SAWAHLUNTO, METRO—Diduga depresi akibat sakit yang tak kunjung sembuh, seorang pemuda di Dusun Sungai Loban, Desa Muaro Kalaban, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di dalam rumahnya, Senin siang (13/7).
Korban diketahui berinisial YP (34), yang berstaus pekerja swasta. Saat ditemukan pertama kali oleh ibu kandungnya, korban dalam kondisi leher telilit kain sarung yang diikatkan ke kayu kusen pintu. Sedangkan kedua kakinya menekuk dan menyentuh lantai.
Penemuan itupun sontak membuat heboh warga setempat hingga berbondong-bondong datang ke lokasi untuk menyaksikannya. Tak berselang lama, personel Polsek Muaro Kalaban bersama Tim Inafis Satreskrim Polres Sawahlunto juga datang setelah mendapat laporan.
Kapolres Sawahlunto AKBP Simon Yana Putra melalui Kapolsek Muaro Kalaban AKP Doni Fatrizal menjelaskan, pihaknya menerima laporan dari masyarakat sekitar pukul 12.30 WIB mengenai adanya seorang warga yang ditemukan dalam kondisi tergantung di dalam rumahnya.
“Menindaklanjuti laporan tersebut, Kapolsek Muaro Kalaban bersama personel dan dibantu Tim Inafis Sat Reskrim Polres Sawahlunto segera mendatangi lokasi guna melakukan pengamanan TKP, memasang garis polisi (police line), meminta keterangan para saksi, serta melaksanakan olah TKP untuk memastikan penyebab kejadian,” kata AKP Doni, Selasa (14/7).
Dijelaskan AKP Doni, berdasarkan hasil pemeriksaan saksi, ibu korban berinisial T (70) menerangkan bahwa sekitar pukul 08.00 WIB dirinya berangkat ke pasar untuk berdagang dan saat itu melihat korban masih berada di kamar dalam keadaan tidur.
“Sekitar pukul 10.00 WIB, korban sempat mendatangi rumah kakaknya yang berinisial NY (43). Korban meminta dibuatkan kopi, namun kemudian mengatakan bahwa dirinya tidak jadi meminumnya karena mengeluhkan sakit pada bagian perut. Sekitar pukul 10.30 WIB, korban kembali ke rumahnya,” ujar AKP Doni.
AKP Doni menambahkan, saat ibu korban pulang dari pasar sekitar pukul 11.30 WIB, ia mendapati korban telah tergantung di bagian atas kusen pintu menggunakan selembar kain sarung dengan posisi kaki tertekuk. Peristiwa tersebut kemudian segera dilaporkan kepada personel Polsek Muaro Kalaban.
“Dari lokasi kejadian, petugas mengamankan barang bukti berupa satu lembar kain sarung yang diduga digunakan korban untuk gantung diri. Hasil pemeriksaan medis oleh Unit Identifikasi Sat Reskrim Polres Sawahlunto menunjukkan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Kami menemukan bekas jeratan pada bagian leher di bawah telinga sebelah kiri yang sesuai dengan mekanisme gantung diri,” tutur AKP Doni.
Menurutnya, berdasarkan hasil penyelidikan awal dan keterangan pihak keluarga serta warga sekitar, korban diduga mengalami depresi akibat penyakit pada bagian perut yang telah lama dideritanya dan sering kambuh.
“Pihak keluarga menyatakan menolak dilakukan autopsi terhadap jenazah dan telah membuat surat pernyataan resmi penolakan autopsi. Setelah proses identifikasi dan pemeriksaan selesai, sekitar pukul 13.30 WIB, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan di area pemakaman keluarga di depan rumah korban,” tegas dia.
AKP Doni mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi kesehatan fisik maupun mental anggota keluarga dan lingkungan sekitar. Menurutnya, dukungan keluarga serta penanganan medis dan psikologis sejak dini sangat penting bagi seseorang yang mengalami tekanan psikologis atau menderita penyakit berkepanjangan.
“Kami juga mengajak masyarakat untuk tidak ragu berkoordinasi dengan tenaga kesehatan, perangkat desa, maupun pihak kepolisian apabila mengetahui warga yang membutuhkan pendampingan, sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan sedini mungkin,” tutupnya. (pin)






