BERITA UTAMA

Korban Keracunan MBG di Pariaman Bertambah jadi 126 Siswa, Operasional SPPG Pasir Pauh Dihentikan Sementara

×

Korban Keracunan MBG di Pariaman Bertambah jadi 126 Siswa, Operasional SPPG Pasir Pauh Dihentikan Sementara

Sebarkan artikel ini
KERACUNAN— Siswa MTsN 1 Pariaman yang mengalami keracunan MBG dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

PARIAMAN, METRO—  Jumlah siswa yang mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Pariaman, bertambah menjadi 126 orang yang berasal dari dua sekolah. Jumlah tersebut berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Pariaman, pada  Selasa (15/9).

Kabid Kesehatan Ma­syarakat dan Promosi Ke­sehatan Dinas Kesehatan Kota Pariaman, Susrikawati, mengatakan 126 sis­wa yang menjadi korban keracunan MBG ini berasal dari dua sekolah yang menerima makanan dari SPPG Pasir Pauh Pariaman Tengah.

“Data terakhir itu ada sekitar 126 siswa yang di­duga keracunan. Itu 125 siswa MTsN 1 Pariaman, sementara satu lagi siswa SMPN 1 Pariaman. Kedua sekolah tersebut mendapatkan menu MBG yang sama. Gejala mulai dialami para siswa setelah menyantap makanan pada Senin siang (14/9) ,” kata Susrikawati, Selasa (15/9).

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman Rudi Repenaldi mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) terkait penghentian sementara operasional dapur SPPG tersebut.

“Kami sudah koordinasi dengan BGN untuk penghentian sementara dapur MBG-nya. Penghentian sementara dapur SPPG dilakukan agar penanganan terhadap siswa yang mengalami gangguan kesehatan dapat berjalan maksimal,” tegas Rudi.

Rudi menambahkan, timnya telah mengambil sisa makanan dari ompreng siswa dan di dapur SPPG untuk dijadikan sam­pel dalam pemeriksaan ke BBPOM di Padang. Saat ini,Pemerintah Kota Paria­man­ memprioritaskan pe­nanganan siswa yang­ me­ngalami gejala.

Baca Juga  Peringatan Hari Kartini, DW Kemenag Gelar Lomba Qasidah

“Operasional dapur SPPG Pasir Pauh akan dievaluasi sebelum kembali menjalankan distribusi ma­kanan MBG. Hasil pemeriksaan laboratorium diper­kirakan keluar satu minggu setelah sampel diperiksa,” ungkap Rudi.

Rudi mengakui, hingga Selasa (15/9), masih ada lima korban yang dirawat. Rinciannya, empat siswa dirawat di Rumah Sakit Sadikin dan satu siswa di Rumah Sakit Yamin.

“Para siswa itu tetap dirawat atas permintaan orang tua yang khawatir kondisi anaknya kembali memburuk setelah diperbolehkan pulang. Jadi orang tua ingin anak-anaknya ini benar-benar pulih baru mau dibawa pulang,” tutur Rudi.

Sebelumnya, kasus keracunan massa yang diduga akibat menyantap makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) masih saja terjadi di Sumatra Barat (Sumbar). Setelah sebelumnya ratusan siswa dan guru keracunan di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, kini insiden serupa terjadi di Kota Pariaman.

Puluhan siswa  Madra­sah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Kota Pariaman mengalami gejala seperti mual, muntah hebat, pusing dan sakit perut. Mereka kemudian dilarikan ke sejumlah Puskesmas terdekat, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Yamin dan RS Sadiqin untuk men­dapatkan perawatan medis.

Baca Juga  Menyeberang Jalan, Nenek Tewas Ditabrak Motor

Informasinya, menu yang dikonsumsi siswa terdiri dari nasi putih, chicken karage atau ayam fillet goreng tepung dengan saus lada hitam, tahu go­reng, tumis kacang panjang campur jagung, serta sepotong melon.

Dinas Kesehatan Kota Pariaman pun telah mengambil sampel makanan menu MBG yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasir Pauh, untuk pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium dan mengungkap penyebab puluhan siswa mengalami keracunan ter­sebut.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh­­ Kepala Sekolah MTsN 1 Kota Pariaman, Tarmizi, insiden bermula pada jam istirahat sekolah sekitar pukul 10.00 WIB. Pada saat itu, para siswa dari kelas 7, 8, dan 9 menyantap menu makanan bergizi yang telah disediakan.

Namun, situasi beru­bah mencekam ketika waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB atau tepat setengah jam berselang. Sejumlah siswa mulai mengeluhkan gejala fisik yang mengarah pada keracunan makanan, seperti mual, muntah hebat, pusing dan sakit perut.

Meskipun awalnya keluhan tersebut hanya dira­sakan oleh segelintir anak, jumlah korban melonjak dengan cepat dalam waktu singkat akibat gejala yang menyebar secara masif. Pihak sekolah yang sigap melihat kondisi siswa langsung mengambil tindakan darurat dengan melarikan puluhan korban ke rumah sakit dan puskesmas.(*)