AGAM, METRO— Seekor harimau Sumatera betina berhasil dievakuasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar di Jorong Palimbatan, Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Selasa (11/8) sekitar pukul 19.35 WIB.
Sebelumnya, harimau tersebut sejak beberapa bulan terakhir muncul di permukiman warga dan bahkan sudah memangsa hewan ternak milik warga. Harimau berusia sekitar 2,5 hingga 3 tahun itu setelah berhasil masuk ke kandang perangkap yang dipasang Tim BKSDA Sumbar, selanjutnya dievakuasi ke BKSDA Bukittinggi.
Kepala Balai Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar Ade Putra mengatakan, penangkapan satwa ini berawal dari laporan warga yang resah karena memangsa ternak. Seekor kambing milik warga bernama Afkir Soni (45), dilaporkan diterkam pada Senin (10/8) siang.
“Setelah menerima laporan, Tim BKSDA Sumbar langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan. Tim kemudian melakukan verifikasi lapangan dan memeriksa tanda-tanda keberadaan harimau,” kata Ade, Rabu (12/8).
Dijelaskan Ade, tim melakukan pemetaan jejak serta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai langkah keselamatan. Mengingat lokasi berada dekat permukiman dan fasilitas pendidikan, BKSDA memutuskan memasang kandang jebak.
“Kami memasang kandang jebak pada Selasa sore (11/8).Kandang tersebut ditempatkan di sekitar lokasi harimau sebelumnya memangsa kambing warga.Sebagai umpan, tim menggunakan sisa kambing yang sebelumnya dimangsa harimau. Umpan tersebut ditempatkan di dalam kandang jebak untuk menarik harimau kembali ke lokasi,” jelas Ade.
Pemasangan perangkap, kata Ade, membuahkan hasil. Harimau jenis betina berhasil terperangkap. Petugas kemudian memastikan harimau dalam kondisi aman sebelum melakukan proses evakuasi. Satwa tersebut diperkirakan berusia sekitar 2-3 tahun.
“Harimau dievakuasi ke BKSDA Bukittinggi untuk menjalani pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Pemantauan di sekitar lokasi masih kita ilakukan. Hal itu untuk memastikan tidak ada kemunculan harimau lain,” ucap Ade.
Ade menegaskan, pihaknya akan melakukan kajian lebih lanjut untuk menentukan lokasi pelepasliaran harimau tersebut. Kajian meliputi survei populasi, kondisi habitat serta tingkat keamanan lokasi bagi harimau maupun masyarakat.
“Hasil pemantauan kamera perangkap menunjukkan populasi harimau di kawasan Palupuh masih cukup tinggi. Sehingga perlu dilakukan analisa dan langkah apa yang akan dilakukan,” tutupnya. (*)






