PEKANBARU, METRO–Kain batik jumputan yang diproduksi Rumah Batik Moringa Kampar mendapat kesempatan tampil di panggung Indonesia Fashion Week (IFW). Karya perajin dari Kampar, Riau, itu dikolaborasikan dengan desainer Rico Bije Reybonte Hendriko dan diolah menjadi busana dengan sentuhan desain modern.
Bagi Rumah Batik Moringa Kampar, keikutsertaan dalam ajang fesyen tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan karya perajin lokal kepada khalayak yang lebih luas. Kain jumputan yang selama ini dikembangkan di tingkat masyarakat kini mendapat ruang untuk tampil dalam industri fesyen nasional.
Rumah Batik Moringa Kampar merupakan kelompok usaha masyarakat di bawah asuhan UMKM Dapur Aru yang mendapat pendampingan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli dari PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Tengah (UIP Sumbagteng).
Dari Karya Perajin hingga Panggung Fesyen
Kolaborasi dengan Rico Bije Reybonte Hendriko mempertemukan keterampilan para perajin dengan kreativitas desainer. Kain jumputan yang dihasilkan Rumah Batik Moringa Kampar dikembangkan menjadi busana yang lebih modern, tanpa menghilangkan karakter dan identitas kain tersebut.
Proses ini memberikan pengalaman baru bagi para perajin. Mereka tidak hanya belajar menghasilkan kain dengan teknik jumputan, tetapi juga melihat bagaimana produk yang dibuat dengan tangan dapat dikembangkan menjadi bagian dari industri fesyen.
General Manager PLN UIP Sumbagteng, Achmadi Abbas, mengatakan pengembangan masyarakat melalui program TJSL tidak semata-mata berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu mengembangkan potensi yang dimiliki secara berkelanjutan.
“Kami ingin program TJSL PLN Peduli dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat. Rumah Batik Moringa Kampar memiliki potensi yang besar, terutama dari sisi kreativitas dan produk berbasis kearifan lokal. Ketika potensi tersebut mendapatkan pendampingan dan kesempatan untuk berkolaborasi, kami berharap produknya dapat berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Achmadi.
Menurut dia, tampilnya batik jumputan Rumah Batik Moringa Kampar di Indonesia Fashion Week merupakan bagian dari proses panjang pemberdayaan masyarakat.
“Bagi kami, tampil di Indonesia Fashion Week bukan hanya tentang sebuah karya yang dipamerkan. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat melihat bahwa produk yang mereka hasilkan memiliki nilai dan peluang untuk dikembangkan. Pengalaman ini diharapkan menjadi motivasi bagi para perajin untuk terus berinovasi,” katanya.
Pendampingan dari Tingkat Lokal
Owner UMKM Dapur Aru sekaligus pembina Rumah Batik Moringa Kampar, Nurhidayah Sari, mengatakan pengembangan kelompok tersebut dilakukan secara bertahap.
Menurut dia, para perajin memiliki kreativitas yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Pendampingan dilakukan untuk membantu mereka meningkatkan keterampilan sekaligus memahami bagaimana sebuah produk lokal dapat dikemas agar memiliki daya saing.
“Kami melihat para ibu-ibu di Rumah Batik Moringa Kampar memiliki potensi dan kreativitas yang besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut terus diasah sehingga karya yang dihasilkan memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” ujar Nurhidayah.
Kolaborasi dengan Rico Bije Reybonte Hendriko, kata dia, menjadi salah satu pengalaman penting bagi para perajin. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana kain jumputan yang dibuat dapat dikembangkan menjadi busana dengan pendekatan desain yang berbeda.
“Ini menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi para perajin. Mereka bisa melihat bahwa kain yang mereka buat ternyata dapat dikembangkan menjadi busana dan tampil di panggung fesyen. Harapannya, pengalaman ini menambah kepercayaan diri mereka untuk terus berkarya,” kata Nurhidayah.
Membuka Peluang Pasar Lebih Luas
Keikutsertaan dalam Indonesia Fashion Week juga membuka peluang bagi Rumah Batik Moringa Kampar untuk memperluas jejaring. Tidak hanya memperkenalkan produk, momentum tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal kebutuhan industri fesyen dan tren pasar.
Bagi perajin, proses tersebut menjadi pembelajaran bahwa kualitas produk tidak hanya ditentukan oleh keterampilan dalam membuat kain. Pengembangan desain, konsistensi produksi, pengemasan, serta kemampuan membangun jejaring turut menentukan keberlanjutan sebuah usaha.
Pendampingan melalui program TJSL PLN Peduli menjadi bagian dari upaya mendorong kelompok usaha masyarakat agar tidak berhenti pada tahap produksi. Potensi lokal diarahkan untuk terus dikembangkan sehingga memiliki nilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Membawa Cerita Kampar ke Panggung Nasional
Batik jumputan Rumah Batik Moringa Kampar membawa lebih dari sekadar motif dan warna ke panggung Indonesia Fashion Week. Di balik kain tersebut terdapat keterampilan para perajin dan proses pemberdayaan masyarakat yang berlangsung secara bertahap.
Kolaborasi dengan Rico Bije Reybonte Hendriko menunjukkan bagaimana karya lokal dapat dipertemukan dengan perspektif industri fesyen. Dari proses tersebut, kain jumputan Kampar mendapatkan bentuk baru sekaligus kesempatan untuk dikenal oleh pasar yang lebih luas.
Achmadi berharap pengalaman tersebut dapat menjadi langkah lanjutan bagi Rumah Batik Moringa Kampar untuk terus mengembangkan produknya.
“Harapan kami, kesempatan ini dapat menjadi awal dari kolaborasi dan pengembangan yang lebih luas. Produk masyarakat memiliki potensi untuk tumbuh jika terus didampingi, dikembangkan, dan diberikan akses terhadap pasar,” ujar Achmadi.
Bagi Rumah Batik Moringa Kampar, panggung Indonesia Fashion Week menjadi satu titik dalam perjalanan panjang mereka. Dari tangan para perajin di Kampar, kain jumputan kini memiliki kesempatan untuk bercerita lebih jauh—tentang kreativitas, kearifan lokal, dan upaya masyarakat membangun kemandirian melalui ekonomi kreatif. (*)






