JAKARTA, METRO— Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan publik. Dalam sebuah forum, Jenderal berdarah Minang ini mengaku geram dengan ketua adat di Sumatera Barat (Sumbar) yang seenaknya memberi gelar datuk atau datuak ke pejabat publik.
Lantas ia pun menceritakan alasan di balik keputusannya menolak tawaran disematkan ‘Datuak’, gelar adat Minangkabau. Bukan menyangkut persoalan pribadi, Djamari bahkan menyinggung kasus seorang jenderal yang pernah diangkat menjadi Datuk, tetapi kemudian terseret kasus narkoba.
Djamari menilai kejadian itu menjadi pelajaran penting tentang bagaimana gelar kehormatan adat seharusnya diberikan secara hati-hati. Pasalnya, gelar Datuak di Minangkabau adalah gelar kehormatan dan pemimpin adat (Penghulu) yang seharusnya tidak diberikan hanya karena seseorang memiliki jabatan tinggi, melainkan didasarkan pada kontribusi nyata terhadap masyarakat dan integritas pribadi.
Pembahasan pemberian gelar datuk ini diungkapkan Djamari di hadapan peserta pendidikan di Sespim Lemdiklat Polri, Senin (9/3). Cuplikan videonya pun viral, khususnya di Sumbar. Saat itu, Djamari memberikan arahan kepada peserta pendidikan di Sespim Lemdiklat Polri tentang pentingnya kedisiplinan. Cuplikan videonya pun viral di media sosial menjadi perbincangan publik.
Dalam rekaman video tersebut, Djamari menekankan tidak ada toleransi dalam penegakkan disiplin dan menyinggung kasus mantan Kapolda Sumbar, Teddy Minahasa yang terjerat narkoba.
“Ada orang Padang? Angkat tangan, orang Minang? Coba berdiri. Oke terima kasih,” kata Djamari di hadapan peserta.
Djamari pun lalu bercerita, tawaran gelar Datuak datang kepadanya tidak lama setelah ia dilantik menjadi Menko Polkam. Menurutnya, sejumlah tokoh adat dari Sumbar datang langsung ke kantornya di Jakarta untuk menawarkan gelar kehormatan tersebut.
“Tidak ada angin, tidak ada hujan, tahu-tahu datang begitu. Sebelum-sebelumnya mereka tidak kenal saya, celakanya begitu. Tidak kenal. Begitu jadi Menko Polkam, oh saya jadi orang Minang, baru sekarang toh, sekarang saya bilang?,” kata Djamari.
Djamari mengaku justru merasa heran dengan tawaran tersebut. Ia menilai pengakuan yang datang setelah dirinya menjabat sebagai menteri terasa janggal. Padahal, menurutnya, ia sudah lama menggunakan nama Chaniago—yang merupakan salah satu suku dalam adat Minangkabau. Ia bahkan mengatakan bahwa nama itu sudah digunakannya sejak masih menjadi taruna militer.
“Saya bilang, saya orang Minang dari dulu. Nama Chaniago itu sudah saya pasang sejak saya masih taruna. Kenapa baru sekarang orang Minang kenal saya? Saya sindir seperti itu, agak sedikit merahlah (mukanya),” sambungnya” kata Djamari.
Tidak sampai di situ, lanjut Djamari, ketua adat itu pun mukanya semakin merah ketika momen ia disindir dan menolak penawaran sebagai datuak di Minangkabau.
“Di situ saya tersentak. Loh, betapa berharganya seorang datuak itu saya bilang? ‘Oh iya pak, datuak ini begini, begini, macam-macam’. Sampai saya katakan, apa untungnya buat saya dan apa untungnya buat orang Minang? Tidak bisa jawab dia,” imbuhnya.
Djamari lalu geram. Ia pun mengungkapkan kekesalannya kepada ketua adat itu bahwa pernah melakukan kesalahan besar dalam memilih seorang datuk. Padahal gelar datuak merupakan suatu jabatan kehormatan di Minangkabau.
“Anda tahu enggak bahwa anda pernah salah besar dalam memilih seorang datuk. Kenapa salah? Karena melantik seorang jenderal datuk dan dia adalah biang kerok narkoba. Jadi kamu akan samakan saya dengan narkoba itu? Diam dia,” tuturnya.
Teddy Minahasa pernah dianugerahi gelar adat kehormatan Minangkabau Tuanku Bandaro Alam Sati oleh Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar pada 16 Juni 2022. Batagak gala dilangsungkan di Istana Basa Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar.
“Justru saya tanya sama anda, dimana ceritanya anda bisa melantik seseorang tanpa mengetahui latar belakang dia, dilantik jadi datuak. Bukankah anda sendiri yang menghancurkan adat itu? Tidak bisa bicara, diam, gelesah, akhirnya dia pamit pulang, silakan. Sampaikan kepada orang Minang, saya tidak bersedia (jadi datuak),” kata Djamari.
Djamari menekankan kalau sesuatu sudah salah dilakukan, jangan dimasukan ke tempat yang salah. Ia menegaskan dirinya berbeda kualitas dengan orang yang sempat dijadikan datuk tersebut.
“Saya berjuang setengah mati demi kepentingan bangsa, tapi dia yang menghancurkan negeri. Berbeda sangat. Saya katakan itu kepada dia,” ucapnya.
Djamari juga sempat meluapkam kekesalannya saat bertemu dengan dosen dan guru besar Universitas Andalas (Unand), karena membiarkan pemberian gelar datuak saat ini seenaknya.
“Saya katakan semuanya. Jangan merasa tidak bersalah dengan kejadian kemarin itu (Teddy). Kalian juga salah, kenapa kalian diam saja melihat itu. Nah, saya ingin menggambarkan bahwa sekecil apapun terlibat di masyarakat kita harus peduli,” kata dia.
Djamari menegaskan bahwa keputusannya menolak gelar tersebut bukan karena ia tidak menghormati adat Minangkabau. Sebaliknya, ia justru ingin menjaga agar gelar tersebut tetap memiliki makna dan kehormatan.
Keaslian video itu kemudian dikonfirmasi oleh Kepala Biro Humas dan Informasi Kementerian Koordinator Politik dan Keamanan, Kolonel Inf Honi Havana. “Betul, itu saat Pak Djamari menghadiri kegiatan di Sespim Polri,” kata Honi saat dikonfirmasi, Selasa (10/3). (*)






