METRO PADANG

Doa Bersama Siswa untuk Sahabat yang Hilang di Pantai Ujung Karang, SDN 06 Kampung Lapai Tunggu Keajaiban untuk Rasyid dan Zafran

×

Doa Bersama Siswa untuk Sahabat yang Hilang di Pantai Ujung Karang, SDN 06 Kampung Lapai Tunggu Keajaiban untuk Rasyid dan Zafran

Sebarkan artikel ini
PANJATKAN DOA UNTUK RASYID, ZAFRAN— Kepala SDN 06 Kampung Lapai, Abdullah Ginting, memimpin doa bersama majelis guru serta ratusan siswa untuk Rasyid dan Zafran, yang hingga hari keempat belum ditemukan saat hilang di Perairan Ujung Karang, belakang Kampus UBH, Ulak Karang, Selasa (21/4).

PADANG, METROSuasana riuh tawa yang biasanya menyelimuti SDN 06 Kampung Lapai, Kecamatan Nanggalo, seketika berganti dengan keheningan yang menyayat hati pada Selasa (21/4) pagi. Di bawah langit Padang yang mendung, kepala sekolah, ratusan siswa, majelis guru, berkumpul di halaman sekolah bukan untuk upacara rutin, melainkan untuk melantunkan doa bersama demi keselamatan dua siswa mereka yang hilang terseret ombak.

Rasyid (siswa kelas 2A) dan Zafran (siswa kelas 3B) dilaporkan hilang sejak empat hari lalu setelah terseret arus di Pantai Ujung Karang, tepatnya di belakang Kampus Universitas Bung Hatta (UBH), Sabtu (18/4). Hingga berita ini diturunkan, keberadaan kedua bocah malang tersebut masih menjadi misteri.

Kepala SDN 06 Kampung Lapai, Abdullah Gin­ting, tak kuasa menahan getir saat memimpin doa. Dengan suara bergetar, ia menyebut peristiwa ini sebagai duka terdalam bagi keluarga besar sekolah.

“Kami semua di sini a­dalah keluarga. Rasyid dan Zafran adalah anak-anak kami. Hari ini kami me­ngetuk pintu langit, memohon keajaiban kepada Allah SWT agar mereka se­gera ditemukan,” ujar Abdullah Ginting di hadapan barisan siswa yang tertunduk dengan mata berkaca-kaca.

Baca Juga  Besok Hari Terakhir PPKM Darurat, PBM Tatap Muka, Disdik Tunggu Instruksi

Kesedihan paling da­lam terasa di ruang kelas 2A dan 3B. Beberapa kursi kosong yang biasanya diisi oleh tawa Rasyid dan Zafran kini menjadi pemandangan yang memilukan bagi teman-teman sebayanya.

“Pahlawan” Ompre­ngan MBG

Ummi Suhaimi, guru Pendidikan Agama Islam (PAI), mengenang kedua­nya sebagai sosok yang ceria dan aktif.

“Harapan kami hanya satu, mereka pulang. Kami rindu melihat mereka kem­bali berseragam sekolah dan bermain di halaman ini,” ungkap Ummi sambil menyeka air mata.

Ummi pun mengenang salah satu momen yang paling membekas bersama Rasyid, adalah semangatnya saat jam makan siang tiba.

“Jika mobil MBG (Makan Bergizi Gratis) sudah datang, Rasyid itu selalu yang paling rajin. Dia pasti langsung menjemput omprengan MBG untuk dibawa ke kelas teman-temannya,” kenang Ummi de­ngan suara lirih.

Pencarian Tim SAR Di­perluas

Memasuki hari keempat, upaya pencarian di lokasi kejadian terus diintensifkan. Kepala Kantor SAR Padang, Abdul Malik, menyatakan bahwa operasi SAR dilanjutkan dengan strategi yang diperluas. Sejak pagi hari, tim telah dibagi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU).

“Tim SAR gabungan melakukan penyisiran di area laut yang diperkirakan mencapai lebih kurang enam nautical mile (NM) dari Lokasi Kejadian Perkara (LKP). Titik pencarian ditentukan berdasarkan koordinat yang telah dipetakan, mencakup beberapa sektor di perairan Ulak Karang,” jelas Abdul Malik.

Baca Juga  17 Puskesmas di Padang Sudah Raih Akreditasi Paripurna

Namun, ia mengakui luasnya area pencarian menjadi kendala utama. Kondisi cuaca yang berawan dengan kecepatan angin sekitar 5 knot juga turut memengaruhi efektivitas pergerakan tim di lapangan.

Untuk diketahui, peristiwa memilukan ini bermula pada Sabtu (18/4/2026) pagi sekitar pukul 10.00 WIB saat kedua korban, Rasyid dan Zafran bersama rekan-rekannya mandi di pantai. Sekitar pukul 12.00 WIB, Rasyid dan Zafran diduga hanyut terseret arus yang kuat. Upaya pencarian awal sempat dilakukan secara mandiri oleh warga, namun tidak membuahkan hasil hingga akhirnya dilaporkan ke pihak berwenang.

Saat ini, puluhan personel gabungan diturunkan, melibatkan unsur Kantor Pencarian dan Pertolo­ngan Kelas A Padang, TNI, Brimob Polda Sumbar, Polairud, BPBD Kota Padang, Damkar, PMI, hingga relawan dan masyarakat se­tempat.

Di bawah langit men­dung yang menggelayut di atas Kota Padang, doa-doa terus dipanjatkan. Sekolah, keluarga, dan seluruh warga berharap ada keajaiban yang membawa kedua bo­cah ceria itu pulang ke rumah. (ren)