AGAM, METRO— Rumah Sakit Padang Eye Centre (PEC) Agam resmi beroperasi setelah menggelar grand opening di Jalan Raya Pasia, Ampang Gadang, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Rabu (9/9).
Rumah sakit yang semula dirancang sebagai fasilitas khusus mata itu kini hadir dengan status rumah sakit umum. Perubahan tersebut membuka peluang untuk memperluas akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat Agam maupun daerah di sekitarnya.
Bupati Agam Benni Warlis menyambut keberadaan RS PEC Agam sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah mewujudkan visi Agam Sehat. Ia berharap fasilitas kesehatan tersebut terus berkembang dan menjadi salah satu pilihan utama masyarakat.
“Ini sudah merupakan harapan masyarakat semuanya, cita-cita kita juga, bagian dari visi kita juga, Agam Sehat,” kata Benni.
Menurutnya, kehadiran RS PEC Agam menjadi salah satu langkah nyata dalam mewujudkan visi tersebut melalui kerja sama antara pemerintah daerah dan pihak investor.
Benni juga menilai lokasi rumah sakit cukup strategis karena berada di kawasan yang menghubungkan sejumlah wilayah di Kabupaten Agam dengan daerah lain di Sumatera Barat.
“Ini sangat strategis sekali, bisa menampung kebutuhan-kebutuhan dari Bukittinggi. Kalau di sini pelayanan lebih baik, itu akan beralih,” ujarnya.
Selain akses yang dinilai cukup luas, kawasan Ampek Angkek juga dianggap memiliki lingkungan yang lebih sejuk dan relatif terbebas dari persoalan kemacetan seperti di kawasan perkotaan.
Karena itu, Benni berharap RS PEC Agam tidak hanya melayani masyarakat setempat, tetapi mampu berkembang menjadi fasilitas kesehatan dengan jangkauan pelayanan yang lebih luas.
“Harapan kita tentu ini rumah sakit yang terdepan. Bukan saja oleh Agam, Sumatera Barat, tapi juga untuk nasional,” katanya.
Pemkab Agam, lanjut Benni, siap mendukung pengembangan rumah sakit, termasuk dalam hal yang berkaitan dengan kemudahan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah akses pasien pengguna BPJS Kesehatan. Pemerintah daerah akan membantu mempertemukan dan memfasilitasi komunikasi antara pihak rumah sakit dengan BPJS agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan fasilitas kesehatan.
“Karena masyarakat kita kan tidak semuanya mampu. Jadi inilah yang kita fasilitasi. Pemerintah daerah memfasilitasi untuk menghubungkan dengan BPJS,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Tanjung Alam Medika Mandiri, dr. Heksan, Sp.M(K), mengatakan perubahan konsep dari rumah sakit khusus mata menjadi rumah sakit umum merupakan tantangan tersendiri bagi pengelola.
Namun, perubahan tersebut justru dipandang sebagai peluang untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih lengkap.
“Ini sudah takdir Allah. Kita rencananya mau buka rumah sakit mata, tetapi karena regulasi tiba-tiba harus menjadi rumah sakit umum. Jadi keberkahan jadinya, dan kami akan merubah image juga dari para owner,” kata Heksan.
Ia menegaskan, pengelola berkomitmen memberikan pelayanan terbaik dengan dukungan investasi serta teknologi kesehatan yang memadai.
Menurutnya, teknologi tidak hanya memberikan manfaat bagi pasien, tetapi juga membuat tenaga medis dapat bekerja lebih aman dan nyaman sehingga kemampuan mereka bisa dioptimalkan.
“Karena dengan teknologi yang bagus, dokter akan bekerja dengan nyaman. Lebih aman, nyaman dan aman. Karena dengan teknologi, mereka bisa mencapai titik kemampuan tertingginya,” ujarnya.
Pada awal operasional, RS PEC Agam memiliki sekitar 50 tempat tidur dengan pilihan layanan mulai kelas VIP hingga kelas III. Fasilitas perawatan intensif dan sejumlah perangkat medis pendukung, termasuk ventilator, juga telah disiapkan.
Heksan mengatakan fasilitas tersebut telah memenuhi kebutuhan dasar rumah sakit umum, sementara peningkatan kapasitas dan pengembangan layanan akan dilakukan secara bertahap.
“Untuk tahap awal, semua tercukupi. Basisnya tercukupi semua, dengan teknologi yang cukup bagus,” katanya.
RS PEC Agam juga diperkuat tenaga medis dari berbagai bidang, termasuk dokter spesialis dan subspesialis. Pengelola, kata Heksan, tidak ingin rumah sakit hanya dikenal melalui satu layanan unggulan.
“Sekarang kita tidak unggulan, Pak. Semuanya unggul,” ujarnya.
Beberapa layanan yang disiapkan antara lain penanganan penyakit jantung dan hipertensi, serta layanan anak dan perinatologi bagi bayi baru lahir yang membutuhkan perawatan khusus.
Heksan menilai keberadaan tenaga dokter spesialis harus diimbangi dengan fasilitas dan teknologi yang memadai. Ia menyebut Sumatera Barat memiliki banyak dokter berkualitas, tetapi pengembangan kemampuan mereka selama ini turut dipengaruhi keterbatasan fasilitas.
“Dokter kita hebat-hebat sebenarnya. Tapi karena memang keterbatasan teknologi, fasilitas, kita menganggap kita minder,” katanya.
RS PEC Agam untuk sementara menjadi satu-satunya rumah sakit umum dalam kelompok usaha tersebut. Rumah sakit di Ampek Angkek ini pun diposisikan sebagai proyek percontohan yang akan terus dikembangkan.
Heksan memastikan pengembangan tidak berhenti pada seremoni grand opening.
“Akan lebih besar, insya Allah. Mudah-mudahan agar masyarakat sekiranya terlayani semuanya,” ujarnya.
Dengan dukungan pemerintah daerah, pengelola, tenaga medis dan penguatan kerja sama jaminan kesehatan, RS PEC Agam diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan sekaligus menjadi alternatif rujukan bagi warga yang selama ini bergantung pada fasilitas kesehatan di kawasan perkotaan. (pry)






