BAGI Pemerintah Kota (Pemko) Solok bukan sekedar membangun dinding penahan tebing guna mencegah terjadinya longsor dikawasan Puncak Bidadari Kota Solok. Tetapi juga membuka peluang besar dalam pengembangan kawasan itu sebagai salah satu kawasan destinasi wisata di kota beras ini.
Dalam pemanfaatan dana Transfer Ke Daerah (TKD), Wali Kota Solok, Ramadhani Kirana Putra bersama Wakil Wali Kota Solok, Suryadi Nurdal berharap tidak sekedar berupaya menanggulangi dampak bencana, akan tetapi bagaimana daerah bisa pulih, kuat dan bangkit kearah yang lebih mapan.
Ramadhani menyadari, dampak bencana tidak saja meluluhlantakan bangunan secara fisik. Namun dampak yang lebih besar juga sangat mempengaruhi roda perekonomian masyarakat dan daerah seperti yang telah dirasakan akibat bencana alam tahun lalu.
Disini lanjutnya perlu pemikiran bagaimana masyarakat dan daerah bisa pulih dan bangkit dari keterpurukan ekonomi sebagai dampak bencana alam. Salah satunya dengan membuka dan mengembangan potensi daerah yang dapat mendorong tumbuhnya ekonomi yang berbasis masyarakat sebagai pelaku usaha.
Upaya Pemko Solok ini terlihat dalam proyek Pembangunan dinding penahan tebing dikawasan Puncak Bidadari yang dikenal juga sebagai Puncak Garunun Payo. Tidak saja sebagai upaya pencegahan dan mitigasi tanah turun atau longsor, pembangunan ini juga sekaligus berdampak pada penataan area take off paralayang yang memang kawasan itu dikembangkan sebagai destinasi wisata.
Kawasan destinasi wisata Kota Solok itu dengan ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini, selama ini juga sebagai lokasi take off olahraga paralayang yang potensial. Melihat potensi itu, Pemko Solok melalui Dinas Pariwasata terus berupaya mengembangkan kawasan itu sebagai penarik pengunjung untuk datang ke Kota Solok.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Solok, Happy Darmawan, kawasan yang memiliki luas kurang lebih 1.000 meter persegi itu, wisatawan dapat menikmati panorama Kota Solok dengan hamparan sawah, jajaran pegunungan hijau hingga Danau Singkarak. Dan puncak Bidadari ini juga dikembangkan sebagai lokasi take off olahraga paralayang yang potensial, bahkan telah ditinjau langsung oleh Federasi Aero Sport Indonesia (FASI).
“Saat ini, Pemerintah Kota Solok melakukan pengembangan kawasan melalui Dana Transfer Ke Daerah (TKD). Fokus pengembangan meliputi, pembangunan dinding penahan tebing dan penataan area take off paralayang sebagai upaya pencegahan dan mitigasi tanah turun / longsor di area take off dan pembangunan sarana penunjang kenyamanan pengunjung,” jelas Happy Darmawan.
Jadi tegasnya, pengembangan ini bukan hanya untuk infrastruktur fisik semata, tetapi untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengunjung serta upaya pencegahan terjadinya longsor dikawasan itu.
Tentunya dengan fasilitas yang memadai, diharapkan angka kunjungan wisatawan ke Kota Solok akan meningkat.
Peningkatan infrastruktur di Puncak Garunun Payo diharapkan memberikan dampak berganda (multiplier effect) bagi perekonomian masyarakat. Khususnya bagi masyarakat sekitar dan pelaku UMKM lokal yang berada di sekitar lokasi wisata, dengan terbukanya peluang usaha kuliner, souvenir, jasa pemandu, dan layanan wisata lainnya.
Dengan penataan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, Puncak Bidadari / Puncak Garunun Payo ditargetkan menjadi ikon baru wisata aerosport dan wisata alam di Sumatera Barat.
Kota Solok dalam pengembangan daerah, memang akan menjadi kota ivent. Ini menjadi salah satu langkah bagaimana Kota Solok memang menjadi kota tujuan.
Apabila Kota Solok menarik untuk di kunjungi, banyak dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat dan daerah. Kondisi ini juga akan mendorong tumbuhnya sektor UMKM di Kota Solok. (***)






