PAYAKUMBUH/50 KOTA

Kartini Masa Kini di Payakumbuh, Eni Zulmaeta: Dari Sampah, Perempuan Payakumbuh Bangun Kemandirian Ekonomi

×

Kartini Masa Kini di Payakumbuh, Eni Zulmaeta: Dari Sampah, Perempuan Payakumbuh Bangun Kemandirian Ekonomi

Sebarkan artikel ini

Ketua TP-PKK Kota Payakumbuh, Eni Muis Zulmaeta

PAYAKUMBUH, METRO— “Sampah bukan sekadar persoalan lingkungan, tapi peluang. Kalau dike­lola dengan baik, ia bisa melahirkan nilai eko­no­mi.” Kalimat itu terlontar lugas dari ketua TP-PKK Kota Payakumbuh, Eni Muis Zulmaeta saat memulai perbincangan di kediamannya, Selasa (21/4), bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Di momen yang identik dengan refleksi perjuangan perempuan Indonesia, Eni memilih menghadirkan tafsir berbeda. Bukan se­kadar wacana emansipasi, melainkan langkah kong­krit yang menyentuh ekonomi keluarga.

Di Payakumbuh, gaga­san tentang pemberda­yaan perempuan kini tumbuh dari hal yang kerap dianggap sepele: sampah. Di tangan perempuan-perempuan kreatif, limbah yang sebelumnya menjadi beban berubah menjadi produk bernilai guna dan bernilai jual.

Aktivitas ini tidak ha­nya membantu mengu­rangi persoalan lingkungan, tetapi juga membuka ruang ekonomi baru bagi keluarga. “Yang su­dah ada harus kita maksimalkan. Produksi diting­katkan, kualitas dijaga, dan jangkauan pemasaran diperluas,” katanya.

Langkah itu ber­kem­bang lebih jauh melalui inovasi pengolahan sampah organik menjadi budidaya maggot. Namun, Eni tidak berhenti pada praktik umum yang hanya meng­hasilkan kompos. “Terdengar biasa, sampah organik jadi maggot lalu kompos. Tapi yang tidak biasa, kita jadikan juga sebagai pakan ternak ung­­gas,” ujarnya.

Program tersebut mulai digagas di kawasan Mancang Labu, Kelura­han Payobasung, Payakumbuh Timur. Larva dari pengolahan sampah organik dimanfaatkan sebagai alternatif pakan ayam yang lebih murah, namun tetap memiliki kan­dungan gizi tinggi.

Baca Juga  Payakumbuh Dinilai Tim Verifikasi Nasional STBM

Menurut Eni, perso­alan utama peternak skala kecil selama ini terletak pada biaya pakan yang mencapai 60 hingga 70 persen dari total operasional. Kenaikan harga pakan konvensional semakin memperberat kondisi tersebut. “Di sinilah peluangnya. Sampah organik rumah tangga bisa kita olah menjadi pakan alternatif yang lebih eko­nomis,” katanya.

Ia menjelaskan, de­ngan ketersediaan pakan mandiri, keluarga dido­rong untuk mulai beternak ayam secara sederhana namun terkelola baik, baik untuk produksi telur maupun daging. Dari sinilah rantai ekonomi baru terbentuk. “Dari satu kegiatan, bisa lahir banyak man­faat. Lingkungan bersih, ekonomi bergerak, dan masyarakat lebih man­diri,” ujarnya.

Tidak hanya berhenti pada sampah organik, Eni juga mengulas pengola­han sampah anorganik yang bisa dimanfaatkan menjadi paving blok. Pro­duk ini dinilai mampu men­jawab dua persoalan sekaligus: pengurangan limbah dan penciptaan peluang usaha. “Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga membuka lapangan usaha baru,” kata Eni. Selain itu, pemberdayaan perempuan juga di­per­kuat melalui sektor UM­KM, khususnya kerajinan tangan merajut. Melalui kelompok dasawisma, perempuan-perempuan di Payakumbuh dilatih menghasilkan produk tekstil seperti tas, dompet, hingga pakaian.

Hasilnya tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga membangun keperca­ya­an diri. Bahkan, pada 2025, TP PKK Kota Payakumbuh menjalin kerja sama de­ngan The Sak untuk memproduksi 1.000 pouch per bulan.

Diketahui, The Sak adalah brand tas dan aksesori fashion asal AS yang terinspirasi oleh kerajinan tangan tradisional Bali. Produk rajutan tersebut memadukan sentuhan budaya lokal dengan gaya santai khas California. “Alhamdulillah, beberapa pengrajin sudah meraup omzet hingga puluhan juta rupiah, dan produknya sudah merambah mancanegara,” ujarnya.

Baca Juga  Bangun Kantor Jaksa di Limapuluh Kota, Bupati  Safaruddin Dt. Bandaro Rajo Janji Carikan Tanah

Bagi Eni, spirit Kartini hari ini menemukan bentuknya dalam tindakan nyata. Dari rumah-rumah sederhana, perempuan mulai membangun usaha mandiri dan berkontribusi pada ekonomi keluarga. Rantai ekonomi yang terbentuk mulai dari pengolahan sampah, budidaya maggot, hingga sektor peternakan dan kerajinan, menciptakan efek berantai yang menggerakkan masyarakat.

Ia menilai, jika dikelola secara konsisten, Pa­yakumbuh berpeluang men­jadi salah satu daerah pemasok kebutuhan ayam bagi wilayah sekitarnya. Namun lebih dari itu, yang ingin dibangun adalah kesadaran kolektif bahwa perubahan dapat dimulai dari hal kecil. “Perempuan tidak boleh hanya jadi penonton perubahan. Kita harus jadi penggerak, mengubah yang sederhana menjadi bernilai, menghidupkan yang terabaikan menjadi kekuatan,” ujarnya.

Di Payakumbuh, makna itu jelas terlihat. Dari sampah yang diolah, dari benang yang dirajut, hingga dari langkah kecil di ruang domestik—semua­nya bergerak menuju satu tujuan: kemandirian. Dan seperti cahaya yang dahulu diperjuangkan Kartini, kekuatan itu kini hidup dalam karya dan tindakan perempuan-perempuan yang memilih untuk tidak hanya bermimpi, tetapi juga bergerak. “Dari hal yang sering diabaikan, kita belajar memberi makna dan dari tangan yang tulus bekerja, perubahan perlahan menemukan jalannya,” jelasnya. (uus)