PADANG, METRO–Duka menyelimuti dunia olahraga Sumatera Barat. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumbar memberikan penghargaan kehormatan kepada dua tokoh besar olahraga daerah, almarhum Munandar Maska dan almarhum Thio Hok Seng, yang wafat pada Sabtu (11/5).
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Umum KONI Sumbar, Hamdanus, bersama jajaran pengurus dalam dua kesempatan berbeda pada Kamis malam (15/5).
Penyerahan piagam untuk Munandar Maska dilakukan di rumah duka di kawasan Perumnas Belimbing, Padang, dan diterima oleh putranya, Fadhillurrahman, disaksikan keluarga besar almarhum.
Sementara itu, penghargaan untuk Thio Hok Seng diserahkan di Rumah Duka Hok Tek Tong (HTT), kawasan Pondok, Padang. Piagam diterima oleh anak-anak almarhum, Pretty Mery dan Christopher, dengan kehadiran keluarga serta sejumlah tokoh olahraga, termasuk mantan juara dunia, Nanda Telambanua.
Dalam piagam penghargaan yang diberikan, KONI Sumbar menyampaikan apresiasi atas jasa dan dedikasi kedua tokoh tersebut bagi kemajuan olahraga di Ranah Minang.
“Atas nama insan olahraga Sumatera Barat memberikan penghargaan patriot olahraga asal Sumatera Barat. Terima kasih atas dedikasi dan pencapaian sepanjang hidup untuk mengharumkan nama Sumatera Barat di level nasional dan internasional,” demikian kutipan dalam piagam tertanggal 13 Mei 2026.
Hamdanus menyebut, penghargaan tersebut merupakan bentuk penghormatan mendalam atas kontribusi besar yang telah diberikan kedua tokoh selama hidupnya.
“Kami kehilangan dua tokoh besar olahraga Sumbar. Almarhum Munandar Maska dan Thio Hok Seng telah memberikan dedikasi luar biasa di bidangnya masing-masing. Penghargaan ini menjadi bentuk penghormatan dan ucapan terima kasih insan olahraga Sumbar atas jasa-jasa beliau,” ujarnya.
Menurutnya, semangat pengabdian kedua tokoh tersebut tidak berhenti pada diri mereka, melainkan terus berlanjut melalui generasi penerus di keluarga masing-masing.
Jejak Munandar Maska kini diteruskan oleh Fadhillurrahman yang aktif sebagai wasit karate tingkat nasional. Sementara itu, Pretty Mery mengikuti langkah ayahnya dengan menjadi atlet wushu yang membela Sumatera Barat.
“Ini membuktikan bahwa semangat olahraga dan pengabdian diwariskan dalam keluarga mereka. Apa yang telah diperjuangkan almarhum terus hidup dan diteruskan generasi berikutnya,” tambah Hamdanus.
Munandar Maska diketahui wafat saat menjalankan tugas sebagai wasit dalam Kejuaraan Nasional Karate di Bandung, Jawa Barat. Ia sempat tak sadarkan diri di arena pertandingan sebelum dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 17.05 WIB.
Selain dikenal sebagai wasit karate nasional, Munandar juga aktif dalam kegiatan keagamaan sebagai ustaz dan pernah menjadi pengurus Masjid Raya Ganting, Padang.
Di sisi lain, Thio Hok Seng merupakan salah satu atlet angkat berat terbaik yang pernah dimiliki Sumatera Barat. Ia mengharumkan nama Indonesia dengan torehan tiga medali emas dunia.
Prestasi gemilangnya dimulai dari ajang PON XI 1985 di Jakarta, di mana ia mempersembahkan medali emas untuk Sumbar. Ia kemudian meraih emas dunia di Lima, Peru pada 1987 dan mempertahankannya di Luksemburg pada 1988.
Tak hanya itu, Hok Seng juga mencatatkan rekor deadlift seberat 226 kilogram di Jerman, yang semakin mengukuhkan namanya di kancah internasional.
Di tingkat nasional, ia kembali menyumbangkan emas pada PON berikutnya sebelum cedera bahu kiri menghentikan langkahnya untuk tampil pada PON XV tahun 2000. (rom)





