AGAM,METRO— Kasus keracunan akibat menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Agam. Kali ini, ratusan siswa dan guru di Kecamatan Palupuah, dilarikan ke Puskesmas hingga rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Hingga Rabu sore (2/9), jumlah korban keracunan MBG ini mencapai 334 orang. Angka itu bertambah dari pendataan awal yang bejumlah 237 orang setelah tim gabungan dari pemerintah dan kecamatan melakukan pengecekan ke sejumlah sekolah serta fasilitas kesehatan di Kecamatan Palupuah.
Dari total 334 orang tersebut, 273 di antaranya merupakan siswa sekolah dasar (SD) se-Kecamatan Palupuah dan 19 guru SD. 40 korban lainnya berasal dari siswa dan dua guru SMP Negeri 1 Palupuh. Mirisnya, dua siswa harus dirujuk ke RSUD Bukittinggi dan satu di RST Bukittinggi untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.
Gejala yang dilaporkan beragam, mulai dari pusing, demam, mual, sakit perut hingga diare. Sedangkan menu MBG yang disantap para korban terdiri dari nasi putih, sayur timun selada, telur puyuh, serta tahu. Pascakejadian, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh yang dikelola Yayasan Affa Adicitta Mitra Berjaya, dihentikan.
Camat Palupuah Nong Rianto mengatakan, pendataan dilakukan setelah pihaknya menginstruksikan jajarannya turun ke lapangan untuk mendata jumlah korban yang keracunan MBG.
“Berdasarkan pendataan hingga Rabu (2/9), sebanyak 334 orang tercatat terdampak dugaan keracunan tersebut. Gejala yang dialami oleh korban beragam. Mulai dari pusing, demam, mual dan diare. Kami belum bisa memastikan penyebab kepastian keracunan diduga konsumsi MBG. Namun dari data 334 orang itu memang keracunan sejak Selasa (1/9),” kata Rianto.
Keluhan tersebut dirasakan sejak Senin (31/8) sore.Dimana penerima manfaat yang mengalami gangguan kesehatan kemudian terus bertambah hingga diketahui secara lebih luas pada Rabu (2/9).
Kepala SDN 08 Nan Limo Jonnedi mengatakan, sebanyak 54 siswanya mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan tersebut.
“MBG masuk ke sekolah pada Senin dengan menu nasi putih, sayur timun dan selada, telur puyuh dan tahu. MBG diterima sekolah pada senin (31/9). Lalu, siswa mulai merasakan keluhan kesehatannya keesokan harinya,” kata Limo Jonnedi.
Limo menuturkan, keluhan yang dialami siswa di antaranya pusing, mual, muntah dan diare. Sehingga siswa itu dibawa ke puskesmas.. Pascakejadian ini, , MBG mulai tidak disalurkan ke sekolahnya.
“Ketika Selasa MBG tidak masuk karena kami tolak, sebab siswa sedikit yang masuk sekolah. Untuk hari ini masih belum masuk MBG,” ungkapnya.
Menyikapi kejadian tersebut, Pemerintah Kabupaten Agam langsung turun ke lapangan untuk memastikan kondisi para penerima manfaat sekaligus menelusuri dugaan sumber gangguan kesehatan tersebut.
Wakil Bupati Agam Muhammad Iqbal bersama Sekretaris Daerah Dr. Mhd Lutfi AR dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Agam dr Hendri Rusdian meninjau langsung Puskesmas Palupuh serta dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh.
Dalam peninjauan tersebut, pemerintah daerah memastikan para penerima manfaat yang mengalami keluhan mendapatkan pelayanan medis. Pemeriksaan terhadap makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut juga dilakukan oleh pihak berwenang.
Sebagai langkah antisipasi, Bupati Agam melalui Wakil Bupati menginstruksikan agar seluruh aktivitas operasional dan pendistribusian makanan dari dapur SPPG Pasia Laweh dihentikan sementara, terhitung Rabu
Penghentian tersebut dilakukan hingga hasil pemeriksaan laboratorium dari Balai Pengawas Obat dan Makanan (Balai POM) Sumatera Barat keluar.
“Kami langsung turun ke lapangan untuk memastikan seluruh penerima manfaat yang mengalami keluhan mendapat penanganan medis yang optimal,” ujar Wakil Bupati Agam Muhammad Iqbal.
Peninjauan itu turut melibatkan Kapolsek Palupuh Iptu M Raufuddin Silitonga, unsur Muspika, Balai POM Sumatera Barat serta pihak yayasan penyelenggara SPPG. Dari pihak kepolisian, penelusuran terhadap dugaan penyebab kejadian juga dilakukan dengan mendatangi langsung dapur SPPG Pasia Laweh.
Kapolsek Palupuh Iptu M Raufuddin Silitonga mengatakan, pihaknya telah mengambil sejumlah sampel makanan dari SPPG Pasia Laweh untuk diperiksa oleh Balai POM Sumbar.
“Sampel makanan dari SPPG Pasia Laweh sudah diambil untuk diperiksa oleh Balai POM Sumbar dan sampai saat ini kami masih menunggu hasil laboratorium tersebut,” katanya.
Menurutnya, penghentian sementara operasional dapur SPPG dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian sembari menunggu hasil pemeriksaan. Pihaknya belum menyimpulkan penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para penerima manfaat.
“Penghentian sementara ini murni langkah kehati-hatian, bukan kesimpulan akhir. Kami masih menunggu hasil laboratorium dan keterangan medis sebelum bisa memastikan penyebab pastinya. Hasil pemeriksaan laboratorium Balai POM Sumatera Barat nantinya akan menjadi salah satu dasar untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan tersebut,” tegas dia. (pry)






