SAWAHLUNTO/SIJUNJUNG

Wawako Sawah­lunto Terima  Sertifikat WBTbI dari Mahyeldi

×

Wawako Sawah­lunto Terima  Sertifikat WBTbI dari Mahyeldi

Sebarkan artikel ini
TERIMA SERTIFIKAT—Wakil Wali Kota Sawahlunto Jeffry Hibatullah saat menerima sertifikat Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) Tahun 2025 dari Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah dan disaksikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kementerian Kebudayaan Undri.

SAWAHLUNTO, METRO–Wakil Wali Kota Sawah­lunto Jeffry Hibatullah me­nerima sertifikat Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) Tahun 2025 dari Gubernur Sumatera Barat Mah­yeldi Ansharullah dan disaksikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kementerian Kebudayaan Undri, Jumat (28/8).

Dua warisan budaya Sa­wahlunto yang ditetapkan sebagai WBTbI Tahun 2025 yakni Kuda Kepang dan Bakaru Kenagarian Kajai. Dengan tambahan tersebut, Sawah­lunto kini memiliki enam WBTbI, setelah sebelumnya Bahasa Tangsi, Songket Silungkang, Talempong Batuang dan Lomang Tungkek lebih dahulu ditetapkan.

Baca Juga  Wabup IraddatillahBuka Konsultasi Publik  Penyusunan KLHS

Wawako Jeffry menyebut penetapan WBTbI merupakan pengakuan resmi negara terhadap kekayaan budaya Sawahlunto sekaligus memperkuat dasar bagi pemerintah daerah untuk melindungi dan mengembangkan warisan budaya tersebut secara berkelanjutan.

Dijelaskan Wawako, status WBTbI juga membuka peluang memperoleh berbagai fasilitasi pemerintah pusat, antara lain prioritas da­lam pengajuan proposal kebudayaan, akses program fasilitasi kebudayaan, dokumentasi dan penelitian, promosi serta pengembangan jejaring, hingga peluang pe­ngembangan ekonomi kreatif berbasis budaya.

Pemko Sawahlunto siap memanfaatkan penetapan tersebut sebagai sumber daya untuk memperkuat ekosistem kebudayaan, termasuk dokumentasi, regenerasi pelaku budaya, promosi, dan pengembangan potensi e­konomi kreatif.

Baca Juga  UMKM Dibantu Gerobak, Payung dan Packaging

“Dengan demikian, WBTbI tidak berhenti sebagai status pengakuan, tetapi menjadi instrumen untuk menjaga keberlanjutan budaya sekaligus memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat,” ka­tanya. (pin)