BERITA UTAMA

Ngeri! Bom Rakitan Meledak di MAN 3 Padang, Pelakunya Siswa Kelas XII yang jadi Korban Bullying, Belajar Merakit dari Internet dan Bahannya Dibeli Online

×

Ngeri! Bom Rakitan Meledak di MAN 3 Padang, Pelakunya Siswa Kelas XII yang jadi Korban Bullying, Belajar Merakit dari Internet dan Bahannya Dibeli Online

Sebarkan artikel ini

PADANG, METROSuasana di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kota Padang, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, mendadak heboh dan mencekam, pada Selasa pagi (14/7). Pasalnya, seorang siswa kelas XII nekat meledakkan bom rakitan di salah satu ruang kelas saat jam istirahat.

Beruntung, insiden itu tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka. Namun, siswa maupun guru-guru yang berada di lingkungan sekolah dibuat panik. Demi keamanan, pihak sekolah langsung mengambil kebijakan untuk memulangkan para siswa.

Tim Gegana Polda Sumatera Barat bersama Tim Inafis langsung mendatangi lokasi untuk melakukan sterilisasi dan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi juga mengamankan siswa yang diduga membawa bom rakitan tersebut untuk menjalani pemeriksaan.

Usut punya usut, siswa berinisial RGJ (17) ini nekat membawa bom yang dirakitnya sendiri lantaran sering sering menjadi korban bullying oleh teman sekelasnya. Bahkan, sasaran rencana aksi remaja ini diduga hanya satu orang yang merupakan teman sekelas pelaku.

Selain mengamankan pelaku yang berstatus anak di bawah umur, petugas juga menyita berbagai barang bukti berupa kotak hitam, tas hitam, telepon genggam, petasan, pisau, anak panah, kelereng, baut, dan beberapa barang lainnya.

Kapolresta Padang Kombes Pol Apri Wibowo menjelaskan, insiden berlangsung saat jam istirahat ketika kondisi sepi, pelaku meletakkan benda rakitan tersebut di atas sebuah meja yang berada di depan ruang kelas sebelum akhir­nya menyalakan sumbu menggunakan korek api gas.

“Benda tersebut tidak menggunakan pemicu elektronik ataupun kendali jarak jauh. Ledakan terjadi setelah sumbu dibakar secara manual dengan korek api,” ujar Kombes Pol Apri kepada awak media.

Meski sempat mengeluarkan suara ledakan dan asap, daya ledak benda rakitan tersebut tergolong rendah atau low explosive, sehingga tidak menimbulkan kerusakan besar di lingkungan sekolah.

“Kami memastikan ti­dak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut. Aktivitas di sekolah juga segera dapat dikendalikan setelah petugas melakukan pengamanan di lokasi,” tegas dia.

Hasil penyelidikan sementara, kata Kombes Pol Apri, bom rakitan tersebut dibuat sendiri oleh pelaku di rumahnya. Ia mempelajari cara merakit bahan peledak melalui informasi yang diperoleh dari internet dan tayangan video di media sosial.

Baca Juga  Ahli Kubu 02: MK Tak Berwenang Diskualifikasi Prabowo-Gibran

“Selain merakit sendiri, pelaku juga disebut mengumpulkan seluruh bahan yang diperlukan secara mandiri yang dibeli secara online hingga akhirnya berhasil membuat beberapa perangkat rakitan. Bahan-bahannya yang mudah diperoleh, seperti mesiu, kelereng, dan bahan yang bia­sa digunakan untuk mem­buat petasan,” ungkap Kombes Pol Apri.

Selain itu, kata Kombes Pol Apri, dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), petugas mengamankan sedikitnya tiga bom rakitan sebagai barang bukti untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Saat ini, siswa tersebut telah diamankan di Polresta Padang guna menjalani pemeriksaan. P

“Kami masih mendalami seluruh rangkaian peristiwa, termasuk motif serta proses pembuatan bahan peledak tersebut. Meski de­mikian, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada proses hukum, tetapi juga me­nge­depankan pembinaan karena pelaku masih berstatus anak dan diduga merupakan korban perundungan,” tutur dia.

Pelaku Korban Bullying dan Incar Teman Sekelas

Kepala Bidang Humas Polda Sumbar Kombes Pol Susmelawati Rosya mengatakan, siswa tersebut, bukan bagian dari jaringan terorisme maupun kelompok radikal. Aksinya itu dipicu tekanan psikologis setelah sering menjadi korban bullying oleh teman se­kelasnya.

