PAYAKUMBUH/50 KOTA

2.053 Warga Tidak Lagi Terisolasi, DPRD Kritisi Kinerja BPBD

×

2.053 Warga Tidak Lagi Terisolasi, DPRD Kritisi Kinerja BPBD

Sebarkan artikel ini
GORO—Masyarakat goro secara manual pakai cangkul membersihkan material tanah yang menimbun badan jalan.

LIMAPULUH KOTA, METRO —Sebanyak 600 Kepala Keluarga atau 2.053 jiwa Nagari Situjuah Ladang Laweh, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar, pada Kamis siang (14/5), sudah tidak lagi terisolasi. Akses jalan kabupaten ruas Ladang Laweh-Batas Batusangkar yang ditimbun tanah longsor, sudah dibersihkan warga dengan gotong royong, dibantu mobil penggelontor air milik Dinas Damkar.

“Jalan sudah bisa dilalui, setelah ratusan masyarakat kami, secara manual membersihkan material longsor. Alat berat pemda yang ditunggu, baru datang sore hari, selepas warga kami goro,” kata Wali Nagari Situjuah Ladang La­weh, Mawardi Dt Sinaro  Pa­neh, bersama Ketua Bamus Ustad Yulius, Kepala Jorong Atas Riswan,  ran Kepala Jo­rong Bawah Rijola Andiko.

Mawardi Dt Sinaro Paneh menyebut, ruas jalan yang sudah dibersihkan ratusan warga dibantu beberapa personel Damkar dan BPBD, ma­sih membutuhkan penanga­nan dengan alat berat. Sebab, lereng tebing yang memuntahkan longsor, masih dipenuhi material tanah berlumpur dan kayu tumbang. Begitu pula bahu jalan yang terban ke dalam jurang, juga perlu di­turap atau didam.

“Kemudian, sekitar seratus meter dekat jalan yang ditimbun longsor ini, badan jalan kabupaten juga berlubang, mirip sinkhole Situjuah. Lubang ini belum ditimbun sama sekali. Untuk sementara, warga yang ingin keluar-masuk nagari, harus kembali lewat ke jalan lama. Jalan ini sebelumnya tak dilewati lagi, karena bekas longsor juga,” kata Mawardi Dt Sinaro  Paneh dan Riswan.

Baca Juga  Damkar, Satpol PP, dan Satlinmas Berperan Aktif Melindungi Warga

Di sisi lain, anggota Komisi II DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky,  yang bi­dang kerjanya, termasuk kebencanaan dan infrastruktur umum menilai, BPBD Limapuluh Kota lambat dan kehila­ngan momentum, dalam menetapkan status tanggap darurat bencana. Padahal, status tanggap darurat sudah memenuhi syarat. Karena warga terisolasi, tiga sekolah libur, aktivitas ekonomi terganggu karena pedagang tak bisa jualan ke pasar nagari yang dibuka setiap Rabu.

“Contoh kelambananan dalam penetapan status tanggap darurat ini, petugas yang datang, tak dibekali logistik memadai. Bahkan, untuk alat berat pun, itu sempat pula pusing memikirkan BBM-nya. Makanya dari awal kami bersaran. Kalau dana operasio­nal terbatas, tetapkan status tanggap darurat untuk melegalisasi penggunaan Rp2,5 miliar pos dana BTT (Biaya Tak Terduga) yang ada dalam APBD 2026,” sentil Fajar Vesky.

Fajar berharap, kinerja dan performa BPBD Limapuluh Kota yang pernah terbaik di tingkat nasional, tidak menurun. “Manajerial di BPBD itu harus komunikatif, berjiwa lapangan, memahami aturan, dan tak boleh takut ambil kebijakan. Agar rakyat kita tak menderita, saat terjadi bencana. Kita punya dana BTT Rp2,5 miliar dalam APBD 2026. Gu­nakan itu untuk bencana. Jangan ditahan-ditahan,” kata Fajar Rillah Vesky.

Baca Juga  Payakumbuh Incar Piala WTN 2015

Apalagi, menurut Fajar Vesky, bencana yang kembali terjadi dalam beberapa hari ini, tak hanya di Situjuah La­dang Laweh. Tapi juga di wi­layah lainya di Limapuluh Kota. Termasuk di Nagari Tungkar, Nagari Situjuah Batua, Nagari Situjuah Banda Dalam. Kemudian juga longsor di ruas jalan provinsi Payakumbuh-Lintau di  Lareh Sago Halaban dan di Sariaklaweh, Akabiluru.

“Khusus  badan jalan kabupaten ruas Ladang Laweh-Batas Batusangkar yang berlubang mirip sinkhole, harus segera ditimbun. Akses jalan sementara saat ini, belum aman. Karena pernah longsor di titik yang sama. Maka, kalau tak bisa dengan BTT, perbaiki dengan program dan ke­giatan OPD. Kapan perlu, de­ngan TKD yang dikembalikan dan sedang direview APIP. Apalagi, ini sudah ada laporan dan SK Bencana dari Nagari,” tegas Fajar Rillah Vesky.

Selain di Situjuah Ladang Laweh, Fajar Rillah Vesky juga meminta pemda Limapuluh Kota, menangani bencana yang terjadi di Nagari Tungkar dan Nagari Situjuah Batua. “Di Tungkar, ada rumah guru, yang halamanya longsor dan butuh bantuan pemda. Kemudian, ada jalan dan irigasi yang ditimbun longsor, lubuk ikan larangan dan sawah rusak. Terakhir, ada sungai Batang Sandir yang perlu dinormalisasi, memerlukan bantuan  BWS V Sumatera,” kata Fajar Vesky. (uus)