METRO PESISIR

Wako Yota Balad Jadi Pembicara dalam Forum IEF 2026

×

Wako Yota Balad Jadi Pembicara dalam Forum IEF 2026

Sebarkan artikel ini
TERIMA PENGHARGAAN— Wali Kota Pariaman Yota Balad, saat menerima penghargaan saat menjadi Pembicara dalam “International Education Forum (IEF) 2026” yang digelar di Kempinski Grand Ballroom.

PARIAMAN, METRO— Wali Kota Pariaman Yota Balad, menjadi satu-satunya Kepala Daerah yang menjadi Pembicara dalam “International Education Forum (IEF) 2026” yang digelar di Kempinski Grand Ballroom.

Forum berskala internasional yang mengusung tema “Equitable Accessibi­lity: Broadening the Opportunities to Higher Education in ASEAN (Aksesibilitas yang Berkeadilan: Mem­perluas Peluang Pendidikan Tinggi di ASEAN)” ini, diselenggarakan oleh Education Malaysia Global Services (EMGS) bekerja sama dengan Universiti Kuala Lumpur (UniKL), sebagai rangkaian dari mega event “Ayo Kuliah di Malaysia”.

Duduk bersanding dengan Chief Executive Officer (CEO) EMGS, Mr. Novie Tajuddin yang memaparkan praktik dari Malaysia, Yota Balad hadir mewakili representasi praktik cemerlang dari Indonesia. Sesi panel bergengsi ini dipandu oleh akademisi senior Universitas Kuala Lum­pur (UniKL), Dr. Farah Hida Sharin.

Tampil memukau sebagai Pembicara Bersama CEO EMGS, Yota Balad mencuri perhatian para petinggi pendidikan, pembuat kebijakan, dan akademisi ASEAN dengan ga­gasan visionernya : The Pariaman Edutourism Mo­del.

Dalam presentasinya Yota Balad memutarbalikkan persepsi umum tentang apa itu ‘kekurangan’ kota kecil menjadi sebuah kekuatan eksklusif.

Baca Juga  BRI Bangun Pendestrian dari CSR 

“Daya tarik terbesar kami justru terletak pada apa yang tidak kami miliki, Zero urban distractions. Tanpa hiruk-pikuk kota besar, kami menawarkan ling­kungan murni yang dirancang khusus untuk 100 persen fokus pembelajaran bagi mahasiswa,” tegas Yota di hadapan ratusan peserta forum.

Pariaman disajikan bukan lagi sekadar destinasi liburan, melainkan sebuah “Laboratorium Alam”. Wa­li Kota memaparkan titik-titik destinasi strategis dari pesisir pantai, gugusan pulau, hingga desa wisata yang terintegrasi layaknya denah sebuah kampus raksasa tanpa sekat.

“Mahasiswa dari berbagai program studi, kita ajak untuk turun langsung mempraktikkan konservasi penyu, merehabilitasi mangrove, hingga melakukan transplantasi terumbu karang di Pulau Kasiak,” ungkapnya.

Tidak hanya kekayaan alam, Yota Balad juga mengundang universitas di A­SEAN untuk menjadikan kekayaan budaya Pariaman sebagai ruang riset sosiologi, antropologi, dan Sport Tourism.

Mulai dari riuhnya festival Hoyak Tabuik yang dihadiri lautan manusia, diplomasi kuliner melalui Malamang, tranisi kesetaraan dalam Bajamba, hing­ga kearifan lokal Maelo Pukek yang mengajarkan mahasiswa tentang esensi sejati dari kolaborasi dan gotong royong.

Baca Juga  Baralek Gadang, Sinergritas Rantau dan Kampung di Padangpariaman

Bahkan dari segi aksesibilitas logistik, Yota mematahkan keraguan para pimpinan kampus. Dengan jarak tempuh hanya 30 menit penerbangan dari Kuala Lumpur ke Bandara Internasional Minang­kabau (BIM), dilanjutkan perjalanan darat yang sing­kat, Kota Pariaman merupakan kota yang sangat strategis, ucapnya. “Komitmen kami sederhana: A­man, autentik, dan sangat terjangkau. Mahasiswa An­da akan merasakan pesona budaya dan kuliner lezat yang bersahabat bagi anggaran kampus,” tambahnya.

Acara yang turut dihadiri oleh Ketua Setia Usaha (KSU) Kementerian Pen­­didikan Tinggi Malaysia, YBhg. Datuk Ts. Dr. Hj. Aminuddin bin Hassim, ini menjadi momentum emas bagi diplomasi pendidikan Kota Pariaman di level Asia Tenggara. Pintu kolaborasi dan pertukaran pelajar kini terbuka lebih lebar.

Menutup presentasinya dengan penuh wibawa, Yota Balad melemparkan pernyataan pamungkas yang disambut tepuk tangan gemuruh dari seluruh ballroom Kempinski. “Pa­riaman menerima dengan tangan terbuka seluruh inisiatif dari universitas-universitas di ASEAN. Kirimkan mahasiswa Anda kepada kami. Karena kami siap, dan kami sangat bangga, untuk menjadi Kampus di luar Kampus Anda,” tandasnya mengakhiri. (efa)