METRO SUMBAR

IPLM dan TKM Masih Rendah, Kepala Perpusnas Ingatkan Pemda Hilangkan Ego Sektoral

×

IPLM dan TKM Masih Rendah, Kepala Perpusnas Ingatkan Pemda Hilangkan Ego Sektoral

Sebarkan artikel ini
RAKOR—Kepala PerpusnasRI, E. Aminuddin Aziz bersama Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumbar, Jumaidi dan Asisten Administrasi Umum Medi Iswandi saat Rakor Perpustakaan Sumbar, Tahun 2026 di Auditorium Gubernuran Sumbar, Sabtu (8/8).

PADANG, METRO–Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) masyarakat Provinsi Su­ma­tera Barat (Sumbar) masih sangat rendah. Kondisi ini terjadi karena program literasi yang dilaksanakan pemerintah daerah (pemda) belum menjadi tanggungjawab bersama. Hal tersebut diungkapkan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, E. Ami­nuddin Aziz, saat menjadi Keynote Speaker Rapat Koordinasi (Rakor), Perpustakaan Provinsi Sumbar, Tahun 2026 di Auditorium Gubernuran Sumbar, Pa­dang, Sabtu (8/8).

Diungkapkannya, rata rata IPLM kabupaten kota masih sangat rendah. Angkanya 10, 37 dari angka 100. Sementara, rata rata IPLM tingkat provinsi 29, 36. Sedangkan nasional di angka 40,068. “Sementara, rata rata TKM tingkat pro­vinsi dan kabupaten kota angkanya 54,8, sangat jomblang,” terangnya. Sementara, Pemprov Sumbar, IPLM di angka 43, 36. TKM Pemprov Sumbar diangka 59, 42.

Kondisi jomblangnya IPLM dengan TKM ini terjadi karena kegiatan budaya gemar membaca lebih tinggi. Tapi bicara literasi bicara pemahaman, baik se­belum membaca, sedang membaca sudah mem­baca.

Menurutnya, dari sekian banyak persoalan terkait literasi, dasar utamanya hilangkan ego sektoral. Karena bicara urusan bersama, literasi salah satu Asta Cita yang diusung Presiden RI Prabowo Subianto. Program literasi juga tertuang dalam RPJM dan RPJMD. Pertanyaannya, apa literasi sudah menjadi program bersama yang dikerjakan bersama?

“Ketika memahami literasi membangun budaya baca tulis sebagai pekerjaan bersama, maka akan menjadi tanggungjawab bersama. Ini nanti ketika ada keberhasilan dan kegagalan, akan tanggung renteng secara bersama pula. Jangan salahkan pihak tertentu, karena kita memahaminya tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Baca Juga  Tinjau Pos PAM Nataru, Gubernur dan Kapolda Nyatakan Perayaan Nataru Kondusif

Jika sudah menjadi tang­­gung jawab bersama, maka perlu dikoordinasikan. Apa. Saja yang harus dikordinasikan? Aminuddin menjelaskan, pertama, urusan hati dan pikiran harus bersama. Satukan niat kerjakan bersama.

Kedua, yang harus di­ber­samakan adalah program. Tetapi, program ha­rus ada payungnya. Perpusnas ada program payungnya, diturunkan ke pemerintah provinsi, kabupaten kota dan dilaksanakan oleh masyarakat. “Se­karang ada perpustakaan sampai di desa-desa. Yang menyatukan program dilakukan bersama-sama. Sehingga menjadi bola salju yang lama-lama membesar, “ terangnya.

Aminuddin mengung­kapkan, ada tiga program besar canangkan pemerintah pusat. Pertama, bicara penguatan literasi dengan berbagai macam bentuknya. Kedua, pengaru­su­ta­maan naskah nusantara. “Saat ini lebih dari seribu naskah manuskrip  Sumbar diserahkan ke Pemerinta Provinsi Sumbar,” terangnya.

Ketiga, bicara standarisasi dan akreditasi perpustakaan. “Tiga program besar dengan payung besar program pemerintah pusat, harus diturunkan dan diuraikan di tingkat provinsi kabupaten kota dan masyarakat,” terangnya. Dengan adanya tiga program besar tersebut, yang harus dikoordinasikan menurut Aminuddin, ma­sa­lah anggarannya. Diakuinya, saat ini anggaran sangat terbatas. “Yang harus dikordinasikan anggaran dari APBD. Alokasinya di masing-masing OPD. Ketika ada ursan tiga program besar tersebut, tidak hanya tanggungjawab satu OPD saja. Tapi tanggungjawab bersama. Jadi tidak ada yang mengklaim,” tegasnya.

Sementara, terkait persoalan IPLM dan TKM, menurutnya adalah ma­salah kelengkapan data, kordinasi antar OPD, dan pemahamamn tentang tugas tanggungjawab dan program.

Baca Juga  Bupati Pessel Ajak Masyarakat Perangi Narkoba dan LGBT

Mewakili Gubernur Sum­­­bar, Asisten Administrasi Umum, Medi Iswandi menekankan pentingnya memperkuat budaya gemar membaca di tengah derasnya transformasi di­gi­tal.  Lewat program Tran­sfor­masi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), masyarakat diajak menjadikan perpustakaan sebagai tempat bertukar ilmu, melatih keterampilan, hingga membuka peluang meningkatkan ekonomi. “Gubernur mengimbau seluruh pihak untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi, mengakselerasi inovasi digital, mengoptimalkan perpustakaan berbasis inklusi sosial, serta terus meningkatkan status akreditasi perpustakaan,” kata Medi.

Ia juga mengingatkan para kepala perangkat da­erah yang mengurus perpustakaan, agar tidak lengah soal akreditasi. Akreditasi bukan sekadar formalitas, melainkan indikator kualitas layanan, baik dari sisi administrasi, operasional, maupun pelayanan publik secara keseluruhan. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumbar, Jumaidi, men­je­las­­kan, rakor digelar untuk menyamakan visi perpustakaan se-Sumbar sekaligus mem­perkuat sinergi dengan Perpusnas. Forum ini juga menjadi ajang evaluasi capaian program literasi di daerah. Acara dilanjutkan dengan sesi dialog bersama Pustakawan Ma­dya Perpusnas RI. Da­lam dialog itu dibahas sinkronisasi perencanaan serta penyelarasan program, kegiatan, dan anggaran antara pemerintah pusat dan daerah. Kegiatan dihadiri jajaran Dinas Perpustakaan, Dinas Pemberda­yaan Masyarakat dan De­sa, Dinas Pendidikan, serta para pegiat literasi dari seluruh kabupaten/kota se-Sumbar. Para peserta terlihat antusias mengikuti sesi dialog dan tanya jawab seputar strategi penguatan literasi di Sumbar.(fan)