PADANG, METRO–Ratusan ribu warga Kota Semarang tumpah ruah di area Lapangan Pancasila Simpang Lima Kota Semarang menyaksikan pembukaan MTQ ke XXXI Nasional di Semarang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Sabtu malam (12/9).
Pembukaan diawali dengan devile kafilah dari 37 provinsi yang tampil dengan kekhasan daerah masing-masing.
Devile Kafilah Sumatera Barat (Sumbar) tampil dengan pakaian Adat Minang hasil kolaborasi dengan Ikatan Keluarga Minang (IKM) Semarang dan diikuti barisan khafilah dengan menggunakan kemeja hitam batik dengan motif rumah gadang.
Pakaian Adat Minang mendapat perhatian pengunjung. Di setiap jalur yang dilalui Kafilah Sumbar selalu disambut tepuk tangan meriah dan sapa dari pengunjung.
Devile Kafilah Sumbar juga disambut hangat oleh Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah yang langsung mengambil posisi berdiri dari tempat duduk podium utama dan melambaikan tangan kepada Khafilah Sumbar.
Pembukaan MTQ Nasional malam itu ditandai pemukulan bedug oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno bersama Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.
Hadir pada kesempatan itu, beberapa gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wali kota, sejumlah Kepala Kanwil Kemenag, forkopimda dan pejabat lainnya.
MTQ Nasional tahun ini mengusung tema “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban.”
Menko PMK Prof Pratikno mewakili Presiden RI Prabowo Subianto, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan MTQ Nasional XXXI di Kota Semarang.
Menurutnya, MTQ Nasional menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan masyarakat dari berbagai penjuru Indonesia.
Para peserta memang membawa identitas daerah masing-masing, tetapi seluruhnya hadir dalam satu ruang kebangsaan yang sama.
“Memang Bapak Ibu membawa nama daerah, namun Bapak Ibu dan Saudara-saudara semuanya hadir dalam satu rumah bernama Indonesia. Perbedaan daerah, bahasa, tradisi, di gaya membaca Alquran adalah gaya membaca,” ujarnya.
Menteri Agama Nazaruddin berharap momentum MTQ Nasional melahirkan sikap Qurani dalam kehidupan sehari-hari.
“Al Quran diturunkan untuk dibaca, dipahami, dan ditadaburi pesan-pesannya,” katanya.
Nasaruddin mengatakan sikap Qurani dalam keluarga tercermin melalui kasih sayang, tanggung jawab, musyawarah, serta kemampuan menjaga kehormatan satu sama lain.
Nasaruddin menuturkan orang yang dekat dengan Al Quran harus menjadi sosok paling dapat dipercaya, sungguh-sungguh bekerja, serta jauh dari korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
“Sikap Qurani menolak fitnah, hoaks, ujaran kebencian, serta segala tindakan yang merusak kehormatan dan persaudaraan,” tegasnya.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sikap Qurani menegakkan keadilan, menjaga persatuan, melindungi kelompok yang lemah, menghormati kemajemukan, serta mendahulukan kepentingan bersama.
Pada kesempatan itu, Nasaruddin juga mengumumkan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) bakal ditiadakan. Sebagai gantinya, MTQ bakal berlangsung setiap tahun. “Kita tidak lagi melaksanakan STQ, tetapi MTQ,” terangnya.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah usai pembukaan MTQ Nasional, berpesan kepada seluruh Kafilah Sumbar agar berjuang maksimal, menjaga kekompakan, serta menjadikan keikutsertaan pada ajang MTQ Nasional sebagai bagian dari ikhtiar mengharumkan nama Sumbar.
Menurut Mahyeldi, keberhasilan dalam kompetisi tidak semata-mata ditentukan kemampuan teknis, tetapi juga oleh kesungguhan, kedisiplinan, kekompakan, dan keikhlasan dalam menjalani setiap proses.
Mahyeldi mengajak seluruh masyarakat Sumbar, baik di ranah dan rantau memberikan dukungan dan doa bagi perjuangan kafilah.
“Kepada Masyarakat Sumbar mari kita doakan kafilah kita agar meraih prestasi terbaik. Semangat dan doa masyarakat menjadi kekuatan tambahan bagi para peserta dalam membawa nama Sumbar di tingkat nasional,” harapnya.
Gubernur Jateng, Ahmad Lutfi mengatakan, MTQ ke-XXXI momentum sejarah bagi Jateng. Sebab, Jateng sudah berpuluh tahun tidak menjadi tuan rumah.
“MTQ ke-31 momen bersejarah bagi Jateng karena berpuluh tahun kesempatan ini belum sampai ke Jateng,” ucap Luthfi.
Menurutnya, kehadiran kafilah dari berbagai daerah menunjukkan MTQ bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan juga ruang mempertemukan masyarakat dalam semangat persaudaraan dan kebersamaan.
Hal ini terlihat dari keterlibatan warga Kota Semarang dalam pembukaan acara, salah satunya melalui penyanyian Mars MTQ yang melibatkan 288 ribu orang dan tercatat sebagai rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). “Semarang menjadi saksi menyanyikan Mars MTQ masuk rekor MURI,” kata Luthfi.
Ia menambahkan, besarnya partisipasi masyarakat memperlihatkan MTQ dapat menjadi pesta rakyat yang menyatukan warga lintas latar belakang.
“MTQ Musabaqah Tilawatil Quran ini tidak hanya lomba membaca dan menghafal Al Quran, tetapi pesta rakyat yang menyatukan masyarakat di lintas agama maupun di lintas latar belakang,” ujarnya.
Ketua Umum LPTQ Nasional, Abu Rokhmad menjelaskan, para peserta akan berkompetisi dalam delapan cabang lomba yang terbagi menjadi 24 golongan dan 48 kategori musabaqah.
Perlombaan digelar serentak di 12 venue yang tersebar di Kota Semarang, ditambah satu titik registrasi kafilah, sehingga total 13 titik operasional yang dikelola simultan.
Untuk menjaga kualitas penilaian, panitia menyiapkan 155 dewan hakim.(fan)






