BERITA UTAMA

Bersihkan Hati Menyongsong Idul Fitri

×

Bersihkan Hati Menyongsong Idul Fitri

Sebarkan artikel ini
Oleh: Ustadz Muhammad Zainul Mujahid

SEBENTAR lagi Ramadan akan berakhir. Tidak lama lagi kita akan menyongsong Hari Raya Idul Fitri. Umat Islam di seluruh dunia merayakan kemenangan atas perjuangannya selama satu bulan menjalankan perintah Allah be­rupa menahan la­par dan dahaga, serta melawan ha­wa nafsu.

Hakikat dari kemenangan ini adalah mengembalikan manusia kepada fitrah kesucian, ber­sih dari dosa ba­gaikan bayi yang­ baru lahir da­ri rahim ibunya.   Namun, untuk men­capai keme­nangan yang hakiki tersebut, kita perlu mem­persiapkan di­ri sejak seka­rang.

Kita tidak hanya dituntut untuk melaksanakan ibadah puasa sesuai dengan rukun dan syaratnya serta meninggalkan hal-hal yang dilarang dalam agama ketika berpuasa saja, te­tapi kita juga harus mem­bersihkan jiwa dan hati dari kotoran-kotoran nafsu yang dapat menghalangi kesucian tersebut.

Dalam Alquran Allah swt menjanjikan kenikmatan abadi bagi orang-orang yang berhasil menundukkan hawa nafsunya. Allah swt berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”. (QS As-Syams: 9-10).

Dalam ayat tersirat perintah melakukan tazkiyatun nafs, yaitu membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran hati yang dapat menghalangi pantulan cahaya kebenaran. Orang yang mampu membersihkan hatinya akan mendapatkan kemenangan yang hakiki, sebaliknya orang yang membiarkan hatinya kotor dengan berlumuran dosa dan penyakit hati lainnya akan mengalami kerugian yang menyakitkan di dunia dan di akhirat.

Sayyid Muhammad Than­thawi menjelaskan, tazkiyatun nafs dapat dipe­roleh dengan cara istiqa­mah melakukan perintah dan ketaatan kepada Allah, serta berusaha semaksimal mungkin untuk membersihkan hati dari perbuatan mak­siat dan penyakit hati. Se­dangkan kekotoran hati muncul akibat perbuatan mak­siat dan dosa-dosa yang terus menerus dilakukan. (Tafsir al-Wasith, [Kairo, Dar Nahdhah: 1998], juz XV, halaman 413).

Baca Juga  Raih Penghargaan KWP Awards 2026, Andre Rosiade Dinobatkan sebagai Legislator Penggerak Pembangunan Daerah

Ramadhan adalah madrasah ruhani. Selama satu bulan penuh kita ditempa untuk menahan amarah dan hawa nafsu yang kerap kali menjerumuskan manusia ke jurang kenistaan. Setelah kita semua menjalani semua pendidikan yang diberikan Ramadan, barulah kemudian kita akan menyongsong hari kemenangan, yakni Hari Idul Fitri.

Idul Fitri adalah hari kemenangan di mana semua manusia kembali kepada fitrah kesucian setelah sebulan penuh menjalani pendidikan karakter di bulan Ramadhan. Untuk menggapai kemenangan ha­kiki, kita juga harus mem­bersihkan hati kita dari kebencian, kedengkian dan kotoran-kotoran lain yang menutupi cahaya hati. Mari kita lepaskan semua beban dan kegelapan yang menyelimuti hati serta saling memaafkan dan kasih mengasihi dengan sesama di hari kemenangan ini.

Begitu pentingnya posisi hati, sampai-sampai ia diibaratkan seperti raja bagi anggota tubuh yang lain. Dalam sebuah negara, presiden yang menjabat sebagai kepala negara memiliki posisi yang penting dan strategis. Kemakmuran dan kemunduran suatu negara sangat bergantung kepada kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh kepala negara. Begitu pula dengan hati. Ia menjadi indikator kebaikan dan kualitas diri seseorang.

Dalam hadis, Rasulullah saw bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging. Apabila ia baik baik baik pula seluruh ba­dan. Namun, apabila ia buruk maka buruk pula seluruh badan. Segumpal daging itu adalah hati.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Baca Juga  Penduduk Miskin Sumbar Berkurang 64.829 Orang

Membiarkan penyakit-penyakit hati terutama di  Hari Idul Fitri dapat merusak kesucian yang telah dibentuk dengan susah payah selama satu bulan lamanya. Karenanya, marilah kita berupaya untuk membuang perasaan sombong, iri, dengki serta permusuhan dengan sesama manusia. Jangan sampai momen lebaran ini dijadikan sebagai ajang untuk pamer baju baru, perhiasan baru dan pernak-pernik lebaran lainnya. Karena hal itu dapat memicu perasaan sombong di dalam hati serta memancing sikap iri dari sesama.

Penyakit hati jugalah yang kerap kali menjadi sumber ketidakharmonisan dan lingkungan toxic di sekeliling kita. Orang yang masih menyimpan dendam kepada saudara atau kerabatnya akan merusak momen-momen kebersamaan dan kekeluargaan yang sudah menjadi tradisi di setiap hari lebaran. Ka­rena­nya, mari kita jadikan momentum Idul Fitri ini menjadi ajang untuk saling memaafkan dan saling rida terhadap sesama. Karena hati yang legowo untuk me­minta dan memberi maaf merupakan salah satu indikasi kebersihan hati seseorang.

Semoga kita semua di­berikan kekuatan oleh Allah swt untuk memaksimalkan waktu-waktu terakhir di Bulan Ramadhan ini serta mampu membersihkan ha­ti dari belenggu hawa nafsu, dengan harapan kita mendapat keberkahan bulan suci Ramadhan dan di Hari Raya Idul Fitri nanti kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah. Amin ya Rabbal ‘ala­min. (*)