SAWAHLUNTO/SIJUNJUNG

Kawasan Transmigrasi Padang Tarok, Tim Ekspedisi Patriot IPB Kaji Potensi Hilirisasi Pisang Kepok Jadi Tepung

×

Kawasan Transmigrasi Padang Tarok, Tim Ekspedisi Patriot IPB Kaji Potensi Hilirisasi Pisang Kepok Jadi Tepung

Sebarkan artikel ini
KAJITIM EKSPEDISI—i Tm Ekspedisi Patriot Institut Pertanian Bogor (IPB) mengkaji potensi pisang kepok sebagai komoditas bernilai tambah di kawasan transmigrasi Padang Tarok SP 1, KT Muaro Takung - Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung

SIJUNJUNG, METRO— Tim Ekspedisi Patriot Institut Pertanian Bogor (IPB) mengkaji potensi pisang kepok sebagai komoditas bernilai tambah di kawasan transmigrasi Padang Tarok SP 1, KT Muaro Takung – Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung. Tim melakukan observasi lahan, wawancara dengan masyarakat transmigran selaku petani pi­sang kepok, serta research and development (R&D) pengolahan pisang kepok menjadi tepung pisang.

Kegiatan ini dilakukan oleh Muh. Asharuddin, Argunia Cristal Kurni, A. Nur Fajar Oktaviani, Sinta Naria Suryani, dan Afrisse Nur Hakim Al Fadil sebagai bagian dari upaya Tim Ekspedisi Patriot IPB dalam mendorong hilirisasi dan peningkatan nilai tambah komoditas lokal masyarakat transmigran. Tim mendapatkan gambaran terkait produksi, pemasaran, pemanfaatan hasil panen, hingga kendala yang dihadapi.

Berdasarkan hasil pe­ngamatan awal, pisang kepok merupakan salah satu komoditas yang cukup banyak ditemukan di kawasan transmigrasi Pa­dang Tarok SP 1, disamping komoditas sawit sebagai komoditas unggulan di Kawasan Transmigrasi Muaro Takung – Kamang Baru. Pemanfaatan pisang kepok hingga saat ini masih didominasi oleh penjualan dalam bentuk segar kepada tengkulak dengan harga rata-rata sekitar Rp5 ribu per sisir, jauh dari harga pasar di luar kawasan trans yang mencapai hingga Rp.15 ribu per sisir.

Perbedaan harga ter­sebut menunjukkan adanya peluang peningkatan nilai ekonomi melalui penguatan pemasaran maupun pengolahan pasca panen. Selain persoalan harga, akses transportasi menjadi salah satu kendala utama dalam pemasaran hasil pertanian ma­syarakat Padang Tarok SP 1. Kondisi jalan yang sulit dilalui, terutama ketika hujan, membuat petani kesulitan membawa hasil panen keluar kawasan.

Baca Juga  Perlawanan Masyarakat Silungkang Diperingati

Akibatnya, sebagian pisang yang telah memasuki masa panen tidak selalu dapat dipasarkan. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh keterbatasan akses transportasi dari kawasan Pa­dang Tarok SP 1 menuju pusat kecamatan. Keterbatasan akses membuat petani menghadapi kendala dalam membawa hasil panen ke pasar yang le­bih luas sehingga sebagian besar hasil produksi masih bergantung pada tengkulak. Warga trans mengatakan bahwa, ke­tersediaan pisang di kawasan tersebut cukup melimpah sehingga memiliki peluang untuk di­kem­bangkan men­jadi produk olahan.

Melihat kondisi tersebut, Tim Ekspedisi Patriot IPB tidak hanya melakukan pemetaan potensi, tetapi mulai melakukan research and development (R&D) untuk me­ng­kaji pengolahan pisang kepok menjadi tepung pisang. Pengembangan tepung menjadi salah satu alternatif hilirisasi karena dapat memperpanjang umur simpan komoditas, mempermudah distribusi, serta membuka peluang pemanfaatan pisang sebagai bahan baku ber­bagai produk pangan.

Proses R&D dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan karakteristik pisang kepok yang tersedia di kawasan, potensi bahan baku, proses pengolahan, serta peluang pengembangan pro­­­­duk yang dapat diterapkan oleh masyarakat.  Kajian tersebut diharapkan dapat menghasilkan formulasi dan metode pengolahan yang sederhana, efisien, serta memungkinkan untuk diterapkan pada skala masyarakat.

Baca Juga  Permintaan Warga Sawahlunto Periksa Kesehatan Sangat Besar, Tertinggi di Sumbar dan Melampaui Target Nasional

Muh. Asharuddin selaku Koordinator Lapangan Tim Ekspedisi Patriot IPB menjelaskan bahwa R&D tersebut menjadi bagian dari tahapan awal sebelum pelaksanaan ke­giatan pemberdayaan dan pelatihan kepada masyarakat. “Kami memulai dari observasi dan wawancara terlebih dahulu untuk memahami kondisi di lapangan, termasuk bagaimana ketersediaan pisang, pola pemasaran, harga jual, dan kendala yang dihadapi petani. Dari situ kami melihat bahwa pisang kepok memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut, salah satunya menjadi tepung pisang,” jelasnya.

Argunia Cristal Kurni menambahkan bahwa tim sengaja melakukan R&D terlebih dahulu agar materi dan teknologi yang nantinya diberikan kepada masyarakat melalui kegiatan pelatihan benar-benar sesuai dengan kondisi kawasan. “Harapannya nanti bukan hanya memberikan pelatihan, tetapi kami sudah memiliki hasil uji dan metode yang dapat dipraktikkan oleh masyarakat. Jadi, ketika pelatihan dilaksanakan, masyarakat tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga dapat langsung belajar mengolah pisang kepok menjadi produk yang memiliki nilai tambah, ungkap Argunia.

Pengembangan te­pung pisang kepok juga menjadi bagian dari upaya Tim Ekspedisi Patriot IPB dalam mendorong diversifikasi ekonomi ma­syarakat kawasan transmigrasi.

Selama ini, kelapa sawit menjadi salah satu komoditas utama ma­sya­rakat, sementara pisang kepok berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan apabila dikelola melalui pendekatan hilirisasi. (ndo/rel)