BERITA UTAMA

Hotspot Karhutla Nasional Menurun, Kalteng Masih Tertinggi

×

Hotspot Karhutla Nasional Menurun, Kalteng Masih Tertinggi

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, METROKementerian Kehutanan (Kemenhut) titik panas atau hotspot di enam pro­vinsi prioritas terus ber­kurang, dan menyisakan 567 titik secara nasional.

Dari enam provinsi prioritas itu, konsentrasi hotspot tertinggi masih berada di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng).

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri (KLN) Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi menyampaikan, jumlah tersebut berkurang 121 titik diban­dingkan pemantauan sebelumnya.

Meski menurun, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan karena sejumlah wilayah masih menunjukkan konsentrasi hotspot yang cukup tinggi.

“Terdeteksi penurunan sejumlah 121 titik menjadi 567 titik hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence secara nasional di enam pro­vinsi prioritas,” kata Ristianto dalam keterangannya, Minggu (13/9).

Menurut Ristianto, Ka­limantan Tengah masih menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi.

Berdasarkan pemantauan terakhir, terdapat 197 titik di wilayah tersebut, turun dari sebelumnya yang mencapai 270 titik.

Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat peningkatan jumlah hotspot menjadi 91 titik.

Kenaikan juga terjadi di Sumatera Selatan yang kini terpantau memiliki 62 titik hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Di sisi lain, kondisi di Kalimantan Selatan me­nunjukkan penurunan cukup signifikan.

Jumlah hotspot di provinsi tersebut turun menjadi tujuh titik dari sebelumnya sebanyak 47 titik.

Baca Juga  Tiga Pekan Operasi, Satgas Saber Pangan Temukan 350 Pelanggaran dan 4 Perkara Diproses Hukum

“Riau dan Jambi tidak terdeteksi memiliki hotspot high confidence selama dua hari terakhir,” ucapnya.

Ristianto menjelaskan, pemantauan tersebut dilakukan menggunakan sistem SiPongi Kementerian Kehutanan dengan memanfaatkan data penginderaan jauh dari sejumlah satelit, yakni NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.

Data tersebut menjadi salah satu instrumen pen­ting untuk mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan sejak dini.

Namun, keberadaan hotspot tidak serta-merta menunjukkan bahwa kebakaran telah terjadi.

Ristianto menegaskan, titik panas merupakan indikasi awal berdasarkan adanya suhu permukaan yang relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah di sekitarnya.

Karena itu, data hasil pemantauan satelit tetap membutuhkan analisis dan verifikasi lebih lanjut di lapangan.

Patroli serta pengecekan langsung dilakukan untuk memastikan kondisi sebenarnya di lokasi yang terindikasi memiliki hotspot.

“Hotspot merupakan indikasi awal potensi kebakaran dan tidak selalu berarti telah terjadi kebakaran. Oleh karena itu, data satelit terus dianalisis dan ditindaklanjuti melalui patroli serta verifikasi langsung di lapangan,” tegas­nya.

Kemenhut juga terus memperkuat pengendalian karhutla melalui Manggala Agni bersama TNI, Polri, BNPB, BPBD, BMKG, pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait.

Selain pencegahan dan patroli, upaya pembasahan area kebakaran juga dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC).

Di Kalimantan Barat, OMC Kemenhut selama sepekan terakhir telah dilaksanakan sebanyak sembilan sorti dengan menggunakan 7.200 kilogram bahan semai.

Baca Juga  Kabur ke Aceh, Sumut hingga Sumbar, Buronan Penggelapan Uang Rp 155 Juta Diringkus Tim Resmob

Operasi tersebut diperkirakan menghasilkan volume air hujan sekitar 87,9 juta meter kubik.

Sementara di Kalimantan Tengah, tujuh sorti dilakukan dengan 5.600 kilogram bahan semai dan estimasi volume air hujan mencapai 22,9 juta meter kubik.

Ristianto mengatakan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto agar penanganan karhutla dilakukan sedini mungkin.

Selain kondisi hotspot, pemerintah juga memantau kualitas udara akibat potensi asap karhutla.

Pemantauan PM2,5 me­nunjukkan kualitas udara di sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang.

Meski demikian, beberapa wilayah di Sumatra dan Kalimantan masih me­ngalami kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Masyarakat yang ter­dampak asap diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, meng­gu­nakan masker, khususnya kelompok rentan, serta segera mencari perto­lo­ngan medis apabila me­ngalami gangguan per­napasan.

“Mari cegah karhutla bersama. Jangan mem­buka atau membersihkan lahan dengan cara mem­bakar dan hindari aktivitas apa pun di lapangan yang menggunakan api selama musim kemarau. Jika me­nemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran, segera laporkan kepada petugas,” pungkasnya. (jpg)