PAYAKUMBUH/50 KOTA

Tanggul Irigasi Putus, Petani di Payakumbuh Terancam Gagal Tanam

×

Tanggul Irigasi Putus, Petani di Payakumbuh Terancam Gagal Tanam

Sebarkan artikel ini
SALURAN IRIGASI PUTUS— Putusnya saluran irigasi utama tali bandar akibat longsor yang terjadi pada Rabu (21/5) lalu memicu kekhawatiran petani. Ratusan hektare sawah di tiga kelurahan Tiakar, Payobasuang, dan Koto Panjang kini terancam gagal tanam karena tidak mendapat pasokan air.

PAYAKUMBUH, METRO–Putusnya saluran irigasi utama tali bandar aki­bat longsor yang terjadi pada Rabu (21/5) lalu me­micu kekhawatiran petani.  Ratusan hektare sawah di tiga kelurahan Tiakar, Pa­yobasuang, dan Koto Panjang kini terancam gagal tanam karena tidak men­dapat pasokan air. Tali bandar yang mengalirkan air dari Batang Agam me­rupakan nadi pertanian bagi masyarakat setempat. Rusaknya saluran ini menghentikan distribusi air secara total. Kondisi ini semakin memprihatinkan mengingat dua tahun lalu warga telah melakukan perbaikan secara swadaya dengan dukungan para perantau.

“Tragedi ini bukan se­kadar kerusakan fisik, tapi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup petani,” aku Ilhamsyah, Wakil Presiden Partai Buruh. Ia mendesak agar Pemerintah Kota Payakumbuh dan Pemerintah Provinsi Su­matera Barat memberikan perhatian serius. “Ja­ngan biarkan petani kita berjuang sendiri,” tegasnya.

Respon cepat datang dari Wakil Ketua DPRD Kota Payakumbuh, Hurisna Jamhur, yang langsung menghubungi Kepala Dinas PUPR Kota Payakumbuh, Muslim. “Pak Kadis sudah menyanggupi untuk turun tangan dan bahkan telah meneruskan laporan ini ke tingkat Provinsi,” ungkap Hurisna dalam pesan WhatsApp.

Namun, sebagian warga masih menyimpan ra­sa kecewa. Palimo Sitampai, tokoh masyarakat dan mantan “Tuo Banda” Nagari Tiakar-Payobasuang, menyebut persoalan ini pernah disampaikan sejak lama kepada pihak kecamatan, dinas terkait, hingga penjabat Walikota Pa­yakumbuh saat itu.

Baca Juga  Anggarkan Penanganan Virus Corona, DPRD Tunggu Gerak Cepat Pemerintah Daerah

“Tapi perhatian yang kami tunggu-tunggu tak kunjung datang. Sekarang inilah akibatnya,” keluhnya.

Melihat lambatnya pe­nanganan, para perantau dari Payobasuang yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Payobasuang Jakarta Raya (IKP Jaya) berinisiatif menggalang dana darurat untuk membangun saluran sementara. “Kami tidak ingin sa­wah-sawah itu terbeng­kalai. Ini bentuk kepe­dulian kami kepada kampung halaman,” ujar Ketua IKP Jaya, Afiyati Reno.

Tragedi ini menyoroti pentingnya infrastruktur pertanian yang andal dan berkelanjutan, serta perlunya sinergi antara ma­syarakat, pemerintah da­erah, dan perantau dalam menghadapi situasi darurat. Perbaikan permanen diharapkan segera dilakukan demi menjamin keberlangsungan musim tanam tahun ini. (uus/rel