LIMAPULUH KOTA, METRO–Perjuangan Siswa SMP Negeri 4 Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Lima Puluh Kota, mencari sinyal internet rela berjalan kaki sejauh 6 kilometer naik perbukitan Batu Sampik, di tengah perkebunan Gambir, demi bisa ujian nasional dengan menggunakan laptop. Karena dilokasi sekolah mereka tidak tersedia jaringan internet yang memadai untuk bisa UN.
Sementara dilokasi Bukik Batu Sampik, di tengah ladang Gambir masyarakat, sinyal Handphone lumayan stabil. Sehingga dengan menggunakan hotspot dari HP disambungkan ke-laptop siswa bisa ikut ujian.
Pelaksanaan ujian berlangsung di bawah tenda darurat dengan kondisi seadanya. Para siswa bersama guru pengawas tetap bertahan meski harus menghadapi terik matahari demi menyelesaikan ujian berbasis komputer tersebut.
Guru pendamping, Sauki Alfajri, menjelaskan bahwa kendala utama dalam pelaksanaan ujian adalah akses jaringan. Bahkan, peserta dan pengawas harus menunggu berjam-jam untuk dapat mengakses sistem ujian berbasis online. “Dari 14 peserta, seluruhnya berhasil login, mengerjakan soal, dan mengunggah hasil ujian ke server pusat,” ujarnya.
Keterbatasan fasilitas juga menjadi tantangan tersendiri. Sebanyak 14 unit laptop yang digunakan merupakan hasil pinjaman dari berbagai pihak demi mendukung pelaksanaan ujian. Salah satu siswa mengungkapkan bahwa kondisi sinyal di sekolah memang sangat sulit. “Di sekolah kami memang susah sinyal internetnya,” katanya.
Pihak sekolah dan masyarakat setempat berharap pemerintah melalui instansi terkait, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kementerian Komunikasi, dapat segera menghadirkan infrastruktur jaringan di wilayah tersebut.
Wali Nagari Galugua, Wendriadi, menyebutkan bahwa proposal pembangunan tower BTS telah diajukan ke Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota. “Harapan kita usulan tersebut dapat segera direalisasikan agar ke depan siswa tidak lagi harus mendaki bukit mencari sinyal hanya untuk mengikuti ujian,” pintanya.
Peristiwa ini menjadi gambaran nyata ketimpangan akses digital di daerah, sekaligus menunjukkan semangat juang siswa dan tenaga pendidik dalam menjalankan proses pendidikan di tengah keterbatasan. (uus)






