AGAM/BUKITTINGGI

Viral Pasien Anak Disebut Terlantar di IGD RSAM, Manajemen Bantah Lalai

×

Viral Pasien Anak Disebut Terlantar di IGD RSAM, Manajemen Bantah Lalai

Sebarkan artikel ini
BERI PENJELASAN— Direktur RSAM Bukittinggi, drg. Busril saat memberikan penjelasan terkait viralnya di medsos kelalaian pelayanan pasien di RSAM Bukittinggi.

BUKITTINGGI, METROKeluhan seorang warga terkait pelayanan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi menjadi perhatian setelah beredar di media sosial. Pihak keluarga pasien mengaku kecewa karena anaknya yang mengalami luka robek di bagian dagu harus menunggu sebelum mendapat tindakan medis.

Dhani (42), warga Kota Bukittinggi, mengatakan dirinya membawa putrinya ke IGD RSAM pada Selasa (11/8) sekitar pukul 12.15 WIB. Anak tersebut mengalami luka di bagian dagu setelah terjatuh saat berada di sekolah.

Sesampainya di IGD, menurut Dhani, anaknya sempat diperiksa oleh pe­tu­gas medis. Saat itu, luka yang sebelumnya telah ditutup menggunakan perban hanya dilihat dan belum mendapatkan tindakan lanjutan.

“Satu orang perawat atau dokter laki-laki datang dan melihat luka anak saya yang sebelumnya sudah saya tutup dengan perban. Hanya dilihat, tidak ada tindakan, saya disuruh me­nunggu,” ujar Dhani.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, Dhani mengaku kembali menanyakan kondisi anaknya kepada petugas yang berjaga. Ia kemudian mendapat penjelasan bahwa peralatan yang diperlukan untuk me­­la­kukan tindakan medis masih dalam proses pembersihan.

Karena merasa waktu tunggu cukup lama, sekitar 30 menit kemudian Dhani memilih membawa putrinya meninggalkan IGD RSAM. Ia kemudian membawa anaknya ke IGD Rumah Sakit Yarsi Bukittinggi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

“Di Yarsi, anak saya langsung diberikan tindakan berupa pembersihan luka dan tiga jahitan. Saya tidak mengerti SOP yang membedakan masing-ma­sing rumah sakit. Yang pasti, saat di Yarsi petugas medis langsung ramah menerima kami, menge­cek dan langsung melakukan tindakan dengan alat medis yang baru dikeluarkan dari bungkus plastik,” katanya.

Baca Juga  Peringkat 1 Kelurahan Berprestasi Tingkat Sumbar,Kubu Gulai Bancah Maju Tingkat Regional Sumatera

Menanggapi keluhan tersebut, Direktur RSAM Bu­kittinggi, drg. Busril, mem­­bantah anggapan bah­wa pihak rumah sakit tidak memberikan pelayanan kepada pasien. Ia menegaskan seluruh petugas, termasuk dokter IGD, telah menjalankan pelayanan berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP).

“Kami membantah me­lalaikan pasien karena ada catatan medis. Tidak ada seorang pun dokter yang berani berbohong karena ada catatan medis,” tegas Busril, Rabu (12/8).

Busril menjelaskan, pasien telah menjalani asesmen awal oleh dokter IGD. Berdasarkan hasil penilaian tersebut, pasien masuk dalam kategori status kuning atau prioritas kedua dalam sistem pelayanan kegawatdaruratan.

Status kuning menunjukkan pasien membutuhkan penanganan medis, tetapi kondisinya masih stabil. Dalam kondisi IGD yang padat, pasien dengan kondisi yang lebih gawat dan tidak stabil harus mendapatkan penanganan terlebih dahulu.

Ia juga merujuk pada rekaman kamera pengawas yang mencatat pasien tiba di IGD sekitar pukul 12.30 WIB. Pasien kemudian meninggalkan rumah sakit sekitar pukul 13.40 WIB setelah keluarga memutuskan melanjutkan pe­ngo­batan ke fasilitas kesehatan lain.

Menurut Busril, pihak rumah sakit memahami kekhawatiran orang tua terhadap kondisi anaknya. Untuk mengurangi rasa takut dan trauma, pasien bahkan sempat ditempatkan di ruangan terpisah agar tidak berada di tengah pasien lain yang sedang mengalami kondisi gawat.

Terkait tindakan penjahitan luka, Busril menjelaskan bahwa prosedur tersebut membutuhkan peralatan yang telah melalui proses sterilisasi. Peralatan medis untuk tindakan jahit luka dipesan melalui Central Sterile Supply Department (CSSD).

“Order sudah dilakukan. Dokter tentu melakukan tindakan terukur dan kehati-hatian. Namun ternyata orang tua pasien tidak bisa menunggu lebih lama,” ujarnya.

Baca Juga  Pemkab Terima Penghargaan dari BPS RI

Setelah keluarga memilih membawa pasien ke rumah sakit lain, pihak RSAM tetap menyelesaikan proses pembatalan pelayanan. Dengan demikian, pasien dapat melanjutkan pengobatan di fasilitas kesehatan lain dengan menggunakan layanan BPJS.

Dokter IGD yang me­nangani pasien, dr. M. Raf­ky, mengatakan komunikasi dengan keluarga telah dilakukan sejak pasien datang ke IGD. Berdasarkan pemeriksaan, luka ro­bek pada bagian dagu dalam kondisi bersih dan tidak menunjukkan perdarahan aktif.

Rafky menjelaskan, luka tersebut diperkirakan membutuhkan dua hingga tiga jahitan. Kebutuhan alat dan obat untuk tindakan juga telah dimasukkan dalam sis­tem Rekam Medis Elektronik (RME) dan dipesan untuk digunakan setelah proses sterilisasi selesai.

“Seluruh kebutuhan alat­ dan obat jahit telah diinput dan dipesan melalui Rekam Medis Elektronik (RME), sehingga siap digunakan setelah proses sterilisasi alat selesai,” jelas Rafky.

Di sisi lain, kondisi IGD R­SAM ketika itu sedang cukup padat. Sejumlah pa­sien rujukan dari rumah sa­kit lain datang dalam wak­tu berdekatan, sementara beberapa pasien lainnya berada dalam kondisi tidak stabil sehingga membutuhkan penanganan lebih cepat.

Rafky juga mengatakan anak tersebut sempat me­nangis karena merasa takut akan menjalani tindakan penjahitan. Kendati de­mi­kian, menurutnya, komunikasi antara tenaga medis dan pihak keluarga pada awal kedatangan pasien berjalan dengan baik.

Namun, setelah me­nunggu beberapa waktu, keluarga akhirnya memilih meninggalkan IGD RSAM dan membawa pasien ke rumah sakit lain untuk memperoleh tindakan medis.

Pihak RSAM menegaskan bahwa pelayanan terhadap pasien tetap dilakukan berdasarkan hasil asesmen dan skala prioritas kegawatdaruratan. Rumah sakit juga memastikan setiap tindakan medis yang dilakukan maupun direncanakan tercatat dalam rekam medis pasien. (pry)