METRO SUMBAR

Dari Pasar ke Tanah Suci, Dasman Buruh Angkat Jemput Kemuliaan di Makkah

×

Dari Pasar ke Tanah Suci, Dasman Buruh Angkat Jemput Kemuliaan di Makkah

Sebarkan artikel ini
BERSAMA—Dasman (67) alias Pak Das bersama pembimbing haji (KBIHU) Tanahdatar. H. Aulia Rijal, LC,.MA sudah berada di Tanah Suci Makkah.

BATUSANGKAR, METRODi tengah keriuhan Pasar Atas Batusangkar, derit roda gerobak dorong milik Dasman (67) adalah suara yang akrab selama puluhan tahun. Pak Das, begitu ia disapa, menghabiskan separuh usianya di sana—mengadu nasib sebagai buruh angkut barang demi menyambung hidup dan menjaga martabat ke­luar­ganya. Namun, ada satu pemandangan yang tak pernah berubah dari sosok sederhana ini. Setiap kali azan berkumandang membelah kesibukan pasar, Pak Das akan segera meletakkan pegangan gerobaknya. Ia tak pernah membiarkan dunia menghalanginya untuk melangkah ke masjid guna menunaikan shalat berjamaah.

Keteguhan hati itulah yang menjadi mesin penggerak hidupnya bersama sang istri, Ermawati (62). Pekerjaan sebagai tukang angkek (buruh angkut) mungkin dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, namun di mata Tuhan, tetesan keringat Pak Das adalah butiran doa yang dirajut dengan keikhlasan yang luar biasa. Pasangan sederhana ini menjalani hidup dengan penuh keterbatasan, namun tak pernah sekalipun mereka mengeluh. Dari upah recehan hasil mendorong gerobak, mereka berhasil membesarkan delapan orang anak—enam putra dan dua putri—dengan didikan agama dan disiplin yang sangat ketat.

Kini, perjuangan Pak Das dan Ema telah berbuah manis. Kedelapan anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang sukses dan mandiri. Ada yang merantau bekerja di Jepang, menjadi abdi negara sebagai anggota TNI, pegawai di Dinas PU, hingga menjadi pedagang yang mapan.

Baca Juga  Pangdam I/BB Kunjungi Denzipur 2/PS, Pangdam: Cintai Profesimu Seperti Mencintai Keluargamu"

Meski anak-anaknya telah sukses, Pak Das tetaplah sosok yang bersahaja. Baginya, kesuksesan anak adalah bonus, namun panggilan menuju Tanah Suci tetap menjadi mimpi yang ia simpan rapat-rapat dalam setiap sujud panjangnya di sela-sela waktu istirahat mengangkut barang pasar.

Penantian panjang itu akhirnya berakhir di tahun ini. Pak Das dan Ibu Ema resmi terdaftar sebagai jemaah calon haji yang tergabung dalam Kloter 13 Embarkasi Padang. Kabar ini pun menyebar, meng­ge­tarkan hati banyak pedagang dan pengunjung Pasar Batusangkar yang selama ini mengenal sosoknya. Tangis haru pecah saat prosesi pelepasan ber­langsung. Warga dan kerabat tak kuasa mem­bendung air mata melihat sepasang buruh pasar ini akhirnya melangkah memenuhi panggilan Allah SWT. Mereka yang dahulu memanggul beban berat di pasar, kini bersiap memanggul rindu di pelataran Ka’bah.

Keajaiban seolah tak berhenti di situ. Sebuah momen istimewa terjadi saat keduanya berada di dalam pesawat Garuda Indonesia rute Padang–Jeddah.  Seolah Tuhan ingin memuliakan hambanya yang selama ini hidup dalam kesederhanaan, Pak Das dan istri ditempatkan di kursi Kelas Bisnis.

Kursi mewah yang biasanya berharga Rp40 juta hingga Rp60 juta sekali jalan itu diduduki oleh Pak Das secara gratis.

Tidak ada lagi gerobak tua atau beban di pundak; yang ada hanyalah kenyamanan luar biasa dalam perjalanan menuju Baitullah, sebuah “upgrade” kelas hidup yang langsung diatur oleh Sang Pencipta. Laporan dari Ustaz H. Aulia Rijal, Lc., MA, selaku Pembimbing Ibadah KBIHU Tanah Datar, menye­butkan bahwa kisah ini menjadi pengingat bagi seluruh jamaah.

Baca Juga  Lakukan Pelatihan Perangkat Desa

Haji bukan sekadar urusan uang, melainkan urusan keistiqomahan, kesabaran, dan kedekatan hamba dengan penciptanya. Pak Das telah menga­jar­kan kita bahwa kemuliaan tidak datang dari harta yang melimpah, melainkan dari langkah kaki yang ringan menuju masjid dan tangan yang jujur dalam bekerja. Di usia senjanya, sang buruh gerobak itu kini benar-benar menjemput gelar haji dengan cara yang paling terhormat.

Setibanya di Tanah Suci nanti, Pak Das mungkin tak lagi membawa beban barang milik orang lain. Ia datang membawa beban syukur yang amat berat, bersujud di depan rumah Tuhan sebagai bukti bahwa tidak ada yang mustahil bagi mereka yang menjaga shalatnya di tengah kerasnya kehidupan dunia.

Kisah ini kini abadi di ingatan masyarakat Batusangkar. Di balik sosok berpeluh yang setiap hari mendorong gerobak, tersimpan wali bagi anak-anaknya dan hamba terkasih bagi Tuhannya.  Pak Das dan Ibu Ema adalah bukti nyata bahwa doa yang dipanjatkan di sela-sela lelah akan dijawab pada waktu yang paling indah. Selamat jalan menuju Tanah Suci, Pak Das dan Ibu Ema. Semoga menjadi haji mabrur dan tetap menjadi inspirasi bagi setiap pejuang nafkah di manapun berada. (*)