PAYAKUMBUH/50 KOTA

Batu Ginjal Jadi Pengingat, Peserta Mandiri Sadar Pentingnya JKN Tetap Aktif

×

Batu Ginjal Jadi Pengingat, Peserta Mandiri Sadar Pentingnya JKN Tetap Aktif

Sebarkan artikel ini
RAWAT INAP— Rafli, peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri, saat dalam perawatan di .Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Achmad Darwis.

LIMAPULUH KOTA, METRO — Pengalaman meng­ha­dapi batu ginjal membuat Rafli, peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Pekerja Bukan Penerima U­pah (PBPU) atau peserta mandiri, menyadari satu hal penting, yaitu sakit bisa datang kapan saja, sementara biaya pengobatan tidak selalu ringan. Rafli yang merupakan pe­tani asal Kabupaten Lima Puluh Kota ini, mengaku sempat menunggak iuran JKN sehingga status kepesertaannya tidak aktif. Ketika keluhan kesehatan mulai muncul, ia memilih menjalani pengobatan secara umum dengan biaya pribadi.

Namun, kondisi kesehatannya semakin memburuk hingga harus bebe­rapa kali mendapatkan pe­nanganan di instalasi gawat darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (R­SUD) dr. Achmad Darwis. “Dalam setahun terakhir, saya sering mengalami sakit pinggang dan terkadang nyeri saat bu­ang air kecil hingga urin berdarah. Saat itu saya berobat secara umum dan tidak menggunakan JKN karena status kepesertaan mandiri saya masih tidak aktif akibat menunggak,” ujar Rafli.

Dalam dua bulan terakhir, keluhan tersebut semakin sering muncul, terutama ketika Rafli melakukan aktivitas berat. Rasa sakit bahkan disertai pembengkakan pada kaki, mem­buatnya telah lima kali datang ke IGD untuk mendapatkan pertolongan medis.

Di tengah kondisi ter­sebut, petugas rumah sakit terus mengingatkan Rafli mengenai penting­nya status kepesertaan aktif. Setelah mempertimbangkan kebutuhan pe­ngobatan yang semakin besar, Rafli bersama keluarga akhirnya memutuskan untuk melunasi tunggakan iuran JKN. Ke­putusan itu menjadi titik balik bagi Rafli. Setelah status kepesertaannya aktif, pemeriksaan lebih lanjut dapat dilakukan hingga dokter menemukan adanya penumpukkan batu berukuran 1 x 2 sentimeter pada ginjal sebelah kiri dan membutuhkan tindakan operasi. “Se­telah didiagnosis adanya batu ginjal dan dokter mengatakan saya perlu menjalani operasi, saya sempat terkejut. Apalagi saya harus dirujuk ke rumah sakit di Kota Bukittinggi karena peralatan yang dibutuhkan tidak tersedia di rumah sakit sebelumnya. Namun, sa­ya kembali tenang karena pengobatan saya dijamin JKN,” kata Rafli.

Baca Juga  Bangunkan Rumah untuk Keluarga Miskin, Pak'Sa bakal Bantu Usaha Keluarga

Rafli menilai pengalaman tersebut menjadi pe­lajaran berharga bagi dirinya dan keluarga. Ia menyadari bahwa membayar iuran JKN secara rutin bukan sekadar kewajiban, tetapi bentuk persiapan menghadapi risiko kesehatan yang tidak dapat diprediksi. “Andai sejak awal saya memahami pentingnya status JKN aktif, mungkin saya akan berusaha rutin membayar iuran setiap bulan dan tidak menunggak. Ini men­jadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami,” tutur Rafli.

Rafli juga mengakui sebelumnya kerap membeli obat di apotek tanpa resep dokter ketika mengalami keluhan asam urat. Ia menduga kebiasaan tersebut, ditambah pola hidup yang kurang sehat, mungkin turut memengaruhi kondisi kesehatannya. Kini, ia menyadari bahwa keluhan kesehatan sebaiknya diperiksakan kepada tenaga medis agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Saat masih menunggu jadwal operasi, kondisi Rafli kembali menurun. Ia mengalami sakit perut, mual, dan muntah hebat hingga harus menjalani rawat inap. Menurutnya, pengalaman menjalani perawatan tersebut semakin memperlihatkan besarnya manfaat JKN bagi dirinya. “Meskipun saya dikenakan denda la­yanan rawat inap karena sebelumnya pernah me­nunggak, saya tidak keberatan. Itu menjadi konsekuensi yang harus saya terima atas kelalaian saya membayar iuran. Yang penting jangan sampai mengulanginya lagi,” ucap Rafli.

Rafli juga mengapresiasi pelayanan yang diterimanya selama menjalani perawatan. Ia me­ngaku mendapatkan pe­layanan yang baik dan ramah dari dokter maupun petugas rumah sakit. Rafli pun tidak mudah percaya terhadap informasi mengenai JKN yang beredar tanpa mengetahui kebenarannya. Menurutnya, pengalaman langsung sebagai pasien justru memberikan gambaran berbeda. “Saya sebagai pasien merasa dilayani dengan baik dan ramah. Saya se­ring melihat informasi di media sosial yang mengatakan pelayanan JKN tidak baik atau ada pembatasan hari rawat inap. Kenya­taannya, saya sendiri su­dah dirawat lebih dari tiga hari dan tetap mendapatkan pelayanan sesuai kon­disi medis berdasarkan diagnosa dokter,” je­las Rafli.

Baca Juga  Antisipasi Gangguan Kamtibmas, Joni Amir Ajak Masyarakat Pantau Orang Asing

Bagi Rafli, besarnya biaya pengobatan yang harus ditanggung jika di­bayar secara pribadi mem­buat manfaat JKN semakin terasa. Ia memperkirakan biaya pelayanan kesehatan yang diterimanya jauh lebih besar dibandingkan iuran rutin yang dibayarkan setiap bulan. “Kalau saya menabung sendiri, mungkin bertahun-tahun pun belum tentu cukup untuk membayar biaya pengobatan sebesar ini. Karena itu, sekarang saya benar-benar memahami betapa pentingnya JKN,” terang Rafli.

Rafli berkomitmen untuk tidak kembali menunggak. Ia berencana membayar iuran secara rutin setiap bulan agar status kepesertaannya tetap aktif dan perlindungan JKN dapat terus dirasakan keluarganya. “Ke depannya, saya akan rutin memba­yar iuran setiap bulan sebelum tanggal 10. Manfaat JKN sangat besar. Bukan hanya membantu dari sisi finansial, tetapi juga memberikan rasa aman ketika kita atau keluarga membutuhkan pelayanan kesehatan,” tambah Rafli.

Rafli berharap Program JKN terus dikelola dengan baik sehingga man­faatnya dapat dirasakan oleh banyak ma­sya­rakat. Ia mengimbau ma­syarakat, khususnya peserta mandiri, untuk tidak menunggu sakit terlebih dahulu baru membayar iurannya. “Hari ini saya membuktikan sendiri bahwa JKN sangat membantu dan pelayanannya ber­kualitas. Semoga kita semua sehat selalu dan iuran yang kita bayarkan dapat menjadi bagian dari gotong royong untuk membantu peserta lain yang membutuhkan. Mari kita jaga Program JKN dan jangan mudah percaya pada informasi yang belum tentu benar,” pungkas Rafli. (uus)