PARIAMAN, METRO— Dua dari lima siswa MTsN 1 Kota Pariaman yang diduga mengalami keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirujuk ke RSUP Dr M Djamil Padang untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif, Rabu pagi (16/9).
Kedua pelajar itu bernama Cacha Dwi Hariwati, 15 tahun, dan Luthfiyah Latisya, 14 tahun. Cacha mengalami sesak, denyut nadi lemah, tekanan darah rendah, mual, serta muntah setelah mengonsumsi menu MBG. Sementara Luthfiyah mengalami sesak disertai kondisi denyut nadi dan jantung lemah.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman, Rudi Repenaldi, membenarkan dua siswa yang keracunan tersebut dirujuk ke RS M Djamil Padanag karena kondisi kedua siswa memerlukan penanganan lebih lanjut.
“Dua orang perempuan korban keracunan MBG dirujuk ke RS M Djamil Padang tadi pagi. Keduanya sempat menjalani perawatan di RSUD Dr Sadikin,” kata Rudi.
Rudi mengatakan, sejak mengalami keracunan, kelimanya sudah mendapatkan perawatan intensif. Namun, dua di antaranya belum menunjukkan perubahan signifikan.
“Pihak RSUD Dr Sadikin menyampaikan kondisi pasien alami tekanan darah dan denyut nadi yang melemah setelah dua hari di rawat. Supaya pengobatannya lebih intensif kita rujuk. Kita khawatir nanti ada sesuatu atau kelainan, makanya dibawa untuk perawatan,” ujar Rudy.
Sebelumnya, jumlah siswa yang mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Pariaman, bertambah menjadi 126 orang yang berasal dari dua sekolah. Jumlah tersebut berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Pariaman, pada Selasa (15/9).
Kabid Kesehatan Masyarakat dan Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Pariaman, Susrikawati, mengatakan 126 siswa yang menjadi korban keracunan MBG ini berasal dari dua sekolah yang menerima makanan dari SPPG Pasir Pauh Pariaman Tengah.
“Data terakhir itu ada sekitar 126 siswa yang diduga keracunan. Itu 125 siswa MTsN 1 Pariaman, sementara satu lagi siswa SMPN 1 Pariaman. Kedua sekolah tersebut mendapatkan menu MBG yang sama. Gejala mulai dialami para siswa setelah menyantap makanan pada Senin siang (14/9) ,” kata Susrikawati, Selasa (15/9).
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman, Rudi Repenaldi mengakui hingga Selasa (15/9), masih ada lima korban yang dirawat. Rinciannya, empat siswa dirawat di Rumah Sakit Sadikin dan satu siswa di Rumah Sakit Yamin.
“Para siswa itu tetap dirawat atas permintaan orang tua yang khawatir kondisi anaknya kembali memburuk setelah diperbolehkan pulang. Jadi orang tua ingin anak-anaknya ini benar-benar pulih baru mau dibawa pulang,” tutur Rudi.
Sebelumnya, kasus keracunan massa yang diduga akibat menyantap makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) masih saja terjadi di Sumatra Barat (Sumbar). Setelah sebelumnya ratusan siswa dan guru keracunan di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, kini insiden serupa terjadi di Kota Pariaman.
Puluhan siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Kota Pariaman mengalami gejala seperti mual, muntah hebat, pusing dan sakit perut. Mereka kemudian dilarikan ke sejumlah Puskesmas terdekat, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Yamin dan RS Sadiqin untuk mendapatkan perawatan medis.
Informasinya, menu yang dikonsumsi siswa terdiri dari nasi putih, chicken karage atau ayam fillet goreng tepung dengan saus lada hitam, tahu goreng, tumis kacang panjang campur jagung, serta sepotong melon.
Dinas Kesehatan Kota Pariaman pun telah mengambil sampel makanan menu MBG yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasir Pauh, untuk pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium dan mengungkap penyebab puluhan siswa mengalami keracunan tersebut.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh Kepala Sekolah MTsN 1 Kota Pariaman, Tarmizi, insiden bermula pada jam istirahat sekolah sekitar pukul 10.00 WIB. Pada saat itu, para siswa dari kelas 7, 8, dan 9 menyantap menu makanan bergizi yang telah disediakan.
Namun, situasi berubah mencekam ketika waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB atau tepat setengah jam berselang. Sejumlah siswa mulai mengeluhkan gejala fisik yang mengarah pada keracunan makanan, seperti mual, muntah hebat, pusing dan sakit perut.
Meskipun awalnya keluhan tersebut hanya dirasakan oleh segelintir anak, jumlah korban melonjak dengan cepat dalam waktu singkat akibat gejala yang menyebar secara masif. Pihak sekolah yang sigap melihat kondisi siswa langsung mengambil tindakan darurat dengan melarikan puluhan korban ke rumah sakit dan puskesmas. (*)






