BERITA UTAMA

Diduga Buntut Aksi Tolak Gubernur Sumbar, Presiden Mahasiswa UIN Bukittinggi Diancam Dibunuh, Pelakunya Menelepon Berkali-kali dan Kirim Pesan WA

×

Diduga Buntut Aksi Tolak Gubernur Sumbar, Presiden Mahasiswa UIN Bukittinggi Diancam Dibunuh, Pelakunya Menelepon Berkali-kali dan Kirim Pesan WA

Sebarkan artikel ini
ANCAMAN— Tangkapan layar pesan ancaman terhadap Presma Dema UIN Bukittinggi yang viral di media sosial.

PADANG, METRO–Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M Djamil Djambek Bukit­tinggi, Ahmad Zaki mendapatkan teror dan ancaman pembunuhan melalui pesan WhatsApp (WA). Diduga, hal itu buntut aksi dirinya memimpin aksi me­­nolak kehadiran Gu­bernur Sumatra Barat, Mahyeldi di kampusnya pekan lalu.

Ancaman tersebut be­ra­sal dari nomor WA tidak dikenal +6282312991374.  Informasi tersebut perta­ma kali diketahui dari tang­kapan layar pengirim pe­san WA yang diposting oleh akun media sosial (medsos) Instagram de­ngan nama pengguna @mu­hammad_jalalii.

“Alert!!! Kawan kita Ah­mad Zaki Presiden Ma­hasiswa @uinsmddbu­kit­tinggi mendapatkan anca­man pembunuhan dari no­mor yang tidak dikenal. Se­telah mengkritik Gubernur Sumbar @mahyeldisp,” tulis akun tersebut dengan menyertai nomor telepon sebagaimana dinukil, Ming­gu (27/8).

Nomor peneror Zaki tersebut mencoba me­nel­pon Zaki berkali-kali. Na­mun Zaki tidak mengubris panggilan telepon masuk dari nomor tersebut.  Da­lam pesan dengan nada an­caman itu, peneror me­minta Zaki menghormati Gubernur Mahyeldi. Bila bertemu, peneror me­ngan­cam akan membunuh Zaki.

Oi Zaki, Ang ndak bautak ang. Gubernur ang mode tu an. Woi angkek telfon den. Ang sobok jo den caliak lah den bunuah ang beko. Den cari ang bisuak (Oi Zaki, kamu tidak punya otak. Gubernur kamu gitukan. Angkat tele­pon saya. Kamu kalau berte­mu saya, saya bunuh kamu. Saya cari kamu besok),” kata peneror tersebut.

Sementara itu, Presma UIN Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi, Ahmad Za­ki, membenarkan dirinya mendapatkan ancaman da­ri nomor tak dikenal. “Betul, saya mendapatkan pesan (bernada ancaman) tersebut pada hari Jumat (25/8) lalu,” katanya ketika dikonfirmasi, (Minggu (27/8).

Baca Juga  Identifikasi Korban Gunung Marapi, Polda Sumbar Dirikan Posko DVI

Zaki sudah menduga ancaman tersebut berkai­tan dengan aksinya bersama teman-teman mahasiswa atas nama Dewan Eksekutif Mahasiswa (De­ma) UIN Bukittinggi Selasa lalu. Saat itu, Zaki berorasi menolak kedatangan Gubernur Mahyeldi di acara Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasis­wa­an (PBAK).

“Menurut saya ini erat kaitannya dengan apa yang terjadi beberapa waktu lalu, tanpa bermaksud suuzon, namun bagi saya tidak masalah, ini bagian dari konsekuensi perjuangan kami. Yang jelas, saya mencoba mencari tahu da­hulu siapa pemilik nomor tersebut,” sambungnya.

Terpisah, Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Karo Adpim) Sekretariat Daerah (Setda) Sumatra Barat (Sumbar), Mursalim mengatakan, pihaknya tidak terlibat dalam insiden yang dialami oleh Ahmad Zaki.

“Yang jelas kami tidak tahu soal (pengancaman) itu, karena setelah insiden itu, Gubernur Sumbar sudah memberi maaf dan tak memperpanjang lagi permasalahan beberapa waktu lalu itu, tak ada perintah dari Pemprov atau Tim Gubernur terkait pe­ngan­caman itu,” katan­ya.

Zaki dan kawan-kawan menilai Gubernur Mahyeldi tidak pantas datang ke UIN karena belum menyelesaikan persoalan sengketa tanah di Air Bangis, Ka­bupaten Pasaman Barat.  Pada Selasa lalu beredar viral di sosial media Gubernur Sumatra Barat, Mah­yeldi, diusir oleh mahasiswa saat menghadiri acara PBAK di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M Djamil Djambek, Bukittinggi.

Baca Juga  Soal Putusan Pemilu Dipisah, Ketua Komisi II Singgung MK Bikin Norma Sendiri

Dalam video tersebut, terlihat Mahyeldi sudah duduk di atas panggung di Student Center UIN Bukittinggi. Di gedung tersebut memang sudah ada ratusan mahasiswa baru yang terlihat memakai pakaian putih hitam. Lalu ada satu orang mahasiswa berorasi dan menolak kedatangan Mahyeldi. Selama mahasiswa tersebut berorasi, seluruh mahasiswa yang ada bersorak dan memberi tepuk tangan.

Tidak terlalu jelas apa saja kalimat yang disampaikan orator di dalam video tersebut. Tapi di sisi lain, ada juga mahasiswa yang membentangkan spanduk bertuliskan ‘Tuntaskan Isu PSN Pak Gub’ dan tulisan ‘HAM dilangkahi’. Pada bagian akhir video, terlihat beberapa orang yang didu­ga panitia acara memaksa mahasiswa yang berorasi itu turun dari panggung.

Mahyeldi sendiri tidak mempersoalkan insiden aksi oknum mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi, saat dirinya memenuhi undangan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasis­waan (PBAK) di kampus tersebut pada Selasa (22/8) lalu. Mahyeldi menilai kritikan yang disampaikan mahasiswa merupakan hal biasa.

“Kritik secara langsung seperti itu hal biasa bagi kami sebagai penyelenggara pemerintahan. Saya melihat itu hanya wujud mahasiswa menegaskan eksistensi dan ekspresinya. Kami sudah terlebih dulu memaafkan” kata Mahyeldi. (cr2)