METRO SUMBAR

Sempat Cemas Biaya Rawat Inap, Peserta JKN Ini Lega Berobat Hingga Pulih

×

Sempat Cemas Biaya Rawat Inap, Peserta JKN Ini Lega Berobat Hingga Pulih

Sebarkan artikel ini
JALANI PERAWATAN— Syahdati saat ditemani suami tercintanya ketika menjalani rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. M. Ali Hanafiah.

PAYAKUMBUH, METRO— Sakit datang tanpa aba-aba. Saat nyeri perut, pu­sing, dan muntah hebat me­nyerang, Syahdati harus dilarikan ke rumah sakit. Di tengah kondisi yang membutuhkan penanganan segera, satu hal sempat membuatnya cemas, yaitu biaya rawat inap. Kekhawatiran itu sirna setelah Syahdati me­ngetahui kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dimilikinya masih aktif. Ia pun bisa menjalani pemeriksaan hingga rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. M. Ali Hanafiah tanpa harus terbebani biaya pengobatan.

“Waktu dibawa ke IGD, saya memang sudah sangat khawatir. Selain memikirkan kondisi kesehatan, saya juga sempat terpikir soal biaya kalau sampai harus dirawat inap. Tetapi setelah mengetahui saya bisa menggunakan JKN, saya merasa lebih tenang,” ujar Syahdati.

Sebelumnya, kondisi kesehatan Syahdati tiba-tiba memburuk pada pagi hari. Penyakit maag yang dideritanya kambuh disertai pusing, nyeri perut, dan muntah. Karena gejala yang dirasakan semakin tak tertahankan, ia segera dibawa ke IGD rumah sakit terdekat.

Setibanya di rumah sakit, tim medis langsung memberikan penanganan. Setelah menjalani peme­riksaan, dokter menyarankan Syahdati menjalani rawat inap agar kondisi kesehatannya dapat dipantau dan mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Bagi Syahdati, kondisi tersebut menjadi pengi­ngat bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan bisa muncul kapan saja. Beruntung, saat membutuhkan pertolongan, status kepesertaannya sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) masih aktif sehingga ia dapat memanfaatkan JKN untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai ketentuan. “Beruntung status kepesertaan JKN saya sebagai peserta PBI masih aktif. Jadi, saya tidak merasa terbebani dengan biaya pengobatan dalam kondisi darurat seperti ini dan keluarga bisa fokus mendampingi saya,” ungkap Syahdati.

Baca Juga  Rangkul Ninik Mamak dan Pengusaha, Kader Posyandu Agam Terbaik di Sumbar

Proses pelayanan JKN yang dijalaninya pun berlangsung lancar. Mulai dari pemeriksaan di IGD hingga mendapatkan ruang rawat inap, Syahdati mengaku tidak menemukan kendala berarti. “Proses penggunaan JKN juga berjalan dengan baik dan saya tidak menemui kendala. Petugas membantu menjelaskan prosesnya, se­hingga saya tidak merasa bingung. Yang penting kita wajib ikuti prosedur dan ketentuan yang berlaku,” ucap Syahdati.

Lebih lanjut, Syahdati menilai pelayanan yang diterimanya sangat nyaman. Dokter dan perawat secara rutin memantau kondisi kesehatannya, sementara kebutuhan medis dan obat-obatan diberikan sesuai kebutuhan perawatannya. “Ruang rawat inapnya nyaman dan bersih. Perawat dan dokter rutin memantau perkembangan kondisi saya. Semua tim medisnya ramah dan komunikatif, serta kebutuhan obat-obatan saya diberikan dengan lengkap dan tidak ada pungutan biaya tambahan,” kata Syahdati.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan ke­yakinan Syahdati mengenai pentingnya memiliki jaminan kesehatan. Menurutnya, ketika seseorang sakit secara tiba-tiba, fokus utama seharusnya adalah mendapatkan pertolongan medis, bukan memikirkan bagaimana menyiapkan biaya pengobatan. “Kalau sakitnya datang tiba-tiba seperti kemarin, tentu kita tidak sempat memikirkan banyak hal. Yang paling penting saat itu adalah bagaimana bisa segera mendapatkan pertolongan. Saya bersyukur sudah menjadi peserta JKN sehingga bisa fokus menjalani pengobatan,” tutur Syahdati.

Baca Juga  KPU Pessel Gelar Simulasi Pemungutan dan Penghitungan Suara Jelang Pilkada 2024

Selain itu, bukan kali pertama Syahdati merasakan manfaat JKN. Beberapa tahun sebelumnya, ia juga pernah menjalani dua kali operasi kecil untuk pengangkatan benjolan di bagian kaki yang mengharuskannya menjalani rawat inap. Menurutnya, jika seluruh biaya pelayanan kesehatan yang pernah diterimanya dihitung, nilai­nya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Nominal tersebut tentu bukan jumlah kecil bagi keluarganya.

“Tidak terhitung sudah berapa kali saya memanfaatkan JKN untuk berobat. Mulai dari rawat inap hingga operasi sudah pernah saya jalani. Kalau dihitung-hitung, mungkin sudah menghabiskan puluhan juta rupiah. Bagi saya, nominal tersebut sangat besar dan JKN sangat membantu meringankan beban biaya pengobatan,” jelas Syahdati.

Syahdati menilai kepesertaan JKN bukan sekadar kebutuhan ketika seseo­rang sudah jatuh sakit. Menurutnya, memiliki jaminan kesehatan merupakan bentuk perlindungan yang perlu dipersiapkan sejak dini, termasuk dengan memastikan status kepesertaan tetap aktif.

Ia pun mengajak ma­syarakat tidak menunggu sakit untuk menyadari pentingnya jaminan kesehatan. Sebab, tidak ada yang dapat memastikan kapan seseorang membutuhkan pelayanan medis. “Dulu mungkin kita merasa sehat-sehat saja sehingga tidak terlalu memikirkan jaminan kesehatan. Tetapi setelah mengalami sendiri, saya menyadari bahwa kita tidak pernah tahu kapan membutuhkan pela­yanan kesehatan. Karena itu, menurut saya, menjadi peserta JKN aktif itu sa­ngat penting,” pungkas Syahdati. (uus)