PADANG, METRO— Kebutuhan air bersih di RS M. Djamil Padang mendapat dukungan melalui pembangunan sumur bor yang diserahterimakan kepada pihak rumah sakit, Jumat (18/9).
Serah terima tersebut menjadi bagian dari penguatan sarana pendukung pelayanan kesehatan di RS M. Djamil Padang. Kegiatan dihadiri Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Padang Dr. dr. Dovy Djanas, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade, serta jajaran pemerintah dan instansi terkait.
Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Padang, Dr. dr. Dovy Djanas, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak dalam penguatan fasilitas dan pelayanan rumah sakit. Menurutnya, ketersediaan sarana pendukung, termasuk air bersih, menjadi bagian penting dalam menunjang pelayanan kesehatan dan pengembangan rumah sakit ke depan.
“Kita membutuhkan salah satu pendukung yang terpadu. Ini menjadi harapan kita bagaimana mendorong percepatan pembangunan, terutama dalam pelayanan dan riset,” ujar Dovy dalam sambutannya.
Ia juga menyampaikan terima kasih atas kehadiran pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, perguruan tinggi, dunia usaha, serta berbagai instansi yang turut mendukung pengembangan RS M. Djamil.
“Mudah-mudahan dengan kehadiran acara ini bisa membawa semangat kita untuk bisa memajukan daya riset dan pelayanan kesehatan,” katanya.
Plt Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang, Rezky Wahyudi, menjelaskan pembangunan sumur bor tersebut telah diselesaikan dengan kedalaman mencapai sekitar 124 meter.
Menurutnya, proses pengeboran menghadapi kondisi tanah yang cukup menantang. Namun, pekerjaan akhirnya dapat diselesaikan sehingga fasilitas air bersih tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan RS M. Djamil.
“Memang kedalamannya sekitar 124 meter karena kondisi tanah. Alhamdulillah sudah selesai. Kami berharap dengan adanya air bersih ini bisa mendukung kebutuhan rumah sakit,” ujarnya.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade mengatakan pembangunan sumur bor tersebut berawal dari kondisi kebutuhan air RS M. Djamil yang sebelumnya cukup berat. Ia menyebut, rumah sakit sempat membutuhkan pasokan hingga 24 mobil tangki air per hari untuk memenuhi kebutuhan operasional.
Melihat kondisi tersebut, Andre mengaku kemudian berkoordinasi dengan Direktur Utama RS M. Djamil, Dirjen Sumber Daya Air, serta Menteri Pekerjaan Umum agar pembangunan sumber air untuk rumah sakit dapat dilakukan.
“Saya telepon waktu itu Dirjen SDA dan juga Pak Menteri PU untuk diskresi agar diberikan anggaran. Alhamdulillah Pak Wali setuju, Dirjen SDA setuju dan memberikan langsung ke balai untuk mengeksekusi. Alhamdulillah sekarang sudah bisa digunakan,” ujarnya.
Andre menyebut keberadaan sumur bor tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan rumah sakit terhadap pasokan air menggunakan mobil tangki.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menilai pembangunan sarana pendukung RS M. Djamil merupakan bagian dari kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, rumah sakit dan berbagai pihak.
Mahyeldi menyampaikan, peningkatan pelayanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan peralatan dan sumber daya manusia, tetapi juga fasilitas pendukung serta kualitas pelayanan kepada pasien.
Ia berharap penguatan RS M. Djamil dapat ikut mendorong Sumatera Barat menjadi salah satu daerah tujuan pelayanan kesehatan, sehingga masyarakat tidak harus mencari layanan pengobatan hingga ke luar daerah atau luar negeri.
“Kalau dari segi peralatan dan tenaga SDM, mungkin kita sudah baik. Yang perlu sama-sama kita tingkatkan adalah hospitality, bagaimana pelayanannya,” kata Mahyeldi.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, Kementerian Kesehatan, BWS Sumatera V dan Andre Rosiade atas dukungan terhadap pembangunan infrastruktur kesehatan di Sumatera Barat.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus turut menekankan pentingnya penguatan fasilitas kesehatan dan kolaborasi lintas sektor.
Kementerian Kesehatan sendiri tengah mendorong penguatan fasilitas pelayanan kesehatan melalui berbagai program pembangunan dan revitalisasi.
“Pemerintah menargetkan renovasi 10.000 puskesmas di 7.285 kecamatan mulai 2027, pembangunan 514 Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) di 514 kabupaten/kota, dengan target program selesai paling lambat 2030. Untuk rumah sakit daerah, pemerintah juga memprogramkan pembangunan dan revitalisasi 441 RSUD. Sebanyak 66 RSUD di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) telah dibangun sebagai langkah awal, sementara 20 RSUD yang dibangun sejak 2025 disebut telah beroperasi. Penguatan tersebut diarahkan untuk mendukung layanan kesehatan prioritas, antara lain kanker, jantung, stroke, ginjal, serta kesehatan ibu dan anak,”papar Benjamin.
Benjamin mengatakan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, rumah sakit, perguruan tinggi dan dunia usaha menjadi bagian penting dalam mempercepat peningkatan kualitas layanan kesehatan.
Dengan selesainya pembangunan sumur bor, RS M. Djamil kini memiliki tambahan sumber air yang diharapkan mampu mendukung kebutuhan operasional rumah sakit sekaligus memperkuat kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan rujukan di Sumatera Barat. (rom)






