk

“Awalnya saya hafal pelan-pelan, saya ingat bertahap ayat demi ayat, kemudian beberapa juz, hingga sampai hafal hingga 30 juz sekarang. Saya juga mendapat dorongan dari orang tua. Mereka sangat mendukung sekali dan mengarahkan sampai saya benar-benar hafal,” ucapnya.

Selain mendengarkan ayat Al Quran dari masjid, Daffa juga mengaku sekarang melalui teknologi digital menggunakan aplikasi google talkback di handphone sangat membantunya menghafal Al Quran.

Meski sudah menghafal Alquran 30 Juz, Daffa juga tidak mengecilkan ilmu lainnya. Dia juga terus belajar ilmu sosial, dan Bahasa Inggris dari ibunya, kadang juga bernyanyi.

Ke depan Daffa tidak hanya bercita-cita menjadi pendakwa yang hafal Al Quran, tapi juga ingin menjadi guru ilmu sosial. Dengan itu, dia merasa sudah besar nanti akan menjadi orang lebih bermanfaat kehidupannya.

“Maaf, selama ini mungkin ada yang mengatakan dengan belajar ilmu lain hafalan Al Quran kita bisa hilang, saya rasa tidak jika kita sungguh-sungguh. Cita-cita saya ingin jadi ustad dan ulama. Namun belajar multi bidang juga menarik, seperti sains dan lainnya. Tidak mentok jadi ustad saja,” terang pria kelahiran 20 Desember 2011 di Bukittinggi itu.(fan).