“Anak ini bukan pelaku yang masuk jaringan tertentu. Dugaan sementara, tindakan tersebut dipicu persoalan psikologis yang bersangkutan. Ada dugaan bullying sesama temannya, teman sekelasnya. Tujuannya untuk menyerang yang membully pelaku,” kata Kombes Pol Susmelawati.

Selain itu, kata Kombes Pol Susmelawati, dari pemeriksaan sementara, diperoleh keterangan bahwa sasaran rencana aksi diduga hanya satu orang yang merupakan teman sekelas pelaku. Namun, seluruh keterangan itu masih dalam proses pendalaman.

“Perundungannya seperti apa, belum ada mengarah ke situ. Pertanyaan-pertanyaan tadi baru pertanyaan-pertanyaan awal saja. Mungkin besok setelah pemeriksaan kami bisa memberikan informasi se­perti apa perlakuan bully temannya,” ucap Susmelawati.

Kombes Pol Susmelawati mengatakan, penanganan terhadap RGJ untuk se­mentara difokuskan pa­da pemulihan kondisi psi­kologis sebelum pemeriksaan dilakukan lebih mendalam.

“Kita masih fokus kepada pemulihan, pengamanan anak ini dulu. Kita juga lebih fokus kepada pemulihan si anak, jangan sampai terpapar ke hal-hal yang lebih jauh juga,” katanya.

Menurut Kombes Pol Susmelawati, saat diamankan kondisi pelajar tersebut terlihat masih shyok dan tertekan sehingga penyidik tidak langsung mengajukan banyak pertanyaan.

“Dia tertunduk-tunduk saja. Kita tenangkan dulu. Walaupun dia pelaku, dia anak-anak,” ujarnya.

Baca Juga  4,2 Juta Batang Rokok Ilegal Dibakar

Kombes Pol Susmelawati juga menyebut pelajar tersebut tampak masih terguncang setelah kejadian. Ia menduga kondisi psikologisnya turut dipengaruhi oleh perundungan yang diakuinya dialami.

“Ini si anak mungkin juga terguncang. Mungkin korban psikologis juga dari teman-temannya. Terus dia berbuat seperti itu,” tuturnya.

Ia memastikan dugaan bullying akan menjadi bagian penting dalam penyelidikan. Selain mengusut kasus tersebut, kepolisian juga akan memperkuat edukasi ke sekolah-sekolah di Sumatera Barat agar perundungan antarsiswa dapat dicegah.

“Besok akan dilakukan edukasi dan penyuluhan kepada sekolah-sekolah di Sumatera Barat supaya anak-anak menghormati temannya, tidak melakukan bullying terhadap sesama satu kelas,” ujar Kombes Pol Susmelawati.

Pelaku Pendiam dan Sering Tak Masuk Sekolah

Kepala MAN 3 Padang, Marliza, mengatakan, sis­wa­nya itu dikenal pendiam dan jarang berkomunikasi dengan guru maupun temannya. Menurutnya, selama ini R tidak pernah menyampaikan kepada guru maupun pihak sekolah bahwa dirinya mengalami bullying.

“Dia tidak pernah melapor kalau dirinya kena bully,” ujar Marliza kepada awak media, Selasa (14/7)

Menurutnya, perma­salahan yang selama ini menjadi perhatian sekolah justru berkaitan dengan tingkat kehadiran R yang rendah.  Berdasarkan laporan wali kelas, R tercatat cukup sering tidak masuk sekolah sehingga pihak sekolah sempat memanggil orang tuanya.

“Anak ini dari laporan wali kelas memang sering tidak masuk sekolah. Orang tuanya pernah dipanggil dan diminta bersama-sama melakukan perbaikan, terutama terhadap nilai semester dua yang belum tuntas,” katanya.

Marliza menjelaskan, sekolah selama ini telah menjalankan berbagai upaya pencegahan dan penanganan perundungan me­lalui kegiatan Bimbingan dan Konseling (BK). Namun, R tidak pernah menyampaikan keluhan ataupun laporan bahwa dirinya menjadi korban bullying.

“Program BK tetap berjalan. Namun anak ini tidak pernah melapor kepada kami bahwa dirinya pernah mengalami bullying,” je­lasnya.

Ia menambahkan, sebelum insiden yang terjadi pada hari ini, R tidak pernah tercatat melakukan pelanggaran disiplin maupun terlibat dalam kasus kenakalan lainnya di ling­kungan sekolah.

“Kasus anak ini selama ini hanya terkait sering tidak masuk sekolah dan nilai yang belum tuntas. Sebelum kejadian hari ini, anak ini tidak pernah memiliki riwayat kenakalan atau kasus lainnya. Baru kali ini terjadi,” pungkasnya. (*)